Selain beribadah kepada Tuhan, manusia memiliki tugas lain, yaitu menjadi khalifah. Yang dimaksud khalifah di sini bukan hanya menjadi pemimpin, tapi dalam artian yang lebih luas, yaitu menjadi penjaga bumi dan alam hayati. Selengkapnya dalam khutbah Jumat berikut.

Khutbah I: Apa Saja Tugas Manusia sebagai Khalifah di Bumi?

اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِىْ أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالْهُدىْ وَدِيْنِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلى الدِّيْنِ كُلِّهِ وَلَوْكَرِهَ الْمُشْرِكُوْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لآإِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلى خَاتَمِ اْلاَنْبِيَآءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ مُحَمَّدٍ وَّعَلى آلِهِ وَصَحْبِهِ أجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ اِتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah.

Manusia diciptakan oleh Allah bukan cuma-cuma. Manusia diciptakan oleh Allah dengan membawa amanah sebagai hamba Allah dalam arti seluas-luasnya. Dengan demikian ia harus mengabdi hanya kepada Allah semata. Manusia tidak boleh menjadi hamba selain Allah, termasuk hamba harta, hamba kekuasaan, hamba kemegahan, dan juga hamba ambisi-ambisinya.

Allah berfirman dalam Surat Adz-Dzariyat ayat 56.

وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Artinya, “Tidaklah Kami menciptakan jin dan manusia kecuali untuk menyembah-Ku,” (Surat Adz-Dzariyat ayat 56).

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah.

Manusia dalam kehidupan di dunia juga berdampingan dengan sesamanya dan lingkungannya. Manusia dituntut untuk bersikap harmonis kepada sesamanya. Manusia merupakan makhluk sosial di mana ia dituntut untuk menjaga hubungan baik, menjauhi tindakan kekerasan, menghindari sikap yang menyakitkan satu sama lain.

Pada saat yang bersamaan, manusia juga makhluk alam yang tidak dapat dipisahkan dari lingkungan sekitarnya. Allah menjadikan manusia sebagai khalifah yang merawat dan melestarikan bumi sebagaimana keterangan pada Al-Baqarah ayat 30:

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ

Artinya, “Ingatlah ketika Tuhanmu berkata kepada malaikat, ‘Aku akan menjadikan khalifah di muka bumi,’ mereka menjawab, ‘Apakah Engkau akan menjadikan orang yang berbuat kerusakan dan menumpahkan darah di atasnya. Sedangkan kami bertasbih memuji dan menyucikan-Mu?’ ‘Aku mengetahui apa yang tidak kalian ketahui,’ kata Allah,” (Surat Al-Baqarah ayat 30).

Pada Surat Al-Baqarah ayat 30, Allah menyebut tugas manusia sebagai khalifah yang mengemban misi sosial, yaitu perdamaian; dan misi alam, yaitu pelestarian lingkungan.

Imam Al-Baidhawi dalam tafsirnya mengatakan, khalifah secara bahasa adalah orang yang menggantikan pihak lain dan menempati posisi pihak yang digantikan. Khalifah yang dimaksud pada ayat ini adalah Nabi Adam as karena ia adalah khalifah Allah di bumi. Demikian juga setiap nabi sesudahnya yang dijadikan oleh Allah sebagai khalifah untuk merawat bumi, mengatur keharmonisan manusia, menyempurnakan kemanusiaan, dan melaksanakan perintah-Nya.

Sebagai khalifah, manusia bertanggung jawab atas kelestarian lingkungan. Manusia dengan kesadarannya memikul tanggung jawab dalam menjaga lingkungan sebagai tempat makhluk hidup dan juga dirinya.

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah.

Amanah pelestarian lingkungan tidak hanya menjadi tanggung jawab para nabi, tokoh agama, dan aktivis lingkungan. Amanah pelestarian lingkungan menjadi tanggung jawab semua manusia sebagaimana keterangan Surat Al-An‘am ayat 165 dan Surat An-Naml ayat 62.

وَهُوَ الَّذِي جَعَلَكُمْ خَلائِفَ

Artinya, “Dia yang menjadikan kalian khalifah,” (Surat Al-An‘am ayat 165).

وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَاءَ

Artinya, “Dia menjadikan kamu sebagai khalifah,” (Surat An-Naml ayat 62).

Dari sini jelas bagaimana tugas manusia dari satu ke generasi berikutnya mengemban amanah yang sama, yaitu menjaga kelestarian lingkungan hidup. Sebagai makhluk yang aktif dan memiliki daya jangkau, manusia paling bertanggung jawab terhadap kerusakan lingkungan. Oleh karena itu, Al-Qur’an dalam Surat Ar-Rum ayat 41 menyebutkan:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

Artinya, “Kerusakan tampak di darat dan di laut karena ulah tangan manusia sendiri agar Allah dapat menimpakan kepada mereka sebagian ulah tangan mereka agar mereka kembali,” (Ar-Rum ayat 41).

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah.

Kerusakan lingkungan mengalami percepatan luar biasa terlebih setelah revolusi industri di Eropa. Setelah mesin dan teknologi modern ditemukan, manusia berkontribusi besar terhadap kerusakan lingkungan yang demikian cepat. Kerusakan lingkungan bisa terjadi dalam bentuk pencemaran air, pencemaran tanah, krisis keragaman hayati, kerusakan hutan, kekeringan dan krisis air bersih, pencemaran udara, banjir lumpur, bencana longsor, perubahan cepat iklim dan cuaca, pemanasan global, dan bencana lainnya.

Dalam konteks ini, manusia di era sekarang ini tidak hanya dituntut untuk menjaga ketakwaan secara vertikal kepada Allah atau semacam kesalehan individual, tetapi juga menjaga kesalehan lingkungan yang diamanahkan Allah kepada manusia sebagai khalifah dan bentuk ketakwaan di era kekinian.

Menjaga kelestarian alam saat ini menjadi kesalehan lingkungan yang dituntut syariat. Untuk menuju kesalehan lingkungan, manusia saat ini dapat melakukannya dari hal-hal keseharian yang kecil seperti membuang sampah pada tempatnya, meminimalisir penggunaan plastik, mematikan alat elektronik yang tidak dipakai, mematikan lampu ruangan yang tidak digunakan, menggunakan alat transportasi publik untuk mengurangi emisi karbon, tidak membuang sampah rumah tangga, sampah industri, dan limbah kimia di sungai atau laut, menghindari zat kimia pada teknologi pertanian yang mencemari air dan tanah; meninggalkan cara-cara pembakaran untuk membuka lahan perkebunan dan perhutanan.

Menjaga lingkungan laut juga dapat dilakukan dengan cara penggunaan alat tradisional dalam menangkap ikan, menghindari alat-alat berat dan berbahaya dalam menangkap ikan, membersihkan sampah di bibir pantai, dan lain sebagainya. Kita juga wajib menjaga hutan dan melestarikan paru-paru bumi di kota-kota besar dengan penanaman pohon.

Rasulullah Saw. menganjurkan kita untuk menjaga lingkungan melalui penghijauan dalam sabdanya berikut ini:

عَنْ أَنَسٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم يَقُولُ مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَغْرِسُ غَرْسًا أَوْ يَزْرَعُ زَرْعًا فَيَأْكُلَ مِنْهُ طَيرٌ أَوْ إِنْسَانٌ إِلاَّ كَانَ لَهُ صَدَقَةٌ رواه البخاري ومسلم والترمذي

Artinya, “Dari sahabat Anas ra, Rasulullah saw bersabda, ‘Tiada seorang muslim yang menanam pohon atau menebar bibit tanaman, lalu (hasilnya) dimakan oleh burung atau manusia, melainkan ia akan bernilai sedekah bagi penanamnya,’” (HR Bukhari, Muslim, dan At-Tirmidzi).

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah.

Demikian sejumlah keterangan terkait tugas manusia sebagai khalifah di muka bumi. Semoga khutbah Jumat ini dapat menjadi bekal itu untuk meningkatkan ketakwaan kepada Allah swt dengan sebenar-benarnya dalam bentuk perawatan lingkungan. Amin.

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ. وَالْعَصْرِ (1) إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (2) إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ (3). بَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ بِاْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَالْآيَةِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأَسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ، إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم

Khutbah II

 اَلْحَمْدُ لِلَّهِ. أَشْهَدُ أَنْ لآ إلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ لَا نَبِيّ بعدَهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ القِيَامَةِ

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ فَقَالَ اللهُ تَعَالَى: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يٰأَ يُّها الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ اَللّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ، اَلْأَحْياءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ. اَللّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَاْلوَبَاءَ والرِّبَا وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتَنِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا إِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عامَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. اَللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. وَاَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ.

فَيَا عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتاءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشاءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَعَزَّ وَأَجَلَّ وَأَكْبَرْ

Baca juga teks khutbah Jumat yang lain di sini.

Download teks khutbah Jumat yang lain di sini.