Dalam kunjungannya ke suatu daerah, Zulkarnain melihat penduduk daerah tersebut sangat miskin. Kehidupan yang ada di sana tak seperti kehidupan di negeri lain pada umumnya. Sungguh hal ini membuat Zulkarnain penasaran.

Mereka tidak memakan daging, hanya mengkonsumsi sayuran dan tumbuh-tumbuhan. Kegiatan mereka sehari-hari adalah menggali kuburan dan melaksanakan shalat di dekat kuburan itu.

Zulkarnain mengutus seseorang untuk mengundang pemimpin/raja yang berkuasa di daerah itu. Sebut saja namanya Fulan. Namun, Fulan menolak undangan itu.

“Saya tak punya urusan dengan Zulkarnain,” kata Fulan memberi alasan.

Merasa undangan darinya tak diindahkan, Zulkarnain akhirya datang sendiri kepada Fulan. Kepada Fulan, Zulkarnain menjelaskan alasan kedatangannya itu, yakni karena Fulan tak berkenan diundang.

“Jika saya butuh kepada Anda, maka saya akan mengunjungi Anda,” kata Fulan menegaskan alasan keengganannya datang.

Pada kesempatann itu, Zulkarnain menanyakan tiga hal yang dilihat sebelumnya, yakni terkait kehidupan yang serba apa adanya, galian kuburan yang mereka buat dan mereka shalat di dekatnya, serta alasan mengapa mereka hanya mengkonsumsi sayuran saja.

Ketiga pertanyaan itu dijawab Fulan dengan jawaban yang sangat baik dan logis khas seorang sufi.

Pertama, tentang kehidupan yang apa adanya. Alasannya adalah ketika manusia berhasil memiliki dunia, maka ia akan merasa kurang dan kurang terus menerus. Mereka tak  akan pernah merasa puas.

Kedua, kuburan dan shalat di dekatnya. Shalat di dekat kuburan itu dilakukan untuk menyadarkan diri mereka sendiri jika tiba-tiba hasrat untuk memiliki dunia muncul. Dengan demikian, hasrat itu bisa ditahan.

Ketiga, hanya memakan sayuran. Fulan memberi alasan, hal itu sudah cukup untuk mengisi perut, sehingga tak butuh lagi daging. Bahkan, ia menegaskan, makanan apapun jika sudah melewati mulut, maka sama saja: tak ada rasanya sama sekali.

Lantas, Fulan mengambil sebuah tengkorak kepala. “Tahukah kamu tengkora siapa ini?.”

“Tidak,” kata Zulkarnain.

Fulan menjelaskan, tengkorak itu adalah tengkorak seorang raja, dimana semasa hidupnya ia sangat zalim terhadap rakyat. “Ia akan mendapatkan balasan kelak di akhirat,” tegas Fulan.

Ia kembali mengambil satu tengkorak lagi dan menanyakan apakah Zulkarnain mengetahuinya. “Tidak,” kata Zulkarnain sama seperti sebelumnya.

Fulan lantas juga menjelaskan tentang bagaimana biografi tengkorak itu. Menurut Fulan, tengkorak itu adalah tengkorak seorang raja yang menggantikan raja zalim sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya. Namun, dalam memimpin, raja yang satu ini sangat adil.

“Karenanya, ia akan mendapatkan balasan dari apa yang telah ia kerjakan di dunia,” ucap Fulan.

Sembari memegang kepala Zulkarnain, Fulan menyuruhnya untuk memilih hidup seperti apa yang akan ia jalani, apakah seperti raja yang zalim atau raja yang adil.

Di penghujung pertemuan itu, sebelum undur diri, Zulkarnain menawari Fulan sebuah jabatan menteri. Tawaran itu ditolak. Alasannya ia tak akan pernah bisa bersama bersama Zulkarnain.

“Kok bisa?,” tanya Zulkarnain penasaran.

“Ini disebabkan semua orang adalah musum bagimu dan kawan bagiku,” kata Fulan.

Kalimat itu ternyata membuat Zulkarnain tambah penasaran. Ia pun meminta penjelasan lebih lanjut. “Orang-orang memusuhimu karena kekuasaan dan kekayaan yang kamu miliki. Sedangkan aku, tak akan ada orang yang memiliki kepentingan untuk memusuhiku, karena memang aku miskin,” jawab Fulan penuh wibawa.

Kisah ini penulis baca dari kitab ‘Uyun al-Hikayat. Apa yang dikatakan Fulan pada bagian terakhir kisah ini menunjukkan bahwa—meski tidak semua—dunia acapkali menjadi penyebab perpecahan. Betapa banyak persaudaraan dan persahabatan yang rusak karena dunia. Semoga Allah SWT jauhkan kita dari fitnah dunia. Amin.

 

Sumber Kisah:

Ibn al-Jauzi, Jamaluddin Abi al-Farj bin. ’Uyun al-Hikayat. Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyah, 2019.