Di suatu zaman, hidup seseorang, sebut saja Ahmad. Dalam satu kesempatan, ia melakukan perjalanan laut bersama beberapa orang, dengan sebuah kapal. Ia membawa bekal uang sepuluh ribu dinar.

Ketika sedang berada di laut lepas, ia dan seluruh penumpang mendengar ada suara berkata, “Siapa yang mau aku beri tahu sebuah kalimat, dimana jika ia membacanya, maka ia akan terbabas dari segala kesulitan dan bahaya. Allah akan selalu membantunya”.

“Saya,” jawab Fulan singkat.

Suara itu pun lantas memberikan syarat, yakni Ahmad harus melemparkan uang sebanyak seribu dinar yang ia bawa itu ke laut. Ahmad melakukannya. Suara itu lantas berkata, “Bacalah ayat ini!”, sambil mendektekan potongan ayat kedua dan ayat ketiga surat al-Thalaq:

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا * وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا

“…Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya, dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu.” (QS. Al-Thalaq [65]: 2-3)

Penumpang lain mengangap apa yang dilakukan Ahamd adalah tindakan konyol. Salah seorang dari mereka berkata dengan nada mengejek, “Kalau cuma ayat itu, semua orang juga bisa membacanya. Namun sayang, kini uangmu telah hilang di telan laut.”

Kalimat itu selesai sempurna, badai segera datang dan menghantam kapal mereka. Kapal pun pecah. Semua orang tenggelam, kecuali Ahmad. Ia bisa selamat dengan lantaran menaiki sebuah kapal dan membaca secara berulang-ulang ayat yang diajarkan itu. Papan yang ia naiki itu akhirnya membawanya ke sebuah pesisir pantai.

Di pesisir, ia melihat ada sebuah gedung dan seorang perempuan yang duduk di dekatnya. Ahmad menghampiri perempuan itu dan ia ditanyai, “Siapa kamu?”.

Ahmad menjelaskan siapa dia dan apa yang baru saja ia alami. Perempuan itu memberi tahu tentang identitasnya, ia adalah perempuan dari Bashrah. Ia juga mengatakan, “Gedung ini dihuni oleh Jin Ifrit yang suka mengambil barang-barang yang tenggelam di laut kemudian ia bawa ke sini.”

Perempuan itu juga memberi saran kepada Ahmad agar ia segera pergi meninggalkan gedung itu sebelum jin itu datang dan menyakitinya. Dan benar, ketika mereka berdua sedang berdialog, jin itu datang dengan menampakkan dirinya sebagai bayangan hitam.

Ahmad segera membaca ayat diijazahkan kepadanya oleh suara tanpa rupa sebelumnya. Jin Ifrit kepanasan dan terbakar. Ia pun menjadi abu. Setelah itu, Ahmad mengajak perempun itu untuk  meninggalkan lokasi tersebut.

Mereka mengambil benda-benda ringan nan berharga yang ada di gedung dan bergegas menuju bibir pantai. Ketika ada kapal yang lewat, mereka melambaikan tangan tanda meminta bantuan. Kapal pun menghampiri mereka dan akhirnya membawa mereka ke Bashrah.

Sesampainya di Bashrah, perempuan itu menyuruh Ahmad untuk mendatangi sebuah desa tertentu dan mengabarkan keberadaan dirinya. Ahmad melakukannya. Di hadapan para penduduk desa yang ternyata kebanyakan adalah keluarga si perempuan, ia ceritakan kejadian yang mereka berdua alami.

“Ia adalah perempuan yang hilang sejak tiga tahun lalu,” kata mereka.

Ahmad akhirnya mengajak mereka untuk menemui si perempuan. Ketika bertemu dengan perempuan itu, mereka langsung memeluknya, tanda mereka sangat merindukannya. Perempuan itu berkata, “Ahmad ini adalah lelaki yang telah berjasa besar dalam hidupku. Maka, berkenanlah untuk menikahkanku dengannya”

Ahmad dan perempuan itu akhirnya menikah dan menjalin mahligai rumah tangga. Alhamdulillah.

Kisah ini ditulis Ibnu Jauzi dalam kitab ‘Uyun al-Hikayat. Meski oleh Ibnu Jauzi, kisah ini diberi judul “Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya”, namun lewat kisah ini kita juga bisa belajar tentang keikhlasan menolong orang lain, seperti yang dilakukan Ahmad. Wallahu a’lam.

 

Sumber:

Ibn al-Jauzi, Jamaluddin Abi al-Farj bin. ’Uyun al-Hikayat. Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyah, 2019.