Islami.co, (Haji 2024) – Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Buya Anwar Abbas mengatakan bahwa fasilitas haji tahun ini jauh lebih baik dari tahun-tahun terdahulu.

“Saya terus terang, dan kesimpulan saya, sarana prasarana jauh lebih bagus dari yang dulu,” ujar Buya Anwar saat meninjau Muzdalifah, Selasa (11/06).

Ulama yang didaulat menjadi Naib Amirul Hajj 2024 ini mengaku terakhir kali menunaikan haji adalah pada 2019 dan 2008 silam.

“Tahun 2019 haji, tahun 2008 haji, tahun 2024 ini juga, dan nampaknya pemerintah Saudi serius menyiapkan dan menyenangkan hati para jemaah,” ungkapnya.

Buya Anwar lalu mengenang kondisi di Muzdalifah pada tahun-tahun tersebut. Menurut ingatannya, saat itu masih belum banyak bangunan, sehingga lahan kosong yang tersedia masih luas.

“Saya tahun 2008 haji, tahun 2019 haji, tempat di sini masih luas. Sehingga, kalau mobil parkir di sini, meskipun sempit-sempit tapi mampu lah menampung. Tapi sekarang banyak bangunan, di sini ada toilet,” kenangnya.

Mengingat banyaknya bangunan yang didirikan, Buya Anwar berpendapat bahwa mustahil mobil-mobil dari Arafah berhenti di Muzdalifah semua. Hal itu dapat menyebabkan terjadinya penumpukan jemaah.

“Sehingga diperlukan ijtihad ulama, dan Majelis Ulama Indonesia sudah membuat fatwa. Artinya, jemaah tertentu yang sakit dan berisiko tinggi, untuk keselamatan mereka, lebih baik lanjut ke Mina,” bebernya.

Untuk diketahui, pada Ijtima’ Ulama VIII Komisi Fatwa MUI se-Indonesia di Bangka Belitung, Kamis (30/5/2024) lalu, diputuskan bahwa mabit di Muzdalifah dengan skema murur hukumnya adalah sah.

“Itu ada alasannya, (yaitu) masyaqqah, kesulitan. Dalam maqashid syariah ada hifdz an-nafs, ada pertimbangan keselamatan jemaah,” terang Anwar Abbas.

Baca Juga: Begini Skema Murur di Muzdalifah Pada Musim Haji 2024

Ketua PP Muhammadiyah ini menjelaskan, mabit dengan skema murur dihukumi sah dengan ketentuan bahwa skema ini dilaksanakan pada malam hari, terhitung sejak matahari terbenam.

“Memang ada ulama menyatakan lewat jam 12 malam, tapi situasi dan kondisinya tidak memungkinkan. Melihat space (ruang) sekarang ini, saya punya kesimpulan memang tidak mungkin,” paparnya.

Buya Anwar menegaskan, keselamatan jemaah haji, khususnya para lansia dan jemaah beresiko tinggi, itu lebih utama. Sehingga, mabit di Muzdalifah bagi mereka tidak perlu dilaksanakan dalam waktu yang lama.

“Kita harus menjaga jemaah yang berisiko tinggi. Menyelamatkan jemaah jauh lebih penting daripada mereka meninggal di sini. Ketentuan tentang mabit di Mina bagi mereka cukup sebentar saja,” tegasnya.

Ia berharap haji tahun ini berjalan dengan lancar tanpa ada hambatan. Ia juga berpesan kepada para jemaah agar pada saat wukuf di Arafah tidak terlalu sering berada di luar.

“Kalau kita wukuf di Arafah, lebih sering di dalam, jangan di luar karena suhunya sangat panas, 44 derajat celcius,” tutur Anwar Abbas.

“Kalau mau berwudhu jangan langsung pegang air. Tadi saya coba, langsung terkejut saking panasnya. Supaya tidak terkejut, ambil air setelah keluar beberapa detik,” pungkasnya.

 

Editor: M. Naufal Hisyam