Ketika menyebut olahraga Islami, sepakbola jelas tidak masuk dalam kategori. Orang akan menyarankan untuk berkuda dan memanah saja. Sebab tidak lain dan tidak bukan kedua olahraga itu sudah jelas termaktub dalam hadis Nabi.

Mana ada olahraga yang mengumbar aurat itu—sepakbola—dinilai Islami?

Kalaupun jika diislamikan, yang artinya membolehkan bermain dan menikmati permainan sepak bola, maka tidak menutup kemungkinan jika nanti pemain sepak bola diharuskan mengenakan pakaian yang bersertifikat halal. Misal berlengan dan celana panjang.

Benar saja, perilaku seperti itu sudah direstui oleh Ust. Felix Siauw dan kawan-kawannya. Yang belakangan membuat vlog sedang berolahraga dengan pakaian Islami, baik sepakbola, futsal maupun bola basket. Tengoklah akun medsos mereka.

Sebagai usaha untuk menaruh orientasi hidup secara penuh di jalan agama, saya kira itu adalah hal baik. Bahkan mulia secara asas agama, kalau saya piker-pikir ulang. Sepanjang cara pikir itu tidak melukai pandangan yang tak sepaham.

Lalu, pertanyaan yang muncul belakangan, apa hubungan Islam dengan sepakbola? Selagi olahraga itu dimaknai sebagai ibadah, mungkin benar. Sebab dengan berolahraga badan menjadi sehat. Badan yang sehat dipakai beribadah akan enak dan di dalam badan yang sehat terdapat jiwa yang kuat. Begitu seterusnya.

Kebangkitan iman oleh banyak Sarjana Islam dinilai menjadi purbasangka penonjolan gejala identitas keagamaan di samping orientasi agama yang dikaitkan dengan pranata-pranata kehidupan. Segalanya dilabeli Islam, yang tidak Islami semuanya toghut dan haram. Meski, itu hanya sepak bola.

Lain cerita dengan kaum pesantren, ada secuil kisah menarik kala seorang kiai memberi kesempatan kepada para santri “agar bisa hormat atau melihat sepakbola sebagai hiburan yang sehat, bermanfaat (diniati hubbul wathon minal iman), maka ngajinya dimajukan.”

Kira-kira begitulah cuplikan memo yang sangkil dan mangkus yang terpampang di dinding komplek Madrasah Huffadh 2 Pondok Pesantren Almunawwir Krapyak Yogyakarta beberapa tahun silam (22/08/2017).

Memo itu merupakan bagian dari sikap al-Maghfurlah KH R Abdul Hafidh AQ dalam inisiatifnya menumbuhkan sikap tepo-sliro sekaligus uswah santri dalam mencintai negeri.

Kiai Hafidh tidak meliburkan ngaji. Ia mencoba mengambil jalan tengah dengan memajukan jadwal ngaji yang kebetulan bersamaan dengan jadwal timnas Indonesia melawan Vietnam pada Sea Games tahun 2017 silam.

Keputusan ini mengandung dua hal, pertama, kewajiban santri untuk mengaji tetap berjalan. Kedua, meberikan hak santri menikmati ‘hiburan sehat’.  Kedua hal tersebut tidak menjadikan keputusan yang diambil oleh Kiai Hafidh berat sebelah. Sikap ini sekilas senada dengan kaidah fikih dar’ul mafasid muqoddamun ala jalbil masholih. Ketiga, betapa Islam mengindahkan segala sesuatu yang dinilai oleh sebagaian orang sebagai hal yang kurang etis secara agama.

Kiai Hafidh yang juga pendukung Persiba Bantul tersebut merupakan adik dari KH R Najib Abdul Qodir, keduanya merupakan putra dari KH Abdul Qodir Munawwir. Secara nasab Kiai Hafidh berada di jalur cucu al Muqri’ KH Munawwir yang merupakan Guru Besar al-Quran Nusantara dan pendiri Pondok Pesantren Almunawwir Krapyak Yogyakarta.

Maka tidak heran, santri yang menerima informasi itu merasa sangat senang sekaligus bangga. Merasakan kehangatan sikap yang diberikan oleh kiainya. Bukti euforia kebanggaan santri dengan memotret memo itu lalu dijadikannya sebagai status di akun wa. Dengan sekejap, memo itu langsung viral di grup whatssap santri Almunawwir dan tayang di status wa para santri.

Kiai jalan tengah selalu sanggup memahami isi hati santri dengan baik. Alfatihah.