Selain kuat iman dan mengabdikan hidupnya untuk memperjuangkan agama Islam, beberapa sahabat Rasulullah Saw punya kisah unik dan lucu, salah satunya adalah sahabat Handholah.

Pengumuman perang Uhud telah tersebar, panglima pasukan muslim mengatur siasat bagaimana menaklukkan musuh di pegunungan  yang terkenal mempunyai medan yang sulit dan menantang. Di namai perang Uhud lantaran di gunung inilah pertempuran antara serdadu muslim melawan pasukan musuh pimpinan Khalid bin Walid berkecamuk.

Barisan pasukan sudah siap. Berbanjar, tertata rapi dari depan hingga belakang. Sesaat sebelum keberangkatan, salah satu sahabat bernama Handholah berlari dan langsung bergabung dengan barisan.

“Tumben kau telat Handholah, biasanya letak barisanmu berada di paling depan?” tanya sahabat di sampingnya.

“Semalam aku bersenggama dengan istriku sehingga bangun agak kesiangan,” jawab Handholah sambil merapikan baju perangnya.

Pasukan muslim melakukan pacak baris dan gladi bersih terlebih dahulu lalu berangkat menuju gunung Uhud. Perangpun tak dapat terhindarkan.

Di tengah medan pertempuran beberapa serdadu pasukan muslim gugur dan syahid, termasuk sahabat Handholah. Rasulullah Saw memeriksa keadaan pasukannya setelah perang selesai. Saat itu juga dua malaikat turun menghadap.

“Ya Rasulullah, seluruh serdadu muslim yang gugur di medan perang telah kami masukkan ke surga kecuali satu orang yang belum,” kata Malaikat.

“Loh, siapa?” tanya Rasulullah Saw.

“Handholah ya Rasulullah Saw,” jawab Malaikat

“Lha kenapa, bukankah orang yang syahid di peperangan langsung dimasukkan ke surga tanpa hisab,” tanya Rasulullah Saw

“Entah ya Rasulullah, kami harus memandikannya dulu sebelum bisa masuk ke surga,” jawab Malaikat

Rasulullah Saw sedikit heran mendengar jawaban malaikat. Bergegas ia pergi ke rumah istri Handholah dan menceritakan kejadian aneh yang dialami almarhum suaminya. Istri Handholah membeberkan bahwa sebelum berangkat perang suamiku mennggauliku sehingga lupa tidak mandi besar, dia tidak ingin ketinggalan membela agama yang engkau ajarkan wahai Rasulullah.

Mendengar penuturan mantan Istri Handholah, Rasulullah Saw sedikit tersenyum meskipun beberapa serdadu muslim gugur dan syahid. Rasulullah Saw bangga dengan kesungguhan Handholah yang tidak mau telat untuk berjuang di jalan Allah SWT.

Kisah ini diceritakan pada saat ngaji kitab Nashoihul Ibad bagian 1-3 bab 3 Oleh KH Baha’uddin Nursalim.