Bawaan orang marah adalah berbicara tanpa aturan. Sehingga bisa jadi dia bicara sesuatu yang mengundang murka Allah. Karena itulah diam merupakan cara mujarab untuk menghindari timbulnya dosa yang lebih besar.

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah ﷺ bersabda:

إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْكُتْ

“Jika kalian marah, diamlah.” [HR. Ahmad dan Syuaib Al-Arnauth menilai Hasan Lighairih]

Ucapan kekafiran, celaan berlebihan, mengumpat takdir, dst., bisa saja dicatat oleh Allah sebagai tabungan dosa bagi ini. Rasulullah ﷺ mengingatkan:

إِنَّ العَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالكَلِمَةِ، مَا يَتَبَيَّنُ فِيهَا، يَزِلُّ بِهَا فِي النَّارِ أَبْعَدَ مِمَّا بَيْنَ المَشْرِقِ

“Sesungguhnya ada hamba yang mengucapkan satu kalimat yang dia tidak terlalu memikirkan dampaknya, namun menggelincirkannya ke Neraka yang dalamnya sejauh Timur dan Barat.” [HR. Bukhari dan Muslim]

Di saat kesadaran kita berkurang, di saat nurani kita tertutup nafsu, jaga lisan baik-baik, jangan sampai lidah tak bertulang ini menjerumuskan kita ke dasar Neraka.

sumber: https://nasihatsahabat.com/jika-engkau-sedang-marah-diamlah/amp/