Kairo berkembang menjadi pusat ilmu pengetahuan. Di antara tempat berkembangnya ilmu pengetahuan masa Dinasti Fatimiyah adalah masjid dan istana.

Masjid dan istana dijadikan basis ilmu pengetahuan.  Masjid menjadi tempat berkumpulnya ulama fikih bermazhab Syiah Ismailiyah, wazir maupun hakim.

Selain masjid, istana juga menjadi tempat membuat buku tentang mazhab Syiah yang kelak diajarkan pada masyarakat. Perpustakaan pun berperan penting dalam pengembangan ilmu pengetahuan, dan yang tidak kalah menarik adalah pengadaan berbagai buku ilmu pengetahuan di istana. Istana menjadi perpustakaan terbesar masa itu yang kemudian dikenal dengan nama Darul Ulum.

Darul Ulum kemudian digabungkan dengan Darul Hikmah yang berisi berbagai ilmu pengetahuan dan melahirkan sejumlah ulama antara lain: Muhammad Al-Tamimi (ahli fisika dan matematika), Al-Kini ( sejarah dan filsafat), hingga Al-Nu’man (ahli hukum dan menjabat sebagai hakim). Ilmu pengetahuan pun berkembang luar biasa saat itu. Penerjemahan dan penerbitan sumber-sumber pengetahuan dari bahasa asing oun digalaakkan, dari mulai bahasa Yunani, Persia, hingga India. Kegiatan penerjemahan tersebut melahirkan tokoh-tokoh ilmu pengetahuan maupun sastra.

Pembangunan gedung Darul Hikmah dan Darul Ulum oleh khalifah Al-Hakim tahun 1005 menelan biaya 257 dinar. Gedung ini menjadi pusat pembelajaran dan penyebaran Syiah hingga menjadi tempat menyalin berbagai naskah. Tidak lama, tahun 1119 bangunan ini ditutup oleh Al-Malik Al-Afdhal karena dianggap menyebarkan bid’ah.

Universitas Al-Azhar yang dahulu berasal dari masjid bernama Al-Azhar dibangun di kota ini oleh panglima Besar Dinasti Fatimiyah, Jauhar As-Shaqali, tepatnya tahun 359 H April 970 M. Ia seorang bekas budak Romawi keturunan Yunani Sisilia, sekaligus panglima tentara bayaran yang memiliki pemikiran maju. Ia mampu membangun sebuah universitas terbesar di dunia yang ada di Kairo. Gedung Universitas Al-Azhar baru selesai dibangun tahun 976 M. Selanjutnya gedung ini menjadi tempat belajar mengajar mazhab Syiah Ismailiyah hingga 12 tahun kemudian, 988 M.

Pengaruh Syiah baru berakhir tahun 1178 M atau bersamaan dengan redupnya pengaruh pemerintahan Dinasti Fatimiyah. Selanjutnya diganti kekhalifahan Ayyubiyah yang bermazhab Sunni. Setelah Ayyubiyah berakhir kemudian Mesir dikuasai Turki Ustmani, Al-Azhar tetap konsisten dengan kegemilangan: menjadi pusat intlektual, ilmu pengetahuan, pusat peradaban Islam, dan pusat perdagangan di kawasan Laut Tengah dan Samudra Hindia.

Runtuhnya kota Kairo

Kejayaan Kairo tidak berlangsung lama. Tentara Perang Salib hampir saja membuat Kairo mengalami keruntuhan. Aksi panglima perang Salahuddin Al-Ayubi berhasil menghalau dan mengusirnya. Sejak itu, Salahuddin Al-Ayubi mendeklarasikan kekuasaannya sebagai Dinasti Ayubiyah.

Namun pemerintahan yang dibangun oleh Salahuddin Al-Ayubi hanya bertahan 75 tahun. Kairo menjadi rebutan Dinasti Ayubiyah dengan Dinasti Mamluk. Dinasti Mamluk berhasil mengambil alih Kairo sekitar 3 abad lamanya. Mamluk pun menjadikan Kairo sebagai pusat pemerintahan.

Kairo memang sempat dikuasai Turki, tetapi setelah kekuasaan Turki berakhir pada tahun 1517 M, kota itu tenggelam. Kairo kembali bangkit awal abad modern saat Muhammad Ali memimpin Mesir. Di bawah pemerintahan Muhammad Ali, kota itu berkembang pesat sebagai pusat pembaharuan Islam zaman modern. (AN)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here