Bulan Rabiul Awwal yang agung sudah berlalu. Perayakan maulid nabi diadakan dengan penuh suka cita. Selain melantunkan tembang-tembang rindu dan syair-syair cinta pada sang baginda, kita juga penuh bangga memeriahkan kelahiran paling agung ini dengan banyak mengaji buku-buku sirah, membuka lembaran madah-madah indah yang ditulis para pujangga dan meneguk mata air keteladanan dari setiap jejak dan langkah Sang Rasul.

Meski bulan Maulid sudah usai, namun harapan-harapan indah untuk berjumpa dengan Sang Baginda tak akan pernah lekang.

Dari yang paling klasik hingga yang termutakhir, sudah banyak sekali buku-buku tentang Nabi Muhammad ditulis, mulai dari sirah, pesan-pesan kebijaksanaan, juga syair-syair cinta. Namun ada buku cukup menarik yang ditulis oleh seorang ulama besar dan motivator berpengaruh dari Arab Saudi, Aidh al-Qarni, berjudul Muhammad Kaannaka Tarahu (Seolah Engkau Melihat Nabi Muhammad), terbit pertama kali pada tahun 2002.

Buku setebal 164 halaman ini membahas fase hidup dan perjalanan dakwah Nabi secara ringkas dan padat, meski tidak berdasarkan urutan waktu dan peristiwa. Dalam buku ini, Aidh al-Qarni menggambarkan Nabi Muhammad sebagai manusia agung yang bisa dilihat dari berbagai sisi kepribadian penuh hikmah dan kearifan.

Dengan gaya bahasa yang menggugah, Aidh al-Qarni menghadirkan sosok Nabi Muhammad dari berbagai sisi teladan, baik sebagai manusia, sebagai Nabi dan Rasul, sebagai pemimpin dan pengayom umat.

Yang membuat buku ini kian menarik adalah penggambaran Nabi Muhammad dalam bait-bait puisi. Aidh al-Qarni selalu melengkapi setiap bagian pembahasannya dengan puisi-puisi indah. Namun sayangnya, Aidh al-Qarni tidak pernah tegas mengatakan dari mana bait-bait puisi itu dikutip. Atau jangan-jangan, semua puisi dalam buku ini merupakan buah karya Aidh al-Qarni sendiri? Sayangnya tidak.

Ada sejumlah bait puisi yang secara tegas diakui sebagai hasil karyanya, namun ternyata itu hanyalah salin-tempel belaka. Dan parahnya, yang ia comot adalah puisi penyair besar Nizar Qabbani yang nyaris semua orang Arab mengenal dengan baik puisi-puisinya.

Pada bagian pengantar di halaman 13, al-Qarni menuliskan:

Sesungguhnya aku menulis tentang lelaki paling istimewa, sosok paling agung, insan paling mulia dan makhluk paling suci di semesta. Sumber rujukanku dalam menulis adalah buku cinta yang terpendam di kedalaman sanubariku. Referensiku dalam menulis adalah puisi kekaguman yang terpatri dalam ingatanku. Seolah aku sedang menulis dengan seluruh syaraf tubuhku dan pembuluh darah jantungku. Seolah-olah tintaku adalah air mata darah.

Pernyataan al-Qarni di atas secara tidak langsung hendak menegaskan bahwa yang ia tulis merupakan apa yang sudah terekam dalam hati dan ingatannya. Baru setelahnya, ia menulis bait-bait puisi yang hanya sedikit modifikasi dari puisi Nizar Qabbani:

Versi al-Qarni di buku ini

زمانك بستان “وعهدك” أخضر

وذكراك عصفور من القلب ينقر

 

Versi Nizar

زمانك بستان “وعصرك” أخضر

وذكراك عصفور من القلب ينقر

 

Versi al-Qarni di buku ini

وكنت فكانت في الحقول سنابل

وكانت عصافير وكان صنوبر

لمست أمانينا فصارت جداولا

وأمطرتنا حبا ولا زلت تمطر

 

Versi Nizar

وكنت فكانت في الحقول سنابل

وكانت عصافير وكان صنوبر

لمست أمانينا فصارت جداولا

وأمطرتنا حبا ولا زلت تمطر

Versi al-Qarni di buku ini

تعاودني ذكراك كل عشية

ويورق فكر حين فيك أفكر

وتأبى جراحي أن تضم شفاهها

كأن “جرح” الحب “لا يتخثر”

 

Versi Nizar

تعاودني ذكراك كل عشية

ويورق فكر حين فيك أفكر

وتأبى جراحي أن تضم شفاهها

كأن “جراح” الحب “لا تتخثر”

 

Versi al-Qarni di buku ini

أحبك لا تفسير عندي لصبوتي

أفسر ماذا والهوى لا يفسر

تأخرت يا “أعلى” الرجال، فليلنا

طويل وأضواء القناديل تسهر

 

Versi Nizar

أحبك لا تفسير عندي لصبوتي

أفسر ماذا والهوى لا يفسر

تأخرت يا “أغلى” الرجال، فليلنا

طويل وأضواء القناديل تسهر

 

Terjemahan lengkap puisi di atas bisa Anda baca dalam buku terjemahan saya, Tanah yang Terjajah karya Nizar Qabbani terbitan Diva Press. Di sisi saya kutip sebagian saja:

 

Zamanmu adalah kebun

Masamu penuh penghijauan

Mengenangmu seperti burung pipit

Yang mematuk dari dalam hati

Setelah kau ada

Tangkai-tangkai di ladang tumbuh

Juga pohon cemara

Dan burung-burung pipit tercipta

Kau menyentuh angan-angan kami

Ia lalu menjadi kenyataan

Kau menghujani kami dengan cinta

Hingga kini hujannya belum juga mereda

….

Dari keseluruhan bait di atas, ada 4 modifikasi yang dilakukan oleh Aidh al-Qarni atas puisi Nizar Qabbani.

Pertama, al-Qarni menggunakan kata ‘ahd (masa) sebagai ganti ‘ashr (masa) versi Nizar.

Kedua, al-Qarni menggunakan kata jurh (luka) sebagai ganti kata jirah (luka) versi Nizar.

Ketiga, al-Qarni menggunakan kata yatakhattsar (membeku, mengeras) sebagai ganti tatakhattsar (membeku, mengeras) versi Nizar, perbedaan antara keduanya hanyalah pada perubahan kata ganti pihak ketiga maskulin ke pihak ketiga feminim.

Keempat, al-Qarni menggunakan kata a’la (paling tinggi) sebagai ganti aghla (paling istimewa/berharga) versi Nizar. Selebihnya, semuanya sama persis.

Bagi saya, sangat tidak masuk akal bila al-Qarni melakukannya secara kebetulan atau tidak sengaja, sebagaimana klaim pembelaan yang dilakukan oleh sejumlah pendukung fanatiknya.

Aidh al-Qarni hanya memanfaatkan nama besarnya untuk mencomot teks sana-sini yang dianggap cocok dengan seleranya lalu dibubuhkan tanda tangan seolah merupakan karyanya sendiri. Dan parahnya, hampir tak ada buku al-Qarni yang tidak meledak di pasaran.

Bahkan di Indonesia, buku-bukunya terbilang laris dan beberapa best seller. La Tahzan, adalah mahakarya al-Qarni yang paling sukses membuat namanya dikenal luas sebagai ulama dan motivator muslim berpengaruh.

Namun terlepas dari problem pencurian yang dilakukan al-Qarni atas puisi Nizar Qabbani, ada dua persoalan yang menurut saya menjadikan kasus ini jauh lebih problematik dan menyedihkan.

Pertama, Aidh al-Qarni terlalu ceroboh melakukan salin-tempel atas karya nama besar Nizar Qabbani. Harusnya dia tahu kalau puisi-puisi Nizar banyak dihafal oleh masyarakat Arab. Atau sekurang-kurangnya, masyarakat Arab tak akan asing dengan puisi Nizar. Nizar adalah nama besar yang mempengaruhi banyak intelektual dan sastrawan Arab, terutama dalam ekspresi puitika dalam bahasa Arab modern.

Kedua, kesalahan terbesar al-Qarni dalam kasus ini adalah dia menulis puisi cinta untuk mengagungkan Nabi Muhammad dengan mencuri puisi Nizar Qabbani yang maksud si penyair dalam puisinya adalah untuk meratapi sekaligus memberikan penghormatan kepada seorang jenderal, politisi dan pemimpin besar Mesir, Gamal Abdel Nasser. Puisi Nizar tersebut berjudul Ilaihi fi Yaumi Miladihi (Kepada Gamal Abdel Nasser di Hari Ulang Tahunnya).

Semasa hidupnya, Nizar Qabbani menjadi saksi atas banyak tragedi dan peristiwa penting yang terjadi di dunia Arab. Keterpurukan demi keterpurukan bangsanya dapat terbaca dengan jelas dan lugas lewat puisi-puisi politiknya.

Salah satu sosok yang membuat harapan Nizar tak pernah padam adalah Gamal Abdel Nasser. Berkali-kali ia menulis puisi tentang pemimpin terbesar dalam sejarah Arab modern ini. Eugene Rogan mengatakan bahwa Nasser adalah penguasa yang tak ada duanya. Menurutnya, tak ada pemimpin Arab yang memiliki pengaruh seperti Nasser di panggung Arab, baik sebelum atau sesudahnya.

Nasser memang mengagumkan, puisi yang ditulis Nizar untuknya juga tak kalah mengagumkan. Namun bagaimana ketika puisi ini dicuri oleh seorang ulama besar dan motivator muslim berpengaruh untuk mengagungkan Nabi Muhammmad? Bagi saya, tindakan al-Qarni dalam kasus ini sama seperti orang yang memberi kekasihnya setangkai bunga dari bekas pemberian orang lain untuk kekasihnya.

Di tulisan berikutnya, saya akan melanjutkan pembahasan yang menyangkut kasus plagiasi Aidh al-Qarni atas sejumlah penulis dan sastrawan Arab lainnya.

Allahumma shalli ‘ala Muhammad. Wallahua’lam.

(AN)