Maher At-Thuwailibi emosi. Pasalnya, Nikita Mirzani mengomentari kepulangan Habib Rizieq Syihab. Lewat sebuah video, Maher mengancam akan mengepung kediaman Nikita. Bahkan, pendakwah bernama asli Soni Eranata itu mengklaim akan membawa 800 laskar.

Rupanya, Maher keliru memilih lawan. Di Twitter, warganet ramai-ramai memberikan dukungan kepada Nikita lewat tagar #KitaNikita beberapa waktu lalu. Hingga artikel ini ditulis, percakapan tentang Nikita, Maher, dan puncaknya adalah HRS masih ramai diperbincangkan.

Bukan kali ini saja Maher bikin ulah. Di belahan feed yang lain, dia kedapatan mebercandai Habib Luthfi dengan caption yang cukup mengundang kegaduhan. Lebih dari itu, dia juga kerap menggunakan diksi bernada kekerasan untuk menunjukkan ketidaksepakatannya dengan mereka yang berbeda.

Bagi saya, fenomena pendakwah setamsil Maher ini memang menjengkelkan. Meski begitu, saya terkadang merasa iri hati dengan keberanian dia dan kevokalannya dalam mengumandangkan ajaran Islam.

Persoalannya, ajaran Islam yang mana?

Memang, Islam itu satu. Saya sepenuhnya mengimani itu. Tapi, percayalah, tafsir tentang Islam sangatlah beragam. Dan boleh jadi, tafsir Islam yang sampai kepada Maher baru sebatas Islam yang meradang, dan meradang, dan meradang. Apakah itu keliru? Tidak juga.

Tarikh kita memang mencatat bahwa peradaban Islam sendiri pernah berada di tahap ditindas, dizalimi, dan dinistakan. Itulah kenapa sejumlah ayat al-Quran dan sabda Nabi Muhammad yang tercatat dalam riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim menggarisbawahi bahwa terkadang kita perlu berseteru kepada para musuh Islam.

Masalahnya, siapa musuh Islam dan kenapa kita harus melawan?

Di masa lalu, eksistensi musuh Islam itu sangatlah benderang. Saat itu, oposan Nabi Muhammad terang-terangan menyatakan ketidaksukaannya kepada Islam. Karenanya, Beliau SAW menegaskan bahwa perjuangan membela marwah agama adalah sebuah jihad suci.

Sialnya, jihad suci telah disalahpahami. Hari ini, orang bisa dengan mudah mengklaim sedang membela agama, namun di saat yang sama justru menciptakan kegaduhan sosial dan pada derajat tertentu menyebabkan huru-hara.

Fenomena setamsil Maaher itu jelas bukan satu-satunya. Masih ada sejumlah jelmaan penghasut lainnya yang bersembunyi di balik kemegahan jubah Islam. Artikulasi mereka membangkitkan heroisme, narasinya yang meledak-ledak menggugah emosi, dan pesan ideologisnya adalah bagaimana agar Islam terlihat adikuasa, gagah, dan mankutkan.

Padahal, Islam hadir bukan untuk alasan remeh-temeh begitu. Islam hadir tidak untuk menguasai. Islam juga hadir tidak untuk gagah-gagahan. Dan, Islam tidaklah hadir agar ditakuti.

Dalam sebuah sabda yang cukup masyhur bagi umat Muslim, Nabi Muhammad bersabda bahwa alasan kenapa Beliau SAW dilantik menjadi Rasul semata-mata adalah untuk menyempurnakan akhlak.

Nah, karena menyempurnakan akhlak, maka yang dilakukan Nabi sewaktu pulang ke Mekah (fath al-Makkah) adalah memberi amnesti massal.

Betapa tidak, sewaktu 10.000 pasukan muslim memasuki Mekkah, seorang prajurit bernama Sa’ad bin ‘Ubadah yang bertugas membawa bendera berteriak lantang di depan salah satu elit Quraisy, Abu Sufyan.

“Ini hari pembalasan (malhamah); semua yang diharamkan kini dihalalkan; kaum Quraisy akan dihinakan!!!”

Terang saja, menciutlah nyali Abu Sufyan. Sejurus kemudian, Abu Sufyan mengkonfirmasi kepada Nabi Muhammad atas peristiwa intimidatif itu.

Nabi Saw bersabda, “hari ini adalah hari kasih sayang (marhamah), hari yang akan memuliakan kaum Quraisy dan mengagungkan Ka’bah.

See?? Itulah akhlak Nabi: akhlak yang mungkin saja alpha dari frekuensi orang-orang setamsil Maheer dan mereka-mereka yang isi dakwahnya hanya penuh dengan umpatan, cacian, dan ancaman.

Lebih dari itu, jika ada orang yang mengklaim akan melakukan revolusi akhlak, namun hobinya adalah ancam sana-sini atau malah bersikap arogan menang-menangan, maka terus terang, saya tidak mengerti akhlak ordo mana yang sedang diperagakan.



LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here