Dekatnya sebuah generasi dari sumber kebenaran memberikan corak dan dampak yang sangat baik. Sebaliknya, semakin jauh dari sumber kebenaran akan memberikan dampak yang sangat negatif.

Seburuk apa pun suatu generasi, Allah subhanahu wa ta’ala tetap akan membangkitkan orang-orang yang akan membela kebenaran. Ini merupakan sunnatullah.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

فَخَلَفَ مِنۢ بَعۡدِهِمۡ خَلۡفٌ وَرِثُواْ ٱلۡكِتَٰبَ يَأۡخُذُونَ عَرَضَ هَٰذَا ٱلۡأَدۡنَىٰ وَيَقُولُونَ سَيُغۡفَرُ لَنَا وَإِن يَأۡتِهِمۡ عَرَضٌ مِّثۡلُهُۥ يَأۡخُذُوهُۚ أَلَمۡ يُؤۡخَذۡ عَلَيۡهِم مِّيثَٰقُ ٱلۡكِتَٰبِ أَن لَّا يَقُولُواْ عَلَى ٱللَّهِ إِلَّا ٱلۡحَقَّ وَدَرَسُواْ مَا فِيهِۗ وَٱلدَّارُ ٱلۡأٓخِرَةُ خَيۡرٞ لِّلَّذِينَ يَتَّقُونَۚ أَفَلَا تَعۡقِلُونَ

“Maka datanglah sesudah mereka suatu generasi (yang jahat) yang mewarisi Taurat, yang mengambil harta benda dunia yang rendah ini, dan berkata, ‘Kami akan diberi ampun.’Kelak jika datang kepada mereka harta benda dunia sebanyak itu (pula), niscaya mereka akan mengambilnya (juga). Bukankah perjanjian Taurat sudah diambil dari mereka, yaitu bahwa mereka tidak akan mengatakan tentang Allah kecuali yang benar, padahal mereka telah mempelajari apa yang tersebut di dalamnya? Dan kampung akhirat itu lebih baik bagi mereka yang bertakwa. Maka apakah kamu sekalian tidak mengerti?” (al-A’raf: 169)

Syaikh Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat di atas dalam Tafsir-nya,

“Datanglah setelah mereka generasi yang (jahat), melebihi kejahatan generasi sebelumnya. Mereka mewarisi Taurat. Merekalah menjadi rujukan tentang kitab Taurat tersebut. Akan tetapi, mereka berbuat dengan hawa nafsu mereka terhadap Taurat. Harta benda dikorbankan untuk mereka agar mereka berfatwa dan memutuskan hukum dengan tidak benar. Suap-menyuap pun merajalela di kalangan mereka.”

Dalam ayat-Nya yang lain, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

فَخَلَفَ مِنۢ بَعۡدِهِمۡ خَلۡفٌ أَضَاعُواْ ٱلصَّلَوٰةَ وَٱتَّبَعُواْ ٱلشَّهَوَٰتِۖ فَسَوۡفَ يَلۡقَوۡنَ غَيًّا

“Datanglah sesudah mereka pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya. Maka mereka kelak akan menemui kesesatan.” (Maryam: 59)

Syaikh Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah dalam tafsir ayat ini mengatakan,

“Setelah Allah subhanahu wa ta’ala menyebutkan para nabi yang ikhlas, mengikuti keridhaan Rabb mereka, dan selalu kembali kepada-Nya, Dia menyebutkan generasi yang setelah mereka. Generasi tersebut telah mengganti apa yang telah diperintahkan kepada mereka. Mereka kembali ke belakang. Mereka menyia-nyiakan shalat yang telah diperintahkan agar mereka menjaga dan menegakkannya. Mereka meremehkan dan menyia-nyiakannya.

Apabila mereka sudah meremehkan shalat, yang merupakan tiang agama, timbangan iman dan keikhlasan di hadapan Allah subhanahu wa ta’ala, amalan yang sangat ditekankan dan paling utama, tentu urusan yang lain lebih mereka remehkan, lebih mereka sia-siakan, lebih mereka tolak.

Yang mendorong mereka melakukan hal ini ialah mengikuti hawa nafsu dan keinginan mereka. Jadi, semua keinginan mereka kembali pada hawa nafsu tersebut. Mereka mendahulukannya daripada hak-hak Allah. Dari sinilah lahir sikap menyia-nyiakan hak-hak-Nya. Muncul pula sikap mengutamakan keinginan hawa nafsu. Mereka berusaha untuk mencapainya, meski sesulit apa pun dan dengan cara bagaimanapun.”

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menceritakan dalam sabdanya,

مَا مِنْ نَبِيٍّ بَعَثَهُ اللهُ فِي أُمَّةٍ قَبْلِي إِلَّا كَانَ لَهُ مِنْ أُمَّتِهِ حَوَارِيُّونَ، وَأَصْحَابٌ يَأْخُذُونَ بِسُنَّتِهِ وَيَقْتَدُونَ بِأَمْرِهِ، ثُمَّ إِنَّهَا تَخْلُفُ مِنْ بَعْدِهِمْ خُلُوفٌ يَقُولُونَ مَا لَا يَفْعَلُونَ، وَيَفْعَلُونَ مَا لَا يُؤْمَرُونَ، فَمَنْ جَاهَدَهُمْ بِيَدِهِ فَهُوَ مُؤْمِنٌ، وَمَنْ جَاهَدَهُمْ بِلِسَانِهِ فَهُوَ مُؤْمِنٌ، وَمَنْ جَاهَدَهُمْ بِقَلْبِهِ فَهُوَ مُؤْمِنٌ، وَلَيْسَ وَرَاءَ ذَلِكَ مِنَ الْإِيمَانِ حَبَّةُ خَرْدَلٍ

“Tidak ada nabi yang diutus kepada suatu umat sebelumku kecuali memiliki para pembela dari umat mereka. Dia juga mempunyai sahabat yang memegang sunnahnya dan mengikuti perintahnya. Setelah itu, datanglah generasi yang jahat. Mereka mengucapkan sesuatu yang tidak mereka lakukan. Mereka melakukan sesuatu yang tidak diperintahkan kepada mereka. Barang siapa memerangi mereka dengan tangannya, dia adalah seorang mukmin. Barang siapa memerangi mereka dengan hatinya, dia adalah seorang beriman. Barang siapa memerangi mereka dengan lisannya, dia adalah seseorang yang beriman. Di belakang ini, tidak ada iman sebesar biji sawi pun.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Semakin dekat suatu generasi dengan sumber kemurnian agama, semakin dekat pula jaminan kemurniannya. Sebab, mereka langsung menimba kebenaran itu dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Ucapan mereka adalah ucapan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Perbuatan mereka adalah perbuatan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Jalan mereka adalah jalan Rasululah shallallahu alaihi wa sallam. Ibadah mereka adalah ibadah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Akidah mereka adalah akidah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Demikian pula, akhlak mereka adalah akhlak Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.

Ringkasnya, jika kita menginginkan kemurnian syariat itu, kembalilah kepada mereka yang mendapatkan kemurnian syariat, yaitu para sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Kepada merekalah kita merujuk. Kemurnian Islam ada pada ajaran Islam yang mereka pahami, yang mereka amalkan, dan yang mereka dakwahkan.

Maka dari itu, ikutilah jalan mereka! Jalan, akidah, ibadah, dan akhlak mereka telah diridhai oleh Allah subhanahu wa ta’ala dari atas ‘Arsy-Nya.

Wallahu a’lam.

Sumber Bacaan

  • Al-Qur’an
  • Riyadhush Shalihin, an-Nawawi
  • Taisirul Karimir Rahman, Syaikh as-Sa’di
  • Syarah al-‘Aqidah al-Wasithiyah, Syaikh Ibnu Utsaimin
  • Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah, Syaikh al-Albani
  • Makanatu Ahlil Hadits, Syaikh Rabi’ bin Hadi al-Madkhali

Ditulis oleh Ustadz Abu Usamah Abdurrahman an-Nawawi

sumber: https://asysyariah.com/kemurnian-agama-bersama-salaf/

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here