Saya iseng mengetikkan kata kunci “rekomendasi healing” di mesin pencarian Google. Hasilnya menakjubkan.

Di halaman pertama hasil pencarian saya langsung disuguhkan informasi jujugan piknik berlabelkan “Wonderfull Indonesia” yang bukan saja tersebar di seantero bumi pertiwi, tetapi harganya juga sangat tidak wonderfull bagi kelas pekerja dengan UMR Jogja.

Kalau hal itu dituruti sudah tentu akan berbuah masalah. Yang niat awalnya ingin healing bisa jadi malah keburu stres lagi mikirin duit habis. Kalau sedang musim liburan, niat healing itu justru harus terkubur dengan kemacetan atau jubelan orang yang saling berdesakkan.

Saya lalu berpikir bahwa barangkali ada yang tidak beres dengan rekomendasi Google. Atau sebaliknya, jangan-jangan tren healing terlanjur menjadi gaya hidup masyarakat kelas menengah-atas dengan pendapatan puluhan hingga ratusan juta sebulan. Dengan kata lain, orang miskin dilarang healing.

Rupanya, fenomena hilang-hiling itu pernah dibahas secara serius oleh beberapa pakar ilmu sosial-humaniora, baik dari madrasah psikologi maupun linguistik.

Dalam budaya bermedia sosial, kata “healing” telah mengalami pergeseran makna. Kendati secara harfiah bermakna penyembuhan, penggunaan kata “healing” yang dirayakan secara brutal di media sosial justru kerap dilekatkan dengan aktivitas yang seolah-olah serba mahal.

Aktivitas healing, dengan demikian, memiliki nilai jual yang pada gilirannya menopang laju kapitalisme-lanjut.

Meski begitu, di balik populernya kata healing itu ternyata ada aspek politis yang layak untuk dicermati.

Selain alasan prestise agar dianggap keren karena menggunakan bahasa Inggris, penggunaan kata “healing” dalam kehidupan sehari-hari juga dinilai mampu memenuhi kebutuhan ekspresi figuratif, atau bersifat kiasan. Ini menurut profesor linguistik Attila Benő seperti dikutip Billy Nathan Setiawan dalam risetnya.

“Peminjaman kata healing dalam konteks budaya medsos di Indonesia bisa jadi pertanda bahwa masyarakat Indonesia mulai terbuka membicarakan hal-hal terkait kesehatan mental –sesuatu yang selama ini masih tabu dibicarakan,” tulis Billy dalam esai berjudul Jalan-Jalan atau #Healing.

“Mungkin, karena merasa tidak nyaman membicarakan hal-hal yang berhubungan dengan kesehatan mental dalam bahasa Indonesia, pengguna media sosial meminjam kata healing untuk memenuhi kebutuhan ekspresif tersebut,” tambahnya.

Salah Kaprah

Seorang Psikolog dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Galang Lufityanto Ph.D., menyebut adanya salah kaprah tentang konsep healing yang berkembang di masyarakat.

Katanya, konsep healing saat ini kerap dimaknai dengan liburan atau staycation, padahal healing adalah proses penyembuhan diri secara psikologis.

Healing itu proses membuat psikologis kita jadi sehat lagi atau proses menyembuhkan diri secara psikologis,” terangnya, dikutip Tirto.id.

Ada berbagai cara untuk healing. Tidak harus selalu dengan berlibur atau staycation di hotel mahal, healing ternyata bisa diselenggarakan dalam sejumlah cara sederhana tanpa harus pergi jauh dan mengeluarkan banyak biaya.

Salah satu caranya adalah dengan mindfulness. Teknik ini, menurut Galang, adalah dengan melatih fokus untuk memahami diri sendiri. Contohnya bisa dengan relaksasi seperti meditasi maupun mengatur pernapasan.

Selain itu, cara lain yang bisa dilakukan untuk healing adalah dengan journaling. Teknik ini bisa dilakukan dengan cara konvensional seperti menulis jurnal harian. Bisa juga dilakukan dengan journaling estetik seperti doodling, melukis, dan mewarnai.

Journaling bermanfaat dalam mengekspresikan atau mencurahkan tentang apa yang dirasa maupun dipikirkan,” jelas alumnus The University of New South Wales ini.

Membaca-kenali diri sendiri

Syahdan, falsafah healing rupanya juga terdapat dalam tradisi Islam. Tentu saja healing di sini bukan dalam arti menghabiskan uang di waktu luang.

Sebaliknya, syariat healing adalah dengan berfokus untuk mengenali diri sendiri. Itulah kenapa wahyu pertama yang turun kepada Nabi Muhammad SAW adalah iqra, yakni “bacalah”, bukan staycation-lah!!

Dengan membaca-kenali diri sendiri, seseorang bisa jadi lebih bijaksana. “Yesterday, I was clever, so I wanted to change the world. But today, I’m a wise person, so I am changing myself,” kata seorang filsuf Muslim, Jalaluddin Rumi, yang kerap dikutip di acara-acara Tedx Talks.  

Juga, man ‘arafa qalbahu faqad arafa nafsahu, wa man ‘arafa nafsahu faqad arafa rabbahu (barangsiapa mengenali hatinya niscaya dia mengenali dirinya. Dan, siapa saja yang mengenali diri sendiri niscaya dia mengenali Tuhannya).

Ungkapan di atas adalah kalam para ulama yang tentunya bersumber dari nubuat Nabi Muhammad SAW sehingga masyhur dalam tradisi Islam.

Kalau mau ditinjau lebih jauh lagi, khazanah teologi Islam sebetulnya memuat himpunan ayat-ayat healing. Hal ini telah dituliskan secara mendalam oleh Edi AH Iyubenu dalam buku berjudul Terapi Penyembuhan Diri (2023).

Tentu ada ‘harga’ yang harus dibayar. Meski begitu, bentuk transaksi healing dalam Islam tidak melibatkan mata uang. Administrasinya hanya memerlukan kesadaran bahwa tidak ada tuhan selain Tuhan yang Satu. Kepada-Nya semua akan kembali.

Adapun jalan untuk kembali itu pada dasarnya telah di-share-loc oleh utusan-Nya bernama Muhammad SAW. Sama seperti google maps, untuk mengikuti rute yang ada di layar ponsel, pertama-tama orang mesti mengenal-imani dulu terhadap yang memberi shareloc.

Dalam Islam, ejawantah dari shareloc menuju kebahagiaan itu adalah al-Quran yang dengannya Tuhan, melalui Nabi Muhammad, telah memberi petunjuk teramat benderang. Tidak ada keraguan di dalam al-Quran. Dialah sebenar-benarnya petunjuk bagi mereka yang bertakwa.

Memang, problemnya adalah manusia terkadang bermasalah ketika mengikuti aba-aba. Antara petunjuk, intuisi, dan ego bisa jadi tidak padu sehingga menghasilkan keputusan yang keliru.

Video viral sepasang orang dari Klaten yang hendak berlabuh ke Yogyakarta tapi malah nyasar hingga ke Surakarta beberapa waktu lalu barangkali adalah salah satu tamsilnya.

Hal itu menunjukkan bahwa iman terhadap google map saja ternyata belum cukup. Perlu keterampilan tersendiri untuk memahami hamparan petunjuk-petunjuk.

Persis di titik inilah kita perlu mekanisme self-control untuk mendisiplinkan—istilah Freudian—id atau hasrat yang bersemayam di dalam diri manusia.

Dalam Islam, hasrat itu tidak selalu bermankna buruk. Ada juga hasrat yang menggerakkan manusia untuk mengerjakan hal-hal positif. Al-Quran mengenalkan keduanya dengan an-nafs muthmainnah (hasrat progresif) yang beroposisi dengan an-nafs al-lawwamah (hasrat destruktif).

Seni untuk mengelola dua hal yang niscaya membersamai setiap manusia itu secara khsusus tertuang dalam esai berjudul “Nafsu yang Dirahmati” di buku Terapi Penyembuhan Diri.

Intinya, kunci kebahagiaan diri itu tidak perlu dirayakan dengan memancang anggaran yang masyaAllah laiknya dominasi kaum healing arus utama. Ia juga tidak melulu bicara tentang yang prestise.

Terapi penyembuhan diri terbaik, pertama-tama, adalah dengan kembali menyapa-kenali diri sendiri dan menginsyafi bahwa kondisi senang-sedih, suka-duka, jatuh-bangun, jongkok-berdiri, dan sebagainya adalah kesementaraan yang terikat dengan ruang dan waktu.

“Semakin Anda memangkas durasi marah, kesal, sedih, wa akhwatuha, maka durasi Anda tak bahagia juga akan semakin pendek. Demikian sebaliknya,” kata salah satu guru spiritual saya, Kiai Edi Mulyono a.k.a AH Iyubenu.

#Tulisan ini dibuat sambil dengerin playlist lagu Nyanyian Jiwa

 

Data Buku

Judul      : Terapi Penyembuhan Diri

Penulis   : Edi AH Iyubenu

Penerbit : Diva Press / 2023

Bisa dibeli di Sini