Apakah anda sering mendengar ungkapan, biar Islam kita kaffah maka harus ikut  atau jadi Arab? atau dalam bahasa sederhana: jadi islam haruslah meniru segala hal bercorak Arab. Tenang saja. Anda tidak sendirian. Banyak di antara kita yang beranggapan bahwa ‘Arab’ bagian dari syariat islam. Padahal keduanya begitu berbeda,  tidak bisa disamakan. Yang satu adalah wilayah/daerah yang memiliki kebudayaan, cara hidup dan karakteristiknya yang khas. Satunya lagi agama. Begitu berbeda, bukan?

Nah,  satu fakta penting yang tidak boleh terlewatkan, Islam memang datang dari Jazirah Arab dan Al-Qur’an menggunakan bahasa arab sebagai mediumnya.  Tapi tidak semua yang berbau arab adalah bagian dari islam. Apalagi ketika Islam sudah menyebar luas, tidak lagi di Arab, maka harus menyesuaikan dengan kondisi di wilayah masing-masing dalam proses penyebarannya.

Meski begitu, Al-Qur’an tetap tidak berubah kok, masih persis seperti zaman Nabi. Tafsirnya saja yang mungkin berubah selaras dengan perkembangan Islam sebagai ilmu pengetahuan yang begitu dinamis. Terkait perubahan-perubahan kitab suci kita ini, Anda bisa menyimak video yang cukup detil membicarakan perubahan Al-Quran bertajuk Quran itu Gak Berubah, seperti Zaman Nabi dan menemukan keajaiban-kejaibannya.

Lalu, bagaimana memahami persoalan ini? Apalagi ketika sehari-sehari kita melihat beberapa saudara muslim justru seperti mengamini pernyataan, ya kalau jadi muslim atau berIslam ya harus seperti yang ada di Arablah, mau gimana lagi?

Sebenarnya kita cukup bisa menjawab singkat: kan kita tidak di arab, kita di Indonesia loh. Tapi, jawaban seperti itu tampaknya belum bisa memuaskan. Untuk itu, kita juga bisa melihat dari segi sejarah masuknya Islam di Indonesia.

Ternyata, dalam sejarahnya, setiap agama yang datang ke Nusantara selalu mengalami akulturasi dengan budaya setempat. Tak terkecuali Islam yang datang belakangan setelah Hindu dan Budha, serta agama-agama lokal yang telah lama ada. Percampuran dialogis antara Islam dan kebudayaan ini mengalami proses yang sangat panjang dan dalam perjalanannya justru akomodatif terhadap kebudayaan setempat.

Dari proses ini pula, akhirnya, Islam yang berkembang di Indonesia mempunyai corak yang sangat khas dan berbeda dengan bangsa lain, serta membuat kebudayaan islam mengalami pergeseran dari aslinya—tanpa menghilangkan dimensi tauhid, syariah dan lain-lain sebagai bagian dari ajaran Islam.

Di titik tertentu, pergumulan agama dengan kebudayaan lokal ini menciptakan wajah Islam yang baru bernama: Islam Indonesia. Wajah Islam yang moderat dan ramah terhadap kebudayaan. Dalam konsep Gus Dur, itu disebut dengan istilah Pribumisasi Islam. Pribumisasi ini telah mengakar dalam keberagamaan masyarakat Indonesia.

Meski begitu, ada banyak loh yang salah paham. Konsep ini secara serampangan kerap disandingkan dengan dengan sinkretisasi (campur adukkan) agama-agama. Padahal hal ini sangat berbeda.  Pribumisasi islam yang dimaksudkan adalah akulturasi islam dengan kearifan lokal yang membudaya di tiap daerah.

Di Indonesia, pola ini ternyata justru jadi ciri khas Islam Indonesia. Contohnya apa? Banyak. Salah satunya adalah corak Masjid Sunan Kudus di Jawa Tengah,  yang mengadopsi gaya bangunan ala hindu. Itu adalah contoh sahih akulturasi budaya.

Untuk itulah, sekali lagi, sebagai muslim kita perlu untuk jernih melihat perbedaan antara Arab sebagai tradisi dengan islam sebagai sebagai ajaran agama. Jadi, berIslam itu tidak harus jadi Arab atau meniru segala hal yang berbau arab. Kita bisa berIslam dengan tetap jadi Indonesia atau negeri manapun tempatmu tinggal dan itu tidak mengurangi jati diri kita sebagai muslim sejati (kaffah).

Masih tidak percaya? Yaudah, langsung saja tonton video ini di bawah ini dan Anda akan menemukan tafsiran yang asyik terkait  Islam dan jadi Arab.

Wallahu a’lam bisshowab.