Salah satu hikmah yang kita rasakan dalam kondisi pandemi ini yakni percepatan adaptasi masyarakat Indonesia terhadap teknologi, terutama internet dan kultur digital. Dalam akselerasi adaptasi tersebut, saya juga mendapati aktivitas dunia maya dari para kawula muda generasi milenial yang berasal dari kultur tradisionalisme turut meningkat.

Saya mendapati fakta tersebut dari pengamatan dalam beberapa bulan terakhir terhadap beberapa akun media sosial, terutama Instagram dan Facebook, yang dikelola oleh beberapa komunitas kecil di Banjarmasin. Komunitas tersebut dikelola oleh para anak muda atau generasi milenial yang secara aktif memposting berbagai konten bernarasi Islam tradisional atau Islam kosmopolitan.

Sepertinya kehadiran generasi milenial Banjar yang berasal dari kultur tradisionalis atau multikulturalis, lewat kemampuan penguasaan teknologi digital dan dan kreativitas mereka di dunia maya, akan dapat memberi warna pada keislaman di masyarakat Banjar. Mereka juga hadir berupa kelompok-kelompok kecil yang memproduksi konten-konten bernarasi Islam tradisional.

Mereka adalah generasi yang akrab dengan dunia siber. Hasanuddin Ali menyebut generasi ini memiliki tiga kriteria utama yakni connected, creative, dan confidence (3c). Dengan modal inilah, mereka mengubah wajah Islam tradisional yang sebelumnya jauh tertinggal di dunia maya sekarang mulai mendapat perhatian dari warganet. Dan akhirnya dapat menjadi opsi baru dalam ajaran agama yang tersedia di dunia maya.

Sehingga, kalangan kelas menengah dan generasi milenial yang biasanya diasumsikan belajar agama dari media sosial dan peramban di dunia maya, dapat belajar Islam yang lebih dekat dengan narasi-narasi moderatisme yang dihadirkan dari konten Islam tradisionalis ala generasi milenial Banjar. Mungkin hal yang sama juga terjadi di kalangan generasi milenial berlatar tradisionalis yang lain.

Namun, saya melihat generasi milenial di Banjar adalah motor utama dalam kampanye Islam tradisionalis di tanah Kalimantan Selatan. Alasannya, kampanye massif Islam tradisional yang mereka lakukan tidak saja lewat daring, namun juga luring.

Kampanye daring mereka bisa dilihat dari menjamurnya akun-akun media sosial, terutama Instagram, yang menjadi buzzer atau pendengung berbagai kegiatan keagamaan di tanah Banjar. Selain itu, Mereka juga aktif membuat teaser video ceramah para ulama, baik yang telah meninggal atau yang masih hidup. Alasan mereka biasanya sekedar tabarukkan atau mencari berkah dan menjadi pengingat di antara mereka, begitu pengakuan beberapa pemuda yang aktif dalam kelompok tersebut.

Adapun kegiatan luring mereka biasanya diisi dengan berziarah ke kubur para ulama atau mengunjungi beberapa kyai. Kunjungan mereka biasanya diisi bersilaturrahmi atau sekedar berijazah satu hadis, wirid atau bacaan tertentu dari para ulama yang mereka datangi. Uniknya, ziarah keliling atau kunjungan ke para ulama tersebut diunggah dan dijadikan konten di media sosial, entah itu Instagram, Facebook atau Youtube.

Kegiatan lainnya yang biasa mereka lakukan pengawal sekaligus petugas yang bertanggung jawab untuk menyiarkan langsung berbagai pengajian atau majelis taklim di Banjarmasin. Sebab, para ulama atau tuan guru biasanya memberikan tanggung jawab pengelolaan akun majelis taklim atau pengajian yang dia asuh. Ya, di tanah Banjar cukup jarang para tuan guru tradisionalis yang memiliki akun pribadi yang aktif, sehingga akun yang ada hanya tempat dia mengajar. Akun-akun tersebut dikelola biasanya oleh para anak muda generasi milenial.

Bahkan, pasca kegiatan tersebut, mereka masih membagikan potongan video atau suara sang Tuan Guru di akun media sosial. Aktivitas pengajian daring yang meningkat di tengah pandemi juga diawaki dan dimotori oleh kelompok anak-anak milenial.

Jadi, fokus aktivitas media sosial mereka tidak hanya pada mengampanyekan berbagai kegiatan keagamaan di tanah Banjar dengan mengunggah atau memposting di media sosial, namun juga menjadi motor sekaligus pengelola akun media sosial, entah itu milik sang kyai atau majelis taklim. Di titik inilah, peran anak milenial Banjar tidak dapat dianggap remeh.

Sayangnya, aktivitas kampanye Islam tradisional yang dilakukan secara massif oleh generasi milenial di tanah Banjar, masih belum banyak yang menyentuh dunia pengelolaan website. Sehingga ada pekerjaan rumah bagi mereka, untuk bisa menghadirkan Islam tradisional di dunia maya secara komprehensif yang bisa dikonsumsi oleh warganet, terutama mereka yang dekat dengan kultur Banjar.

Perlu diketahui terlebih dahulu, sebelumnya peran tuan guru dalam pengelolaan pengajian sangatlah sentral. Namun, saya yakin setelah menjamurnya pengajian daring yang dikelola oleh anak-anak milenial, kultur pengajian Islam tradisional di tanah Banjar dapat semakin dekat dan menjadi bagian tak terpisahkan dari keberagamaan masyarakat modern sekarang ini.

Selain itu, keluhan kita akan ketidakkompetenan otoritas keagamaan yang hadir di dunia maya, sepertinya dapat dikurangi seminimal mungkin dengan kehadiran para ulama yang jelas sanad keilmuannya. Aktivitas pengajian daring yang diasuh para ulama atau tuan guru dapat menjadi diskursus baru dalam keberagamaan di dunia maya.

Namun sekali lagi saya tegaskan, sebagaimana dijelaskan di atas, bahwa kondisi ini sangat bergantung pada aktivitas dan kemampuan digital generasi milenial. Utamanya, mereka yang memiliki konsen terhadap kampanye Islam tradisionalis. Di tanah Banjar, generasi milenial seperti ini cukup melimpah. Buktinya, selain aktivitas yang telah dijelaskan di atas, jumlah komunitas kecil yang bergerak di daring dan luring terus membesar dan saling terkoneksi antara satu dengan yang lain.

Semoga dengan kampanye Islam tradisionalis yang dimotori kelompok generasi milenial, diskursus keagamaan kita mulai dijejali dengan konten-konten yang mendamaikan dan menentramkan. Lewat aktivitas para pemuda yang dekat dengan para ulama yang berhaluan moderat, rasa-rasanya harapan ini segera terwujud. Aamiin.

Fatahallahu alaihi futuh al-arifin