Meski dikecam banyak pihak, pemimpin Israel, Benyamin Netanyahu ngotot ingin mencaplok Tepi Barat yang telah diduduki selama berbulan-bulan. Bahkan Netanyahu bersumpah tidak akan goyah dengan rencananya itu. Ia menyebut Israel memiliki peluang bersejarah yang tidak dapat dilewatkan. Menurut beberapa media Israel Netanyahu akan melakukannya pada bulan Juli mendatang.

“Ini adalah kesempatan yang tidak akan kami lewati,” ujar salah satu anggota Partai Likud, partai yang berkuasa di Israel seperti dilansir laman arabnews.  Ia juga menyebutkan bahwa peluang ini belum pernah terjadi semenjak berdirinya Israel pada tahun 1948.
Rencana tersebut jelas akan memicu kekerasan baru di wilayah tersebut. Tepi Barat merupakan jantung utama utama negara Palestina Merdeka. Tentu keinginan Netanyahu itu akan mempengaruhi rencana damai Palestina-Israel yang sedang dilakukan oleh banyak pihak. Bahkan sekutu-sekutu Isarel menolak rencana tersebut. Arab Saudi menolak dengan tegas rencana tersebut, sedangkan liga Arab mengutuknya dengan menyebut sebagai kejahatan perang.

Sementara itu calon presiden Amerika Serikat dari partai Demokrat, Joe Biden mengatakan bahwa pencaplokan akan memutuskan harapan akan solusi dua negara. Bahkan 18 senator Partai Demokrat AS berkirim surat kepada pemerintah Israel bahwa pencaplokan tersebut meruak hubungan Amerika-Israel. Sedangkan Josep Borrell, Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa menyebut pencaplokan tersebut melanggar hukum internasional dan UNI eropa akan sekuat tenaga menghentikannya.

Kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa, Josep Borrell, mengatakan aneksasi akan melanggar hukum internasional dan berjanji untuk menggunakan “semua kapasitas diplomatik” untuk menghentikan rencana Israel itu.

Dalam catatan sejarah, Israel merebut Tepi Barat pada tahun 1967. Kini terdapat 500.000 pemukim Yahudi yang tinggal di wilayah tersebut dan diakui sebagai bagian dari wilayahnya.