Kabar duka kembali menyelemuti umat Islam Indonesia. KH. R. Muhammad Najib bin KH. Abdul Qadir bin KH. Munawwir meninggal dunia sore hari tadi, Senin, 4 Januari 2021. Beliau merupakan salah satu ulama Al-Qur’an tanah air yang terkemuka dan menjadi pengasuh Pondok Pesantren Al-Munawwir, Krapyak, Yogyakarta.

Sebagai seorang ulama, tentu petuahnya menjadi penyejuk hati para murid, jama’ah, serta masyarakat luas. Berikut adalah petuah-petuah beliau untuk para penghafal Al-Qur’an yang seperti tertuang dari akun resmi Instagram pesantren al-Munawir, @almunawwir_com.

#1 Wajib Berakhlak Al-Qur’an.

Nasihat ini merupakan kalimat yang agak panjang, di mana salah satu bagiannya adalah “Nah para santri, nanti jika kalian sudah menjadi ahlul qur’an yang digelari sebagai ahlullah wa khassatuh (keluarga Allah dan orang-orang istimewa bagiNya), harus baik tingkah lakunya, akhlaknya harus disesuaikan, selara dengan apa yang dijaga…”

Terbaca dengan jelas beliau menegaskan agar apa yang dikerjakan oleh mereka yang sudah hafal (atau sedang menghafal) Al-Qur’an harus sesuai dengan apa yang dibacanya. Sebagai keluarga Allah, memiliki akhlak yang disenangi Allah adalah hal wajib. Dan akhlak itu semua bermuara kepada Al-Qur’an.

#2 Jangan Suka Menyepelekan

Nasihat ini juga terdapat dalam suatu kalimat yang agak panjang. Salah satu bagiannya adalah, “Berapapun yang didapat tetap harus dijaga. Jangan sampai menyepelekan, hanya dapat satu atau dua juz, kemudian dilalaikan. Jangan sampai begitu…”

Sebagai seorang penghafal Al-Qur’an kadang ada perasaan menyepelekan. Lewat petuah ini, beliau mengajak agar sifat menyepelekan itu dihilangkan. Dari sini juga bisa dipahami bahwa menghafal Al-Qur’an harus bersabar melewati tahapan-tahapannya, di antaranya adalah menghafal sedikit demi sedikit.

#3 Jaminan bagi Penghafal Al-Qur’an

Beliau memberi nasihat agar para penghafal Al-Qur’an memiliki rasa optimis dengan masa depannya. Beliau memberi petuah, “Menikah, kalau mempeng (rajin) tadarus ya nanti dapat. Kalau istiqamah nderes, besok ya dapat istri yang cantik.  Pokoknya harus sibukkan waktumu dengan Al-Qur’an, meski tidak sempat meminta, ya bakal dikasih. Insyaallah”.

Memang obyek pembicaraan beliau tentang pernikahan, namun agaknya tidak salah jika hal ini dipahami secara umum. Apa yang disampaikan ini selaras dengan sabda Nabi Muhammad Saw:

“Allah berfirman, “Siapa yang disibukkan oleh Al-Qur’an daripada berzikir kepadaKu dan memohon kepadaKu, maka Aku berikan kepadanya sesuatu yang lebih utama daripada yang aku berikan kepada orang-orang yang memohon kepadaKu dan keutamaan kalam Allah di atas seluruh perkataan adalah seumpama keutamaan Allah atas makhlukNya” (HR. Tirmidzi)

#4 Di bulan Ramadhan Harus Lebih Rajin

Kalimat yang digunakan beliau adalah, “Di bulan Ramadhan ini, porsi nderesnya diperbanyak dan harus lebih rajin dari bulan-bulan lainnya….”

Dari kalimat yang digunakan, agaknya terasa bahwa obyek kalimat ini adalah dialamatkan kepada santri Krapyak. Meski begitu,  tidak ada salahnya jika diamalkan oleh semua santri/orang, lebih-lebih yang sedang menghafal Al-Qur’an. Hal ini agaknya karena selain Ramadhan adalah bulan di mana Al-Qur’an diturunkan, juga adalah ibadah yang dilakukan di bulan Ramadhan akan berlipat pahalanya.

#5 Selalu Membaca Al-Qur’an

Beliau berkata, “Salah satu bentuk maksiat lisan yakni jika sudah diberi anugerah berupa Al-Qur’an, tapi tidak digunakan untuk nderes”.

Menurut penulis, apa yang didawuhkan oleh mendiang itu menjadi inti dari segala inti dari menghafal Al-Qur’an. Seorang penghafal (atau yang sudah hafal) yang tidak mau membaca dan mengulang-ulang apa yang telah dihafalnya pasti lama-kelamaan akan berkurang kualitas hafalannya, bahkan bisa jadi lupa sama sekali. Na’udzubillah.

Begitu juga sebaliknya, mereka yang tidak lancar (mutqin) hafalannya, namun rajin dan selalu membaca/mengulang-ulangnya, pasti juga di kemudian hari akan lancar/mutqin. Jika ternyata belum/tidak lancer, maka setidaknya dia sudah berusaha sekuat tenaga untuk menjaga hafalannya. Dan Allah pasti tidak akan tetap menghargai usahanya.

Dari sini juga dapat diambil pelajaran, bahwa cara bersyukur seorang yang sudah hafal Al-Qur’an adalah dengan cara membacanya. Sehingga, mereka yang tidak mau membaca hafalannya, bisa dikatakan orang yang mengkufuri nikmat, yang dalam bahasa beliau disebut “maksiat”.

Selamat jalan, Kiai. Semoga Allah menempatkan panjenengan pada tempat mulia di sisiNya. Dan, semoga kami bisa meneruskan perjuangan dan meneladani sikap serta petuah-petuahmu. Untuk beliau, KH. Muhammad Najib, Lahu Al-Fatihah…