Perkembangan ilmu kedokteran di Indonesia tidak lepas dari dampak kolonialisme bangsa Eropa, khususnya bangsa Belanda. Ilmu kedokteran dengan perspektif Eropa yang dipandang lebih modern, diperkenalkan di Indonesia melalui propaganda penguasa kolonial.

Jauh sebelum kolonialisme terjadi di Indonesia, masyarakat pribumi dikenal gemar berobat secara mandiri menggunakan obat-obatan herbal yang populer di lingkungan mereka. Obat yang mereka pakai juga didapat lewat pertukaran dan transaksi dari beragam etnik dan suku di pusat-pusat perdagangan, seperti pelabuhan, kota atau pusat keraton. Mengingat beberapa daerah pesisir sudah sangat kosmopolit sebelum era kolonial, masyarakat pun sudah mengenal penggunaan obat herbal dari pedagang Cina maupun Arab.

Pasca ekspansi kolonial Belanda, beragam program dilakukan oleh pemerintah guna menegaskan kekuasaannya di Nusantara. Dalam perkembangannya, mulai muncul dorongan untuk memerhatikan kesehatan warga bumiputera.

Penguasa Hindia Belanda memandang perhatian tersebut sebagai langkah pencegahan epidemi yang dapat berimbas pada tingginya angka kematian masyarakat, memengaruhi sistem kerja, serta membahayakan nyawa pejabat kolonial. Karena konteks kebutuhan penguasa itu, dan belakangan di akhir abad ke-19 muncul gagasan ‘Politik Etis’, dibentuklah Jawatan Kesehatan yang berperan dalam usaha-usaha kesehatan masyarakat.

Pertanggungjawaban jawatan ini selain mengurusi pelayanan medis, juga melakukan propaganda higienitas dan hidup bersih sehat; pengenalan metode persalinan atau pembedahan yang lebih aman; serta melakukan pendidikan tenaga kesehatan “modern” dan “berwawasan Eropa”.

Mulanya kolonial Hindia Belanda melalui para dokter memperkenalkan obat-obatan modern sebagaimana mereka pelajari dalam pedoman belajar mereka. Ditinjau dari sudut pandang kolonial, mereka meyakini terapi dan materi yang mereka perkenalkan dan impor ini lebih mutakhir dan teruji klinis. Namun di sisi lain, ongkos perawatan penyakit semacam itu cukup besar dan tidak efisien, serta warga pribumi belum bersimpati dan menerimanya penuh prasangka. Demikian dicatat dalam buku Gelanggang Riset Kedokteran di Bumi Indonesia: Jurnal Kedokteran Hindia-Belanda 1852-1942.

Selain itu, kolonial memandang bahwa warga bumiputera memiliki problem dalam perkara hygiene, khususnya pada kebersihan diri dan lingkungan, tindakan medis rentan infeksi seperti perawatan luka, persalinan, khitan maupun bedah-bedah minor lain, serta beragam penyakit kulit yang parah. Guna mensukseskan peningkatan kesehatan dan kebersihan publik, Jawatan Kesehatan kolonial membentuk satuan “propaganda” kebersihan dan higienitas masyarakat yang dibentuk kurun tahun 1925, disebut departemen “Propaganda Higiene-Medis”.

Salah satu masalah kebersihan lingkungan yang mendapat sorotan kolonial karena cukup signifikan pada kondisi masyarakat adalah kualitas air di masjid. Dokter bumiputera yang melaporkan perihal ini dalam jurnal kedokteran Hindia Belanda Geneeskundig Tijdschrift voor Nederlandsch-Indië (GTNI) adalah seorang dokter Hindia, Raden Soeparno, beserta asisten laboratoriumnya yang bernama Soewardiman. Pada masa lampau, masyarakat masih kerap bergantung dengan peranan masjid sebagai tempat aktivitas keseharian yang meniscayakan air yang terkontaminasi. Kerap juga ditemui bahwa aliran air yang digunakan di masjid, tidak jauh dengan lokasi sungai yang digunakan mandi, cuci maupun kakus. Hal ini meningkatkan angka kejadian penyakit, salah satunya kasus kolera yang menelan banyak korban.

Pemerintah kolonial, berikut juga para dokter bumiputera hasil didikan institusi kedokteran mereka, menyadari bahwa dalam usaha propaganda kesehatan, mendekati masyarakat perlu menggunakan perangkat agama. Mengingat mayoritas masyarakat beragama Islam dan sasaran kerjanya adalah masjid, isu Islam dipandang signifikan untuk digunakan sebagai perangkat propaganda nilai-nilai kebersihan di masa itu.

Beragam aspek higiene sebagai bagian dari pencegahan penyakit secara panjang lebar dibahas oleh Ahmad Ramali, melalui risalahnya di jurnal GTNI yang berjudul Medisch-hygiënische propaganda in een Islamietische streek. Redaktur jurnal kedokteran paling kesohor di Hindia Belanda masa itu, meyakini pentingnya pembahasan isu tersebut. Ramali mendukung argumennya dengan kutipan-kutipan dari Al-Quran, hadis, dan dalil lainnya.

“Dan jika sejak sekarang Islam dan higiene beriringan, dan jika tiap dokter di suatu wilayah Islam mencurahkan lebih banyak perhatian pada agama yang dianut masyarakat tempat ia bekerja maka konstruksi “pendidikan kesehatan bagi muslim-Indonesia” berdasarkan banyak teks suci dalam Quran dan hadis sangat mungkin di masa mendatang.”

Sebagai bagian dari propagandis medis Hindia Belanda, Ramali menyimpulkan bahwa agama Islam secara inheren menawarkan landasan kuat untuk propaganda program-program kesehatan Hindia Belanda; dan ajaran Islam sudah memuat “separuh langkah” yang selanjutnya bisa dimanfaatkan para propagandis atau penguasa.

Ramali memandang bahwa sebenarnya pemanfaatan doktrin Islam ini adalah hal sederhana, tapi bisa sangat signifikan di masyarakat. Semisal, pendekatan propaganda itu bisa dilakukan pada aspek ajaran sunat/khitan. Ia menyebutkan, hendaknya para dokter Barat (atau dididik oleh Barat) mampu melakukan sunat, sebagai pendekatan yang berguna sekali bagi propaganda pengobatan modern Barat di masyarakat, khususnya kalangan muslim.

Bahkan, demi suksesnya propaganda higienitas medis dan lingkungan itu, ketika melakukan sunat dokter Barat juga perlu mengikuti ritual muslim, termasuk mengucapkan bismillahirrahmanirrahiim, saat memulai tindakannya. Dengan demikian, masyarakat akan meletakkan respek pada keilmuan medis yang dipropagandakan kolonial.

Demikian bahwa pada satu masa kolonial, penguasa Hindia Belanda melirik ajaran Islam sebagai perangkat propaganda higienitas masyarakat dan medis yang efektif. Terlepas dari resistensi yang terus terjadi di kalangan warga bumiputera pada zaman itu, seiring kian banyaknya dokter-dokter pribumi, ilmu kedokteran modern mulai diperhatikan dan turut mempercepat  perkembangan pelayanan dan peningkatan derajat kesehatan di Indonesia. Apakah sejarah itu relevan pula untuk dicermati di masa kini? (AN)