Dalam Khutbah Jumat ini akan dijelaskan beberapa hal yang mengarah pada kesombongan. Oleh karena itu, jangan sombong! 

Teks Khutbah Jumat I: Jangan Sombong!

ألْحَمْدُ لِله الذِي أرْسَلَ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم بِكَامِلِ الشَّريْعةِ وخَالِصِ الدِّين. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ رَحْمَةً للْعَالَمِيْن. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أيُّهَا النّاسْ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ، وهُوَ مَعَ المُتَّقيْن. وقَالَ اللهُ تعالى فِي كِتَابِهِ الْكَريْم وهُوَ أصْدَقُ القَائِلين. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُوْنَ. صَدَقَ اللهُ الْعَظِيْم ونَحْنُ على ذلِكَ منَ الشَّاهِديْنَ والشَّاكِرِيْن.

Ma’asyiral muslimin Jamaah Jumat Hafidzakumullah

Alhamdulillah, puji syukur kita haturkan ke hadirat Allah SWT yang telah memberikan kesempatan kita untuk hidup dan melewati bulan maulid nabi yang mulia ini. Sudah selayaknya, kita sebagai umat Muhammad SAW bersyukur dan menggunakan waktu kita sebaik-baiknya untuk mengenal lebih dekat dan mengikuti jejak langkah akhlak beliau yang mulia.

Ma’asyiral muslimin Jamaah Jumat Hafidzakumullah

Suatu hari, seorang ksatria di medan perang memacu kudanya, diikuti ribuan pasukan. Ksatria itu percaya diri dengan pasukan yang dibawanya. Ia merasa bahwa pemenangnya sudah jelas. Karena bagaimanapun juga, prajuritnya lebih banyak dari pada tentara lawannya.

Rasa percaya diri itu terus dipupuk. Ksatria itu kemudian berduel melawan seorang prajurit khusus. Ia memenangkan duel maut itu. Ia pun menanting tentara terbaik yang lain. Rasa percaya diri yang ia miliki berubah menjadi kesombongan. Ia tak menyadari hal itu. Lawan duel kedua pun tumbang. Kehebatannya di medan tanding memang tak terkalahkan.

Komandan lawan mengetahui kalau sang ksatria keasyikan bertanding duel. Bukan malah menyiapkan pasukan terbaik, komandan lawan malah mengirim beberapa tentara amatir untuk gantian melawan duel sang ksatria. Sementara komandan lawan mengalihkan taktik dan menunggu kstaria itu lengah. Saat sang ksatria itu lengah, komandan lawan mengambil tombaknya dan melemparkannya ke arah sang kstria. Ksatria itu pun tewas karena kesombongannya. Pasukannya yang ribuan lari tunggang langgang.

Rasa percaya diri yang dimiliki ksatria itu pun pupus. Pasukannya habis karena tak memiliki pemimpin. Ia kalah telak. Mimpinya untuk memenangkan perang pun kandas. Begitulah kalau kesombongan sudah merengkuh hati. Tak sadar, kita diarahkan untuk hancur.

Begitulah salah satu kisah dan dongeng yang diceritakan para orang tua kita kepada anak-anaknya, agar sang anak mengetahui betapa bahayanya sikap sombong.

Ma’asyiral muslimin sidang Jumat yang dimuliakan Allah

Walaupun kisah tadi adalah dongeng, namun bukan berarti tidak bisa kita ambil sebagai pelajaran. Dongeng tersebut bahkan sesuai dengan penjelasan Imam al-Ghazali dalam salah satu karyanya yang fenomenal, yaitu Ihya UlumiddinKitab yang wajib dibaca dan dipelajari bagi siapapun yang salik,berada dalam jalan Allah SWT.

ِAl-Ghazali dalam kitabnya itu menjelaskan beberapa hal yang dapat membuat orang menjadi sombong dan akhirnya menuju gerbang kehancuran. Beberapa di antaranya adalah sesuai dengan kisah yang telah khatib ceritakan tadi, yaitu kekuatan (al-Quwwah) dan banyaknya pengikut (katsratul anshar wal athba’ wat talamidzah). Selain itu, ada juga ilmu (al-‘ilm), banyaknya ibadah (al-‘ibadah), harta benda (al-mal), ketampanan dan kecantikan (al-jamal), dan nasab keturunan (an-nasab). Oleh karena itu jamaah sekalian, hati-hati! Jangan sombong!

Baca juga: Teks Khutbah Jumat: Buruh dan Janji Allah SWT untuk Orang yang Memuliakannya

Hadirin Jamaah Jumat Hafidzakumullah

Dengan kekuatannya orang akan merasa bahwa yang lain lemah dan tak akan mampu melawan dirinya; Dengan banyaknya pengikut, orang akan merasa bahwa ia akan dibela dan diikuti banyak orang. Ia tak peduli walaupun perbuatannya tak elok dan tak pantas; Dengan banyak ilmu, orang bisa merasa bahwa orang lain tak lebih pandai dari dirinya; Dengan banyak ibadah, orang akan merasa bahwa ia lah hamba yang paling layak mendapatkan ridha Allah dan dikabulkan semua permintaanya; Dengan ketampanan, orang akan merasa banyak yang memuja dan mencintainya; Dengan nasab, orang merasa bahwa ia lah orang terbaik dan termulia.

Begitu mudahnya kita diarahkan setan menjadi pribadi yang sombong. Selama ini kita tidak tahu bahwa kelebihan-kelebihan yang kita miliki, seperti banyak pengikut yang akan membela kita kapanpun, akan hilang pada saatnya. Sekali saja Allah SWT membuka keburukan kita, aib kita di depan para pengikut kita, maka pengikut itu pun akan berubah menjadi haters. Begitu mudahnya Allah membalikkan keadaan.

Hadirin Jamaah Jumat Hafidzakumullah

Oleh karena itu, marilah kita berhati-hati. Mari kita jaga kelebihan-kelebihan yang kita miliki, kelebihan yang dititipkan Allah SWT kepada kita. Jangan sombong! Jangan sampai titipan yang berharga itu malah menjadi hal buruk bagi kita dan dapat menjerumuskan kita pada jurang terdalam, yaitu neraka Allah SWT.

Hadirin Jamaah Jumat Hafidzakumullah

Demikian khutbah singkat yang bisa kami sampaikan. Semoga dapat memberi manfaat bagi segenap jamaah sekalin, khususnya bagi khatib pribadi. Amin ya Rabbal Alamin.

وَالْعَصْرِ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْ

Baca juga: Khutbah Maulid Nabi: Sejarah Nama Muhammad SAW

Teks Khutbah Jumat II: Jangan sombong

اَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الصِّدْقِ وَالْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُه. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

Baca juga tulisan lain tentang teks khutbah Jumat dalam berbagai tema.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here