Berita tentang vonis atas nama Adnan Oktar atau lebih tenar di Indonesia dengan nama Harun Yahya (HY) begitu cepat tersebar dan cukup membuat umat Islam terhenyak. Berbagai platform media sosial cukup sibuk membincang kembali sosok yang dikenal dengan perlawanannya terhadap teori evolusi milik Charles Darwin, terutama mereka yang dulu tidak atau kurang suka dengan pemikirannya. Mengapa?

Sebab, citra yang hadir dalam sosok Harun Yahya selama ini kontradiktif dengan berbagai tuduhan yang dialamatkan kepadanya. Dia dihukum atas dakwaan mendirikan dan memimpin organisasi kriminal, spionase politik atau militer, membantu Gülenist Terror Group (FETÖ), pelecehan seksual terhadap anak di bawah umur, pelecehan seksual, dan beberapa perbuatan melawan hukum lainnya.

Namun, yang paling mendapatkan sorotan di kalangan netizen adalah tuduhan geng yang dipimpin Harun Yahya telah terlibat dalam skema rekrutmen sejak akhir 1990-an dan ini melibatkan pencucian otak perempuan muda. Di mana organisasi yang dipimpin oleh HY menggunakan anggotanya yang tampan untuk menipu gadis dan wanita muda. Anggota tersebut memperkosa atau melecehkan wanita secara seksual dan diperas terlebih dahulu oleh anggota yang berpura-pura bahwa perselingkuhan mereka direkam dalam video. Mereka kemudian juga dicuci otak dengan dalih ajaran agama.

Jelas, jika kita mengikuti atau membaca kasus HY ini maka citra yang selama ini beredar luas di sebagian masyarakat akan runtuh seketika. Sebab, sosok HY di masyarakat Indonesia dikenal sebagai orang yang dipercaya dapat melawan “arogansi” atau dominasi Barat atas Islam, lewat sanggahan-sanggahannya atas berbagai teori alam yang dipercaya kebenarannya hingga sekarang.

Terlepas entah benar atau tidaknya pemikirannya, karya-karyanya beredar luas dari perbincangan di warung teh atau kopi hingga ke kampus-kampus. Saya malah mendengar ada dosen berlatarbelakang Sains menjadi pengasong pemikiran atau karya HY di Indonesia.

Saya adalah generasi konsumen pemikiran HY. Dulu kampus saya disesaki kawan-kawan hingga dosen yang terpengaruh kajian-kajian HY. Walau, waktu itu saya masih terlalu polos kayanya menerima pemikiran HY, jadi bukan menolak tapi emang belum sampai “maqam” untuk menerimanya. Yang saya rasakan adalah mengapa pemikiran ini begitu laris dan menjadi sangat diminati banyak orang.

Mungkin, baru akhir-akhir ini saya baru bisa memahami alasan sebagian masyarakat begitu menggemari dan getol atas pemikiran HY. Saya melihat hasil pemikiran HY sebenarnya adalah bagian dari pemenuhan atas mimpi sebagian umat Islam, yakni mengakhiri dominasi Barat dan mengembalikan kejayaan Islam lewat jalur Sains.

Hemat saya, pemikiran pseudo-sains macam HY jadi sangat populer karna menjual mimpi “melawan barat”. Sikap dan pemikiran resistensi atas dominasi Barat dengan berbagai barang jualannya, selalu mendapatkan pelanggan.

Kondisi tersebut didorong karena ada hal yang masih belum selesai dalam imaji kita semua, yakni Islam yang tertindas atau Islam yang terbelakang akibat ulah si “Barat”. Hal yang sama dijual oleh pseudo-otoritas agama yang lagi ramai saat ini di Indonesia. Lihat saja, wacana apa yang sebenarnya dihadirkan oleh mereka adalah Islam sedang berhadapan dengan “musuh-musuh”nya, seperti Asing (Barat) atau Aseng (Tiongkok).

Hal ini kemudian dicampuradukan dengan kondisi Indonesia yang morat-marit akibat ulah oligarki. Padahal, ideologi kapitalisme yang menyebabkan kondisi Indonesia menjadi sakit ini diasosiasikan kepada mereka yang beretnis Tiongkok atau berasal dari Barat. Kesalahpahaman ini kemudian terus menerus diproduksi dan direproduksi untuk memobilisasi massa atas kepentingan mereka sendiri.

Baca juga: Harun Yahya, Dipuja Umat Islam Indonesia, Ditertawakan Para Ilmuwan

Padahal, persoalan utama di sini adalah ideologi yang merusak, apapun namanya, nilai-nilai kemanusiaan. Jadi, mengecap atau menyematkan stigma buruk sebagai penyebab kemunduran Islam pada etnis atau kelompok tertentu, bisa jadi salah sasaran. Sebab, kehadiran Islam menjadi rahmat karena ia menghadirkan kembali nilai-nilai humanis dalam masyarakat dunia.

Pseudo-sains lain yang pernah hadir dan mendapatkan atensi publik, adalah teori bumi datar. Dari wacana tersebut kita bisa melihat bahwa sesuatu yang hadir untuk memperlihatkan “kebohongan” pihak Barat, selalu mendapatkan sebagian masyarakat kita. Wacana perlawanan terhadap sains “Barat” tidak dimulai dari penelitian mendalam atau didasari bukti-bukti ilmiah, namun dibantah dengan data-data yang berbau konspirasi dan pseudo-agama.

Kembali ke soal HY, saya melihat hukuman HY yang mencapai seribu tahun itu sebenarnya hanya untuk perbuatannya yang melanggar hukum. Namun, pemikirannya yg pseudo-sains masih tetap hidup, walau mungkin tak selaku dulu. Dan tetap saja, Harun Yahya dan Umat Islam di Indonesia khususnya jadi bermasalah.

Jadi, ya mungkin sekarang sebagian orang sedang “bertepuktangan” atas divonisnya Harun Yahya yang dulu jadi pujaan sebagaian umat Islam. Namun jangan sampai lupa terhadap persoalan imaji sebagian masyarakat kita yang masih bermasalah. Bersorak bahagia atau menebar ungkapan sarkas atas vonis HY sebenarnya hal yang sia-sia. Sebab, pemikiran macam HY sebenarnya terus bertransformasi untuk mendapatkan pelanggannya, yakni mereka yang masih memiliki imaji keterbelakangan Islam akibat ulah Barat atau Aseng.

Kita boleh saja tidak suka atau setuju atas pemikiran HY, namun menyoraki atau bertepuktangan atas vonis tersebut tidak akan menyelesaikan masalah imaji masyarakat. Sebab, selama kita masih berkutat pada mengambinghitamkan sesuatu atau kelompok lain atas kondisi keterbelakangan Islam, maka impian hadirnya agama sebagai rahmat bagi sekalian alam hanya menjadi mimpi kosong.

 

Fatahallahu alaihi futuh al-arifin