Semalam Mat Kairun keluar rumah. Berbeda dengan rutinitas biasanya, malam itu ia memilih cangkruk dengan para tetangga yang memang hampir tiap hari kumpul namun jarang ia sambangi. Maklum, sebagai ustadz favorit kampung, jadwalnya mulai padat merayap. Dari malam ke malam, ia menghadiri berbagai macam majelis yang diadakan mushola, masjid, ataupun di rumah-rumah warga untuk menjadi penganjur nasehat agama. Da’i, begitu lah kurang lebih orang-orang menyebutnya.

Tapi toh Mat Kairun memang da’i yang baik. Bahkan kalaupun jadwal dinas luarnya kosong, ia habiskan waktunya di rumah untuk belajar. Mencari materi-materi keagamaan yang relate, yang kira-kira masuk dengan persoalan keseharian warga masyarakat kampungnya. Tak salah jika kemudian ia laris manis, karena isi pengajiannya tidak berisi yang ‘itu lagi..itu lagi..’

Saya pikir, beruntunglah warga kampung itu. Memiliki sosok Mat Kairun diantara mereka yang masih sregep mengkaji ilmu dan berniat menyebarluaskannya demi mengajak pada kebaikan, sebagaimana fungsi dan tujuan dakwah itu sendiri.

Berkaos oblong dan sarungan Mat Kairun tampak beda diantara tetangga-tetangganya yang keturunan Tionghoa. Mat Kairun sendiri asli Desa Suru, Nganjuk. Tapi perbedaan itu tidak lantas membuatnya canggung untuk bercengkrama, lagian bertahun-tahun hidup bersama, meski beda suku atau ras sekalipun, Mat Kairun dan tetangganya hidup harmonis, bahkan nyedulur.

“Mat, ini rame Mat.. Pas banget ente nimbrung!!” seru Koh Hok melihat Mat Kairun datang.

Sik ta lah, duduk aja belum bener udah langsung rame-rame, arepe lapo seh?”, Mat Kairun mencari posisi nyaman, sembari mengeluarkan kretek dan zippo kesayangannya.

“Gini Mat, itu perempuan yang nembak-i mabes polri, apa ya benar mati syahid?”

Mak tratap!! Mat Kairun tersedak dari isapan pertama rokoknya. Tampaknya ia tidak siap dengan pertanyaan liar seperti itu. Lagian dia cangkruk karena mau nyantai, ingin sedikit beralih dari rutinitas pembahasan agama, eh lha kok disodori menu begituan lagi.

“Woi yok opo, Mat?”, kejar Koh Gun yang dari tadi khusyuk menunggu.

Mat Kairun menghisap rokoknya dalam-dalam, sebagai alibi untuk mengulur waktu dan berpikir.

“Ya itu bukan mati syahid, mati konyol iya..”, jawab Mat Kairun lirih seolah tidak yakin.

Barangkali memang Mat Kairun tidak yakin tentang jawaban yang ia lontarkan. Sebab selain ia sendiri belum tahu banyak tentang mati, atau mati syahid, juga hanya samar-samar saja mengetahui tentang urusan terorisme, apalagi hubungan keterkaitannya dengan jaringan kriminal internasional, ia juga buta sama sekali pada presisi keputusan akhir Tuhan: syahid atau tidaknya kematian seseorang.

“Tuhan itu Maha Kasih, kalau sampean pulang kerja cari makan buat anak istri, lalu naudzubillah, mengalami kecelakaan lantas meninggal, itu malah pasti syahid..”, Mat Kairun coba berbelok dengan mengambil contoh yang ia kuasai dan dekat dengan keseharian tetangganya.

“Lho gitu ta, Mat?”

Iyo to, yang gampang jangan dibikin ruwet.”

“Tapi jaminan surganya sama, Mat?”

“Maksudnya?”

“Lha katanya yang mati jihad itu kan langsung dapet tiket direct ke surga, lengkap dengan 72 bidadari.. Bayangno Mat, 72 bidadari! Opo kuat koen!

“Ngawur ae Koh..”

Mat Kairun terdiam. Pikirannya mengembara tersodok pertanyaan tetangganya-tetangganya. Ia baru menyadari, bahwa berada di forum cangkruk-an begini ternyata jauh lebih banyak tantangannya dibanding pengajian-pengajian di mushola, atau forum-forum diskusi ilmiah yang biasa ia hadiri di kampus.

Orang datang ke seminar-seminar kampus, atau ke majellis-majelis pengajian, adalah mereka-mereka yang siap menerima ilmu. Bahkan, kemungkinan besar, mereka adalah orang-orang yang sudah baik. Ekstrimnya, buat apalagi didakwahi? Siapa obyek utama dari ajakan kebaikan?

“Mat!”, Koh Gun membangunkan Mat Kairun dari lamunan.

Mat Kairun terdiam. Ia masih tenger-tenger atas kesadaran baru yang ia terima dari pengembaraan pikirannya sendiri.

Ojok nemen-nemen Mat. Ini lho, ikut nyoba ta, minuman surga?”, Koh Hok berkelakar menawari minuman yang pasti ditolak oleh Mat Kairun.

“Gausah ngebom ae aku sudah bisa minum minuman surga, mau nyoba bidadari ya lebih dari 72 ya bisa. Tapi mari ngono ditombak mbek bojoku!

Seketika Mat Kairun mendapat ilham.

Lho lha iku masalahe, Koh.. Urusan surga bukan cuma minuman dan bidadari. Bayanganmu seh surga isinya kelon, omben-omben, dan segala urusan materiil. Urusan surga iku onok sing jauh istimewa maneh..”

“Opo iku?”

“Ya, cari Yang Punya Surga, dong. Ojok nemen-nemen memburu surga, rek!”

Mat Kairun menarik sebatang lagi kretek baru dari wadahnya, sembari menancapkan janji untuk lebih sering cangkruk dan menemani tetangga-tetangganya.