Dalam bahasa Indonesia, kita mengenal beberapa kosa kata untuk menyebut atau mengistilahkan kematian. Misalnya, mati, maut, wafat, meninggal dunia, wafat, gugur, mangkat, dan tewas.

Isitilah yang berbeda-beda ini biasanya digunakan untuk obyek yang berbeda pula. Misalnya, gugur untuk para pahlawan; meninggal dunia untuk orang biasa; sedangkan tewas untuk para teroris.

Keragaman ini sebenarnya juga telah disebutkan Al-Qur’an sejak 1400an tahun yang lalu. Bahkan tiga di antaranya telah diserap ke dalam bahasa Indonesia, sebagaimana kita kenal sekarang, yaitu mati, wafat, dan ajal.

Disebutkannya tiga kata ini dalam Al-Qur’an mengandung makna yang berbeda. Hal ini dilandasi fakta bahwa Al-Qur’an adalah kalam ilahi yang tidak mungkin “disusun” secara kebetulan. Terdapat rahasia yang luar biasa dalam setiap kata yang digunakan di dalamnya.

Berikut perbedaan ketiga kata ini, sebagaimana ditulis M. Quraish Shihab dalam buku Islam yang Saya Anut (141-149).

Mati

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Setiap jiwa akan merasakan kematian. Kesempurnaan ganjaran amal-amal kamu di hari kiamat nanti”  (QS. Ali Imran [3]: 185)

Maut adalah bentuk isim mashdar (kata jadian) dari kata mata (dalam bahasa Indoesia, “mati”). Kata ini, menurut Imam ar-Ramli dalam Nihayat al-Muhtaj, bermakna “Terpisahnya ruh dari jasad”.

Ketika jasad manusia telah ditinggal ruh, maka ia tidak lagi bisa berbuat apa-apa. Jasad tanpa ruh itu disebut Roma Irama dalam lagunya dengan istilah “Sebujur Bangkai”. Iya, manusia tanpa ruh sama halnya dengan bangkai.

Hal ini menunjukkan betapa pentingnnya ruh bagi manusia. Di dunia, ruh itulah yang menggerakkan jasad. Sedangkan di akhirat kelak, ruh itu pulalah yang akan mempertanggungjawabkan amal perbuatan ketika di dunia. Sehingga, manusia hendaknya lebih memperhatikan ruh daripada jasad.

Wafat

تَوَفَّنِي مُسْلِمًا وَأَلْحِقْنِي بِالصَّالِحِينَ

“Wafatkanlah aku sebagai muslim dan gabungkanlah aku bersama kelompok orang-orang saleh” (QS. Yusuf [12]: 101)

Kata ini berarti sempurna. Ketika manusia wafat, maka sebenarnya ia telah berada pada fase kesempurnaan. Sebaliknya, ketika masih hidup, manusia belum sempurna dan karenanya, masih bisa berubah.

Seburuk apapun perbuatan manusia, tidak bisa kita klaim sebagai ahli neraka. Mengapa? Masih ada kesempatan baginya untuk bertaubat. Begitu juga ketika seseorang berbuat baik. Tidak pantas ia bersombong karena ia masih belum aman. Bisa jadi di kemudian hari ia berubah menjadi orang yang jahat.

Juga, pesan lain yang terdapat dalam penggunaan kata “wafat” ini adalah balasan yang sempurna adalah kelak ketika manusia telah wafat/mati.

Bila di dunia, seseorang belum mendapat balasan sempurna (setimpal) atas kebaikan yang dikerjakan, maka hendaknya ia tidak berputus asa dan tetap berbuat baik. Mengapa? Balasan yang sempurna akan diberikan di akhirat.

Sebaliknya, hendaknya seseorang tidak merasa aman manakala perbuatan buruknnya tidak mendapat balasan, atau mendapat balasan namun tidak tidak setimpal. Siksa yang sempurna akan diberikan di akhirat. Yang mana pintu masuk menuju akhirat adalah dengan wafat.

Ajal

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Setiap jiwa akan merasakan kematian. Kesempurnaan ganjaran amal-amal kamu di hari kiamat nanti” (QS. Ali Imran [3]: 185).

Secara bahasa, kata ini berarti “batas akhir masa sesuatu”, atau secara mudah kita bisa menamainya dengan “jatuh tempo”. Iya, ajal adalah jatuh tempo seseorang harus kembali kepadaNya.

Ketika ajal telah tiba, maka seseorang tidak lagi bisa menghindar. Pun jika ajal belum saatnya tiba, ia tak akan dapat diundang.

Begitu banyak orang yang terlihat sehat-sehat saja namun tiba-tiba meninggal dunia, entah karena kecelakaan atau sebab lainnya. Begitu juga dengan mereka yang terbaring sekian lama karena sakit parah namun tetap hidup, bahkan bisa sehat seperti sedia kala.

Karena sifatnya yang serba mendadak, maka sebagai seorang muslim hendaknya kita mempersiapkan diri untuk “jatuh tempo” itu. Kematian tidak dapat dipinta, namun ketika ia sudah tiba, kita sama sekali tak memiliki kekuatan untuk mundur. Wallahu a’lam.

 

Sumber:

Ar-Ramli, Syamsuddin. Nihayat al-Muhtaj. Beirut: Dar al-Fikr, 1984.

Shihab, M. Quraish. Kematian Adalah Nikmat. Tangerang: Lentera Hati, 2018.