Kecelakaan pesawat terbang selalu membawa duka yang lebih sentimentil dibandingkan kecelakaan-kecelakaan moda transportasi lainnya. Padahal, secara statistika, kabarnya jumlah kecelakaan pesawat jauh lebih sedikit dibandingkan kecelakaan lalu lintas darat. Artinya, jika Anda akan bepergian dengan pesawat terbang, maka Anda lebih berisiko celaka di jalan menuju bandara ketimbang pada saat terbang di pesawat.

Tapi toh kematian bukan soal besar kecilnya resiko atau angka-angka jumlah korban. Satu orang mengalami kecelakaan lalu mati tak perlu dibanding-bandingkan ketragisannya dengan seribu apalagi ratusan ribu orang yang meninggal karena pandemi, umpamanya. Semua kematian sama: tragedi. Bahkan tak jarang, disebut pula musibah.

Barangkali orang kemudian sentimentil atas kecelakaan pesawat karena besarnya kemungkinan akan kematian jika hal-hal buruk terjadi di udara. Tak terbayang oleh kita, betapa mengerikannya detik-detik krusial ketika pesawat akan jatuh: mulai mengalami gangguan, sedikit bergoyang, hingga gronjal-gronjal dan bergetar seluruh badan pesawat, lalu terkonfirmasi bahwa penumpang harus segera memasang life jacket dan mengambil posisi emergency landing, lampu kabin mati, dan….

Ketika moment itu, apa kira-kira yang terpikirkan oleh para penumpang? Dibalik terombang-ambingnya badan, bayangkan bagaimana lebih tergoncangnya hati dan jiwa yang tahu bahwa mereka sedang dalam detik-detik menuju ‘finish’, sedang pada saat yang sama, tak banyak lagi yang bisa dilakukan. Mau menepi, kemana? Mau minta tolong, pada siapa? Mau taubat, apa sempat? Mau bilang selamat tinggal, tak ada sinyal..

Saya sendiri begidig membayangkan adegan-adegan seperti itu.

Oleh karenanya, bersama-sama kita hantar simpati pada korban kecelakaan pesawat terbang, terutama pada keluarga yang ditinggalkan. Kita lumrahkan kesedihan atas kehilangan orang-orang tersayang yang telah mangkat. Meskipun barangkali, perlu juga kita selami lebih dalam mengenai maksud dari ‘celaka’ dan ‘selamat’ itu sendiri.

Pada mereka yang gagal terbang dan tak ikut dalam rombongan kecelakaan pesawat, seringkali kita alamatkan predikat sebagai yang selamat. Pada para penumpang yang wafat, merekalah golongan kurang beruntung. Ringkasnya, mati adalah celaka, sedangkan hidup adalah selamat.

Padahal para calon penumpang selamat itu sebelumnya ada dalam kondisi nahas karena gagal terbang. Namun kini kita sebut mereka selamat. Tampak, selamat dan celaka sebenarnya adalah kondisi dinamis yang tak bisa buru-buru dinilai dan disematkan.

Coba simulasikan, jika kurun penilaian selamat dan celaka diperlebar hingga tembus periode setelah kematian, boleh jadi predikat celaka yang kita alamatkan pada para penumpang wafat akan salah total. Sebab pada periode setelah kematian itu, jangan-jangan mereka sedang benar-benar mengalami keselamatan paripurna.

Sebaliknya, para penumpang yang selamat dari kecelakaan, termasuk kita-kita yang masih cengengas-cengenges hidup ngalor ngidul ini, sangat mungkin juga ada dalam kondisi benar-benar tidak selamat.

Jangan menilai AC Milan juara Liga Champion gara-gara menang 3-0 pada saat istirahat di menit 45, karena terbukti di akhir laga AC Milan-lah yang celaka dijungkirbalikkan oleh Liverpool di Istanbul Turki tahun 2005.

Maka, di manakah letak kematian manusia? Apa iya ia ada di menit 90 itu? Siapakah Liverpool dan AC Milan dalam cerita kecelakaan pesawat tadi?

Tentu saja persoalan menang-kalah, selamat-celaka, mati-hidup, dan segala soal pada manusia tak sesederhana pertandingan final Liga Champion itu. Terdapat banyak variabel yang sebenarnya bukanlah manusia yang menjadi penentunya. Seperti halnya hidup dan mati, selamat dan celaka saya pikir bukan ranah manusia untuk mendiktekannya.

Sebab Kanjeng Nabi sendiri menasehatkan bahwa mati dan hidup sama baiknya. Tapi bagaimana bisa, kok hidup sama dengan mati? Wong yang satu celaka yang satu selamat. Bahkan mati kita sebut tragedi dan hidup adalah rahmat.

Kebingungan ini barangkali memang berangkat dari sudut pandang yang berbeda antara kita dengan Kanjeng Nabi. Mati menjadi sebuah tragedi yang tak pernah menemukan kesempatan menjadi hal baik, karena tak terlihat oleh kita adanya potensi berhentinya keburukan yang kita lakukan dalam hidup, atau bahkan menjadi ajang pertemuan dengan Kekasih sejati.

Gagal kita pahami Rumi yang menyuruh murid-muridnya menabuh rebana, menari, dan berbahagia menjelang kematian sang Guru. Karena bagi Rumi, kematian adalah suatu kebaikan yang ia ibaratkan pertemuan perjaka dengan kekasihnya dalam mahligai pernikahan.

Mati menjadi momok yang menakutkan karena nyata ia memutus manusia dengan kenikmatan dunia, atau setidak-tidaknya memutus harapan untuk menghimpun lebih banyak bekal untuk mendapatkan surga di akherat.

Di kala para kekasih Tuhan memandang kematian sebagai keterputusan dari kefanaan menuju kemesraan dengan yang Sejati, kita sedang terseok-seok berjalan dan terserimpung oleh materialisme dalam perjalanan menyongsong kematian.

Rupanya, terselip satu catatan penting, bahwa nasehat Kanjeng Nabi soal mati dan hidup adalah sama baiknya, hanya berlaku bagi: mereka yang beriman. Betapa jauhnya kita dari golongan itu.