Hamad bin Salamah bin Dinar al-Bashri (w. 167 H.) memiliki tetangga seorang perempuan yang ahli ibadah. Perempuan itu adalah seorang janda dengan beberapa anak-anak. Suatu hari, hujan turun dengan begitu deras. Atap rumah si perempuan bocor. Si perempuan itu berdoa, “Wahai Tuhan yang Maha Pengasih, kami mohon, kasihanilah kami!”

Ternyata doa yang dipanjatkan wanita itu terdengar sampai ke telinga Hamad bin Salamah.

Setelah hujan reda, Hamad pun akhirnya mendatangi rumah perempuan itu. Ia membawa beberapa uang dinar untuk diberikan. Setibanya di rumah si perempuan, perempuan itu berkata, “Semoga ini adalah Hamad bin Salamah.”

Mendengar itu, Hamad pun berkata, “Iya, aku adalah Hamad bin Salamah.”

Sembari menyodorkan beberapa uang dinar yang ia bawa itu, Hamad berkata kepada si perempuan, “Silakan, pakai ini!”

Tiba-tiba, salah satu anak yatim perempuan itu keluar dari kamar dan berkata dengan kalimat yang sangat luar biasa, “Wahai Syaikh Hamad, mengapa engkau tidak berdiam diri di rumah saja? Engkau telah menghalangi kemesraan ibadah kami dengan Tuhan kami.”

Si anak itu lalu berkata kepada ibunya, “Wahai ibu, bukankah selama ini jika kita sedang mengadu kepada Tuhan, Dia selalu mengirim dunia kepada kita?”

Ia lantas berkata kepada Tuhan, “Wahai Tuhan, demi kemuliaanMu, aku tidak akan berlepas diri dariMu meski Engkau ingin menolak kami”. (Maksudnya adalah menolak dengan disebabkan datangnya dunia itu).

Kemudian ia juga berkata kepada Hamad bin Salamah, “Wahai Syaikh, bawalah kembali uang yang engkau bawa ini. Aku akan meminta dan mengadukan kebutuhan-kebutuhanku kepada Zat yang menerima titipan (amal) dan yang tidak akan menganiaya orang-orang yang telah beramal.” (Maksudnya adalah Allah Swt., pen.)

Kisah di atas terbentang dalam kitab Shifat al-Shafwah karya Ibnu Jauzi dengan judul bab “Kisah-kisah orang-orang pilihan dari golongan anak-anak yang berbicara dengan ucapan para ahli ibadah senior”.

Kita sungguh tidak menduga ada anak kecil yang ucapannya seperti orang-orang dewasa, sebagaimana kisah di atas. Salah satu ucapannya adalah tentang ketidakmauan kemesrannya dengan Tuhan terganggu dengan datangnya dunia.

Dari kisah di atas, kita menjadi paham bahwa cobaan bagi mereka yang (ingin) mendekat Tuhan adalah tidak saja berupa keburukan. Kebaikan dan kemewahan dunia pun ternyata juga bisa jadi merupakan cobaan yang karenanya harus juga diwaspadai. Bahkan ini bisa lebih membahayakan daripada cobaan keburukan. Pasalnya, orang seringkali kuat ketika mendapat cobaan musibah namun tidak lulus ketika menghadapi cobaan kenikmatan (terlena).

Al-Qur’an telah mencatat dan mendokumentasikan sejarah umat-umat terdahulu yang tidak lulus ketika menerima cobaan berupa kesenangan. Dua di antaranya adalah Fir’aun dan Qarun. Fir’aun dicoba dengan jabatan, sedangkan sedang Qarun diuji dengan harta yang melimpah.

Allah SWT berfirman:

“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kami akan menguji dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan kamu akan dikembalikan hanya kepada Kami” (QS. Al-Anbiya” [21]: 35)

Dalam kitab tafsir al-Muntakab dijelaskan bahwa di dalam menjalani kehidupan di muka bumi ini, manusia akan diuji oleh Allah SWT dengan hal-hal yang bermanfaat dan membahayakan. Tujuannya adalah agar Allah SWT bisa membedakan dam mengetahui siapa di antara kita yang bersyukur atau tidak bersyukur atas nikmat yang diberikan itu. Juga, siapa yang bersabar dan tidak bersabar atas segala musibah yang datang.

Walhasil, apapun yang diterima manusia di dunia ini, baik berupa nikmat atau musibah, adalah ujian dari Allah Swt. Mereka akan diuji rasa bersyukurnya ketika mendapat nikmat dan kesabarannya ketika menerima musibah. Semoga kita semua lulus ujian itu! Amin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here