Beberapa pasukan Harun al-Rasyid ditangkap dan ditahan oleh sepuluh pembegal. Namun akhirnya, mereka berhasil membebaskan diri. Hal itu pun ia ceritakan kepada sang khalifah. Mereka bertanya, “Apakah engkau perintahkan kami untuk menangkap mereka?”

Permintaan itu disetujui Harun. Tak butuh waktu lama setelah itu, para pembegal itu berhasil ditangkap. Sayangnya, di tengah jalan, satu dari sepuluh (si A) melarikan diri dan para pasukan tak bisa menangkapnya lagi karena terlalu lelah.

“Jika kita hanya membawa sembilan orang  pembegal ini ke hadapan sang khalifah, maka niscaya ia (sang khalifah) akan menuduh kita telah menerima suap dari si A dan membiarkannya pergi. Kita pasti akan mendapat hukuman atas hal ini. Usulku, mending kita tangkap saja salah satu musafir yang kita temui nanti di jalan sebagai ganti si A,” kata salah satu dari prajurit kepada kawan-kawannya dan mereka pun setuju.

Beberapa waktu kemudian, seseorang yang hendak berhaji (sebut saja Fulan) lewat di dekat mereka. Sesuai rencana, para pasukan Harun lalu menangkapnya. Sepuluh orang ini lalu dibawa menghadap Harun.

Ketika Harun sudah menerima kedatangan mereka, ia pun lantas memerintahkan mereka utnuk dimasukkan penjara. Beberapa waktu setelah itu, atas arahan Harun, salah seorang penjaga penjara berkata kepada mereka, “Apakah kalian memiliki kerabat yang bisa menolong kalian?”

“Iya,” jawab mereka.

Harun pun memerintahkan para pasukannya menemui kerabat para tahanan itu dan meminta mereka untuk menebusnya dengan harga sepuluh ribu dirham perorang. Kerabat dari sembilan pembegal itu membayar uang terbusan dan mereka dibebaskan. Namun hal demikian tak dialami oleh si Fulan (karena tak ada keluarganya yang datang menebus).

Fulan kemudian meminta bantuan kepada penjaga penjara, “Seandainya aku menulis surat, apakah engaku bersedia menyerahkannya kepada sang khalifah, Harun al-Rasyid?”

Penjaga penjara mengiyakan dan Fulan pun menulis surat yang isinya adalah sebagai berikut:

“Bismillahirrahmanirrahim. Dari hamba yang hina kepada Tuhan yang agung. Sungguh makhuk (sembilan pembegal itu) memiliki penolong yang telah membebaskan mereka dalam kasus kejahatan yang mereka lakukan. Mereka mendapat pertolongan dari khalifah (karena membayar tebusan) dan kini telah bebas. Saat ini, aku masih tinggal di dalam penjara seorang diri. Wahai Tuhan (Allah), Engkau adalah Zat yang menyaksikan dan mengetahui keadaan yang sebenarnya tentangku dan Engkaulah penolongku. Aku adalah hamba yang tidak berdosa”

Ternyata, setelah surat selesai ditulis, si penjaga penjara tak berkenan menyerahkan surat itu kepada Harun.  Ia pun menawarkan bantuan yang lain kepada Fulan, “Enaknya, surat ini aku taruh mana?”

Fulan memintaya menaruh di atap penjara. Tak lama, surat itu pun terbang ke langit.

Malam harinya, Harun bermimpi didatangi beberapa malaikat. Para malaikat itu membawa Harun ke langit dan berkata, “Wahai Harun, sembilan orang telah engkau tolong dan bebaskan dari penjara. Kini, tinggal satu orang. Ia akan ditolong dan dibebaskan oleh Allah. Lepaskan dia atau engkau yang akan hancur!”

Setelah bangun dari tidurnya, ia pun memanggil para penjaga penjara dan menanyakan ihwal si Fulan. Mereka pun menceritakan hal sebenarnya, termasuk identitas si tahanan yang aslinya adalah seseorang yang hendak berangkaut haji. Harun pun membebaskannya dan memberinya berbagai macam hal, yaitu: buah-buahan, pakaian, tujuh puluh hewan tunggangan, serta tujuh puluh pembantu laki-laki dan perempuan.

Harun pun menyuruh juru bicaranya untuk memberikan maklumat, “Siapa yang memohon pertolongan kepada makhluk, maka sang khalifah akan memberinya sepuluh seribu dirham. Dan siapa yang memohon pertolongan kepada Allah, maka sang khalifah akan memberikan ini semua”

Lewat kisah yang termaktub dari kitab al-Nawadir karya Ahmad Shihabuddin bin Salamah al-Qalyubi, kita jadi mengerti betapa pentingnya tentang berusaha semaksimal mungkin dan bertawakkal kepadaNya. Dalam kisah di atas, terbaca dengan jelas bahwa hanya menulis surat yang bisa dilakukan Fulan. Selepas itu pun ia bertawakkal. Allah berfirman, “…Siapa yang bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya…” (QS. Al-Thalaq [65]: 3).

Wallahu a’lam

 

Sumber:

Ahmad Shihabuddin bin Salamah al-Qalyubi, al-Nawadir (Jeddah: al-Haramain, n.d.), 15-17.