Pagi itu, entah karena saking jengkelnya atau saking penasarannya,  baginda Raja ingin menjahili Abu Nawas. Pengawal istana disuruh menjemput Abu Nawas. Ada hal penting yang mau dibicarakan.

Tak lama berselang Abu Nawas nongol di depan kamar raja. Dari raut mukanya jelas kelihatan ia baru bangun tidur.

“Abu Nawas!, aku ingin kau bisa memenjarakan angin, apabila gagal kau akan aku hukum, tapi bila berhasil apapun yang kau minta akan aku berikan, apakah kau sanggup?” tanya raja.

“Itu soal gampang, Tuanku” jawab Abu Nawas, dalam keadaan menguap.

“Aku beri kau waktu selama tiga jam!” ucap Raja.

Abu Nawas sadar bahwa baru saja ia menyanggupi tantangan raja soal memenjarakan angin. Sebelum berpikir keras, ia memegang perut dan langsung menuju ke kamar mandi.

Abu Nawas tahu, ia hanya punya waktu tiga jam. sambil berak, ia berpikir keras bagaimana cara memenjarakan angin. Belum lama berpikir ia rasakan perutnya tambah mules dan sakit. Bunyi yang keluar menyertai tinja menandakan ia sedang mencret. Tak dirasa sudah dua jam ia bolak-balik ke kamar mandi.

Setelah rasanya sudah plong dan agak enakan. Ia tersenyum sumringah. Pertanda ide brilian sudah didapat. Ia berjalan menuju pinggir istana mencari aneka macam tanaman yang baunya tidak sedap. Ia kumpulkan daun-daun yang muda lalu ia makan sampai benar-benar kenyang.

Waktu kurang setengah jam. Abu Nawas sengaja berlari kencang menuju pintu istana sampai ngos-ngosan. Melihat pintu istana sudah lumayan dekat, ia menuju tempat sampah mencari botol bekas.

Setelah sampai di pintu gerbang. Ia bersembunyi di balik tiang lalu membuka tutup botol bekas. Ia kembali tersenyum gembira  ketika ide brilian pasca berak tadi pagi kelihatannya akan berhasil. Ia turunkan celananya lalu kentut, disaat yang bersamaan botol bekas ia arahkan pada lubang dubur. Sambil berdiri Ia menutup botol tersebut.

Waktu semakin menyempit, Abu Nawas berlari menuju kamar raja dan membuka pintunya. “Sudahkah engkau mampu memenjarakan angin Abu Nawas?” tanya raja ketika sufi itu membuka pintu.

“Ini anginnya ada dalam botol Tuanku,” jawabnya, sambil menyodorkan botol.

“Aku tidak melihat apa-apa di dalam botol ini, Abu Nawas?”

“Memang angin tidak bisa dilihat Tuanku, tetapi jika Tuanku ingin tahu angin, tutup botol itu harus dibuka” jawabnya.

Raja bergegas memutar tutup botol dan mulai mengendus.

“Bau busuk apa ini Abu Nawas?” tanya raja sambil marah.

“Tadi saya buang angin di dalam botol itu Tuanku, karena takut angin yang saya buang itu keluar maka saya penjarakan di dalam botol,” jawabnya.

Penjelasan Abu Nawas yang masuk akal tidak jadi membuat raja marah. “Sesuai janjiku, apapun permintaan mu akan aku berikan,” tambah raja,”Saya tidak minta apa-apa tuanku, saya hanya minta dalam dua minggu kedepan  tidak di panggil menghadap tuanku karena saya pengen istirahat, dilihat dari tinja yang keluar tadi pagi, sepertinya saya sedang mencret tuanku”.

Mendengar permintaan itu, raut muka raja sedikit agak aneh, terlihat ia jijik memegang botol bekas itu dan pengen muntah.

Sambil berjalan keluar kamar Abu Nawas menoleh kepada Raja,”Oiya, Tuanku, mohon botol bekas itu jangan disimpan, karena tadi saya mengambil dari  tempat sampah dekat pintu gerbang.”

Kisah ini terdapat dalam buku “Kisah 1001 Malam Abu Nawas Sang Penggeli Hati” karangan MB Rahimsyah terbitan Lintas Media Jombang Jawa timur.