Tragedi penusukan seorang tokoh Islam sebenarnya pernah terjadi pada masa awal Islam sepeninggal Rasulullah SAW. Peristiwa tersebut menjadi awal sejarah penusukan tokoh Islam yang selanjutnya juga menimpa para tokoh Islam yang lain.

Pada masa Rasul SAW, walaupun Islam mengalami pasang surut, masih belum terjadi penusukan kepada tokoh Islam. Usaha pembunuhan kepada Nabi yang direncanakan oleh kaum Quraisy Mekkah pun urung terjadi. Nabi malah berhasil hijrah ke Madinah dan lepas dari ancaman kaum Quraisy.

Pada masa penggantinya, Khalifah pertama Abu Bakar as-Shiddiq juga masih memiliki nasib yang baik. Walaupun pada masanya, ia harus menghadapi beberapa pemberontakan. Selain menghadapi pemberontak yang urung bayar zakat, pemerintahan Abu Bakar juga menghadapi gelombang pasang munculnya para nabi palsu. Musailamah al-Kadzab adalah sosok salah satunya.

Kepemimpinan Abu Bakar sebagai pengganti Rasul dalam memimpin negara berakhir karena Abu Bakar meninggal dunia. Sebab meninggalnya Abu Bakar pun bukan karena dibunuh, melainkan karena sakit parah. Abu Bakar kemudian memberikan tampuk kekuasaannya kepada Umar. Putra Khattab ini pun akhirnya menjadi pengganti Abu Bakar.

Pada masa Umar, invasi berjalan dengan baik. Pemerintahan Umar membentang dari Jazirah Arab sampai tanah Persia. Umar sangat dielu-elukan sebagai pengganti Abu Bakar yang berhasil meluaskan daerah pemerintahan. Namun hal itu tidak bisa menjadi jaminan akhir hayatnya. Umar meninggal dunia karena ditusuk dari belakang saat mengimami shalat oleh seorang budak milik Mughirah bin Syu’bah bernama Abu Lu’lu’ah. Ia adalah seorang majusi, sebagaimana penuturan Ibnu Abbas.

Peristiwa penusukan Umar ini menjadi tragedi pertama pembunuhan tokoh Islam awal. Sebelum Umar, hingga masa Nabi, sama sekali tidak ditemukan kejadian serupa. Motif penusukan Abu Lu’lu’ah pun terbilang cukup mencengangkan.

Dalam riwayat Abu Rafi disebutkan bahwa beberapa hari sebelumnya Abu Lu’luah menghadap Umar bin Khattab untuk mengadukan tuannya yang dianggap sangat memberatkannya. Abu Lu’lu’ah bekerja dengan penggilingan tangan. Namun Mughirah mengambil uang sebanyak 4 dirham dari hasil pekerjaannya itu. Mughirah merasa berhak menerimanya karena Abu Lu’lu’ah adalah budaknya.

Keberatan Abu Lu’lu’ah atas tuannya tersebut lah yang diadukan kepada Umar. Ia meminta Umar menasehati Mughirah agar tidak semena-mena lagi. Karena Mughirah tidak ada di tempatnya, Umar pun terlebih dahulu menasehati Abu Lu’luah agar sementara mengikuti perintah tuannya. Nanti jika ada kesempatan, Umar akan menasehati tuannya.

Namun Abu Lu’lu’ah tak puas. Ia dendam dan sakit hati dengan Umar. Setiap hari ia mengasah belatinya. Ia telah merencanakan waktu yang tepat untuk membalas sakit hatinya. Ajal itu pun terjadi. Umar ditusuk Abu Lu’luah berkali-kali saat pengamanan lengah, yaitu saat mengimami shalat Subuh. Abu Lu’lu’ah berhasil ditangkap dan dijatuhi hukuman setimpal.

Pembunuhan Umar ini juga menjadi salah satu contoh sejarah bahwa tidak semua tokoh Islam dibunuh karena agama. Abu Lu’luah ini misalnya, motifnya membunuh Umar karena sakit hati aduannya dianggap tidak diperhatikan oleh Umar.

Tragedi Umar ini adalah tragedi permulaan. Selanjutnya, nasib yang sama juga dialami oleh Utsman bin Affan. Peristiwa pembunuhan Utsman ini lah yang kelak menjadi motif perang sektarian dan perpecahan antar muslim, yang berujung pada peristiwa tahkim dan pembunuhan Ali bin Abi Thalib. (AN)

Wallahu a’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here