Dengan berbekal susu yang diwadahi sebuah kantong kulit, hari itu, Abu Ka’ab al-Haritsi pergi mencari untanya yang tersesat dan hilang entah kemana. Karena hanya membawa susu, ia merasa ada yang kurang dengan bekalnya tersebut.

“Bagaimana aku ini. Aku telah berbuat tidak adil kepada Allah SWT. Masak, aku hanya membawa susu untuk minum dan tidak membawa bekal air untuk berwudlu?,” Begitu kurang lebih kata al-Haritsi dalam hati.

Ia pun lantas berkeinginan untuk membawa air juga. Namun, apa boleh buat, kantong kulit yang ia milik hanya satu. Dengan demikian, ia tidak bisa membawa susu atau air dalam waktu bersamaan. Ia harus memilih satu antara dua benda cair itu. Dan ia memilih air.

Al-Haristi beralasan, air bisa sekalian untuk minum dan wudlu. Sedangkan susu hanya bisa untuk minum saja, tidak dengan wudlu.

Sejurus kemudian, susu yang telah ada kantong kulit itu pun ia pindahkan ke tempat lain dan tinggal di rumah. Dan ia mengisi kantong itu dengan air biasa. Setelah semua siap, ia pun berangkat mencari unta-untanya yang hilang itu.

Ketika berada di tengah perjalanan dan di kala ingin berwudlu, ia pun menuangkan air dari dalam kantong kulit itu. Yang keluar pun sama: air putih biasa. Ia berwudlu dengannya.

Namun, ketika ia merasa haus/lapar, keanehan terjadi. Yang keluar dari kantong kulit itu bukan air putih, namun susu. Peristiwa aneh itu selalu ia temui selama ia mencari untanya yang hilang, yakni dalam kurun waktu tiga hari.

Beberapa waktu setelah itu, ada seorang yang bernama Asma’ an-Najraniyah bertanya kepadanya tentang isi kantong kulit milik al-Haritsi itu, “Wahai al-Haritsi, yang keluar dari kantong kulit milikmu itu air campuran atau benar-benar susu murni?.”

Al-Haritsi menyatakan, air yang ia minum itu bisa mencegah lapar dan menghilangkan dahaga (maksudnya, air itu benar-benar susu, pen). Ia lantas bercerita bahwa suatu ketika, ia pernah menceritakan hal yang aneh bin ajaib itu kepada orang-orang sekitarnya. Kebetulan, salah satu dari mereka adalah Ali bin al-Harits, seorang tokoh dari Bani Fanan.

Setelah mendengarkan uraian al-Haritsi itu, Ali bin al-Harits menyatakan ketidakpercayaan terhadap hal itu. “Saya tidak yakin tentang apa yang engkau ceritakan itu,” katanya saat itu. Namun hal itu, dijawab oleh al-Haritsi dengan santai, “Allah maha mengetaui mana yang benar”.

Setelah itu, al-Haritsi pun lantas pulang ke rumah.

Keesokan harinya, di suatu pagi yang masih gelap, Ali bin al-Harits mendatangi rumah al-Haritsi. Merasa ada yang aneh karena didatangi pemuka Bani Fanan, al-Haritsi berkata, “Anda kok repot-repot datang ke sini segala. Mengapa Anda tidak menyuruh orang saja untuk memanggil saya agar saya mendatangi Anda?”.

Ali bin al-Harits menjawab bahwa hal itu ia lakukan karena teguranoleh seseorang kepadanya. Ceritanya, sebelum tidur semalam, tanpa diduga, ada seseorang datang dan menegurnya. Orang itu berkata, “Sungguh kamu adalah orang yang mendustakan (tidak percaya) kepada orang yang menceritakan dan menyiarkan nikmat-nikmat Allah SWT?”.

Kisah ini penulis baca dari kitab ‘Uyun al-Hikayat karya Ibnu Jauzi. Lewat kisah ini, kita bisa belajar betapa pentingnya mendahulukan ibadah dari pada urusan lainnya. Ketika ibadah didahulukan, maka Allah akan mencukupi kebutuhan kita yang lain.

Dari kisah di atas, kita bisa memahami bahwa ibadah bisa diibaratkan sebagai padi. Sedangkan selain ibadah itu ibarat rumput. Seseorang yang menanam padi, pasti akan ada rumput yang tumbuh. Namun tidak sebaliknya. Wallahu a’lam.

 

Sumber Kisah:

Ibn al-Jauzi, Jamaluddin Abi al-Farj bin. ’Uyun al-Hikayat. Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyah, 2019.