Tak terasa, kita sudah memasuki hari-hari terakhir di Bulan Ramadhan. Dari awal, saya tak menyangka bahwa ibadah puasa bisa menjadi sangat berbeda di tahun ini. Tidak hanya karena dilaksanakan ketika pandemi mewabah, tetapi juga untuk pertama kalinya saya menghabiskannya di negeri kinanah, Mesir. Selain dari segi waktu yang jauh berbeda, budaya warga Mesir pun tak kalah menarik untuk diamati.

Saat pertama kali saya datang di negeri ini, salah satu kakak kelas saya menceritakan bagaimana indahnya melaksanakan ibadah puasa di sini. Tahun lalu ia bercerita, betapa nikmatnya suasana Ramadan nan syahdu di Alexandria: dari suasana masjid yang berbeda, hingga majelis ilmu yang hanya diadakan khusus ketika bulan Ramadhan saja.

Selain di bulan Ramadhan, Mesir sendiri sudah terkenal dengan banyaknya majlis ilmu di mana-mana, bisa diibaratkan jika ada tiang, maka akan ada guru yang akan mengajari ilmunya tanpa dipungut biaya sepeser pun. Pada bulan Ramadhan surga penuntut ilmu itu seakan di tingkat paling puncak.

Salah satu tempat yang terkenal akan majelis khusus pada bulan Ramadhan adalah kota Alexandria. Tidak hanya terkenal dengan majelis ilmunya, kota ini juga terkenal dengan perpustakaan yang kaya akan buku-buku ulama terdahulu. Bagaikan Mekah al-Mukarromah sebagai kota utama dan Madinah al-Munawwarah sebagai kota tersuci kedua setelah mekkah, begitulah perbandingan Kairo dan Alexandria.

Kegiatan majelis ilmu di Alexandria biasanya dua minggu dalam sebulan, tapi khusus untuk bulan Ramadhan majelis ilmu diadakan selama sebulan penuh, dengan kegiatan yang sudah terjadwal setiap harinya. Menurut kakak kelas saya yang sudah mengikuti majlis tersebut, berbagai buku akan diajarkan, dari Sirah Nabawiyah, hingga kisah sahabat-sahabat nabi. Hal itu biasanya berlangsung dari setelah Dzuhur sampai Ashar atau pun Maghrib, bahkan terkadang berlanjut setelah Terawih hingga lanjut Tahajud. Kegiatan ini dibimbing langsung oleh Maulana Syeikh Ala’ Mustofa Nai’mah, salah satu ulama besar di Alexandria.

Untuk kegiatan mingguan, ada hadrah yang diadakan pada setiap hari Selasa malam Rabu, yaitu shalawat bersama dengan Syeikh ‘Abdussalam ‘Ali Syita, yang juga termasuk salah satu ulama terpandang di Alexandria. Lalu juga ada ziarah makam ulama’ di kota tersebut, seperti pengarang kitab Burdah (kitab berisi kumpulan shalawat kepada Nabi Muhammad SAW), Imam al-Busiri dan lain-lain. Kegiatan ini dilaksanakan setelah shalat Jum’at. Terakhir, ada dzikir bersama dan shalat tasbih di setiap hari Jum’at malam Sabtu. Sungguh, semua ini adalah kenikmatan tersendiri bagi para penuntut ilmu.

Biasanya, masjid-masjid besar di negeri ini akan sesak oleh para muslim yang sengaja bermalam di masjid, terkhusus sepuluh hari menjelang Idul Fitri. Sang imam masjid membaca satu juz setiap tarawih. Jadi ketika malam terakhir Ramadhan, bacaannya menjadi genap tiga puluh juz. Tak hanya itu saja yang menjadikannya syahdu, dari makanan sahur hingga berbuka pun kita tidak perlu mengeluarkan uang sepeser pun. Sebab, di setiap majlis ilmu, atau masjid, mereka akan membagikan makanan secara cuma-cuma pada saat sahur dan buka.

Pembagian makanan di bulan Ramadhan ini disebut juga ma’idah rohman atau hidangan kasih sayang, dengan cuma-cuma para dermawan membagikan makanan. Mereka menyediakan meja dan kursi di depan rumah mereka untuk dibagikan kepada para penuntut ilmu, atau pun orang-orang yang membutuhkan. Makanannya pun tak tanggung-tanggung, mungkin bagi rekan saya, satu porsi bisa untuk berdua, karena makanannya cukup banyak, dari kurma, roti ish (makanan pokok orang mesir), lauk-pauk, dan susu.

Cobaan bagi kami umat muslim yang berpuasa di sini adalah ketika Ramadhan bertepatan dengan musim kemarau, yang siangnya lebih lama dari pada jam malam. Muslim di sini pun harus bersabar dengan teriknya panas matahari yang menyinari negeri ini, dengan rata-rata suhu musim panas dari 20 hingga 40 derajat.

Adanya pandemi ini, menjadikan bulan puasa yang saya bayangkan tidak terealisasi. Tak ada kegiatan istimewa atau suasana baru dalam bulan Ramadhan kali ini. Banyak majelis-majelis ilmu yang diganti pelaksanaannya menjadi via-online. Rasanya sungguh berbeda ketika saya berhadapan langsung dengan para syekh yang membagi ilmunya tersebut. Walaupun demikian, tak menyurutkan kami sebagai para penimba ilmu di negeri ini untuk belajar.

Beda majelis ilmu, beda juga masalah kuliah. Ujian kenaikan tingkat di Universitas Al-Azhar yang awalnya terdiri dari ujian tulis dan ujian lisan pun diganti menjadi penulisan karya tulis ilmiah. Ini menjadi cobaan tersendiri bagi mahasiswa asing yang harus menulis karya tulis ilmiah dalam bahasa Arab. Belum lagi jika ada mahasiswa yang tidak membawa laptop dari tanah air dan harus bergantian untuk mengerjakan karya tulis tersebut di laptop temannya. Selain untuk melatih bahasa Arab kita dalam karya tulis, hal ini rupanya juga memperkuat ukhuwah islamiyah kita sebagai perantau di negeri kinanah.

Tak hanya itu, semua masjid di sini ditutup sejak awal Ramadhan. Muslim di negeri ini dianjurkan melaksanakan shalat berjama’ah di rumah. Kami pun tidak dapat merasakan kenikmatan sensasi masjid sesak dengan jama’ah dari berbagai negara dan menghasilkan kenalan-kenalan baru sepulang dari masjid. Meski begitu, untuk urusan mai’dah rohman ternyata masih tetap berlaku. Bedanya, sekarang para dermawan tetap membagikan apa yang mereka miliki dengan membagikan sembako, uang maupun makanan yang sudah siap santap ke tiap-tiap rumah. Bantuan bahan makanan juga datang dari KBRI Kairo, sehingga kami pelajar Indonesia di sini tak pernah risau perihal makanan saat sahur maupun berbuka. (AN)

Wallahu a’lam.