“Tabassamuka fi wajhi akhika laka shodaqatun”, senyumanmu yang merekah di hadapan/wajah saudaramu mengalirkan pahala sedekah kepada dirimu, kira-kira begitulah bunyi penggalan hadis nabi yang diriwayatkan Abi Dzarr.

Penggalan hadis tersebut menginspirasi sebuah buku yang berisi kumpulan tulisan dengan tajuk “Wa tabassama an-Nabi” yang ditulis penulis Mesir, Na’im Muhammad Abdul Ghani pada tahun 2016. Ada yang menarik dari catatan Na’im ini, dalam catatannya ia mengutip hadis-hadis yang mengabarkan keadaan-keadaan Rasulullah ketika tersenyum, ada yang ketika bersama sahabat, bersama a’robi atau orang Baduwi, bersama istrinya, dan senyum-senyum Rasulullah pada keadaan yang lain.

Salah satu senyum Rasulullah yang diceritakan adalah ketika sahabatnya yang bernama Shuhaib bin Sinan menimpali celetukannya. Terkait biografi sahabat Shuhaib bisa dibaca di kitab Hilyatul Auliya yang disusun Abu Nu’aim al-Ashfihani.

Buku “Wa tabassama an-Nabi” yang mengutip hadis riwayat Ibnu Majjah menceritakan, suatu hari Shuhaib sowan kepada Kanjeng Nabi. Saat itu di hadapan Kanjeng Nabi ada kurma dan roti yang memang sedari tadi sudah dihidangkan. Shuhaib yang baru datang tiba-tiba mengeluh kepada Kanjeng Nabi kalau matanya sedang sakit.

Shuhaib yang sedari tadi melihat kurma terhidang, tiba-tiba langsung saja melahapnya. Dengan penuh heran Kanjeng Nabi lalu nyeletuk,

“Kamu ini datang mengeluh matamu sakit, tapi, kok ya, lahap sekali memakan kurmanya,” celetuk Kanjeng Nabi.

“Lha, ya, jelas to Nabi, mataku yang sakit hanya satu, mata sebelahnya masih sehat, apalagi melihat kurma yang ada di depan mata, ya masih jelas,” timpal Shuhaib dengan bercanda.

Mendengar jawaban Shuhaib, Kanjeng Nabi lalu tersenyum. Keduanya lalu tersenyum tersebab dari guyonan yang keduanya lontarkan.

Senyum Kanjeng Nabi berikutnya ada dalam catatan Syekh Zainuddin al-Malibari di kitab Irsyadul Ibad-nya tepatnya pada bab ghadab, kisah ini terjadi saat Kanjeng Nabi dan Anas bin Malik dalam suatu perjalanannya bertemu orang a’rabi atau orang Baduwi, kisahnya diceritakan oleh sahabat Anas bin Malik. Begini kisahnya,

Pada suatu hari Kanjeng Nabi Muhammad Saw berjalan bersama Sahabat Anas bin Malik. Kemudian seorang Baduwi mendekat kepada Kanjeng Nabi dan langsung menarik kain yang membalut leher Kanjeng Nabi dengan tarikan yang begitu keras. Sahabat Anas bin Malik melihat di kulit leher Kanjeng Nabi ada luka bekas tarikan orang Baduwi. Orang Baduwi itu lalu berkata, “Hai Muhammad berilah aku dari harta Allah yang ada padamu.” Mendengar permintaan itu, Kanjeng Nabi lalu menoleh dan tersenyum sambil memberikan kain yang ia kenakan di lehernya.

Begitulah Kanjeng Nabi, beliau selalu bersikap santun, tidak mudah tersinggung, beliau justru membalasnya dengan senyuman dan perlakuan yang terpuji.

Shalawat dan salam bagimu Kanjeng Nabi. Kami selalu berkata “kami mencintaimu”, namun sayangnya kami masih saja terbata-bata untuk meneladani akhlakmu, terseok-seok untuk sekedar mengikuti sunahmu. Semoga di musim semi pertama ini –bulan Rabi’ul Awwal– percikan syafaatmu dapat membasuh rasa penat umatmu yang terbata-bata, terseok-seok ini.

Ya Nabi salam ‘alaika, ya Rasul salam ‘alaika, ya Habib salam ‘alaika, Shalawatullah ‘alaika.

(AN)