Alkisah, ada salah seorang pemuda dari Kufah yang berasal dari kalangan tabi’in yang menjadi kurus padahal dia tidak sakit,  tubuhnya bungkuk padahal dia belum tua, keningnya terluka karena sujud, dan air mata di pipinya membekas bagaikan parit. Rupanya ia memaksa dirinya terus beribadah, sampai sahabat Abdullah bin Mas’ud menasihatinya.

Pada suatu malam, ibu si pemuda tersebut mendatanginya dan berkata kepada anaknya, “Wahai anakku, sesungguhnya amalan sedikit yang dilakukan terus menerus dan tidak membosankan itu lebih baik daripada banyak amalan tapi membosankan. Aku khawatir Allah melihatmu pada saat engkau melakukan satu macam ibadah dari sekian banyak macam ibadah kepada-Nya.”

Sang ibu melanjutkan, “Kemudian setelah ini, Dia akan melihatmu telah bosan dan lelah, sehingga Dia memurkaimu. Wahai anakku, mengapa aku melihat orang-orang bergembira sementara aku melihat engkau bersedih dan tidak pernah gembira. Aku melihat mereka tenang dan tidur, sementara aku melihatmu berpuasa, tidak makan, tidak minum dan tidak tidur?

Sebagaimana dikisahkan dalam kitab Hilyatul Auliya’ wa  Tabaqat al-Asfiya’ karya Abu Nu’aim al-Asfahani, sang anak mendengar perkataan ibunya tersebut lalu menjawab, “Wahai ibuku. Mendekatlah padaku, semoga engkau dibalas dengan kebaikan dengan kebaikan karenaku. Aku memikirkan kematian, lalu aku melihat kematian tidak memilih orang yang sudah tua atau yang masih muda.”

“Wahai ibuku, semoga engkau dibalas dengan kebaikan  karenaku. Sesungguhnya anakmu ini esok hari di dalam kubur memiliki tidur yang panjang, anakmu ini esok hari di alam barzakh ditahan dalam waktu yang lama, anakmu ini esok hari dalam kehancuran memiliki banyak kehinaan. Wahai ibuku, aku diperintahkan untuk berlomba, dan tujuan dari perlombaan itu adalah surga. Jika aku sampai tujuan itu, maka aku beruntung, namun jika aku tidak sampai pada tujuan itu, maka aku akan binasa. Wahai ibuku, aku tengah mencari rumah di surga, agar dia bisa berguna bagiku dan bagimu pada suatu hari.” Lanjut anak itu.

Setelah mendengar ucapan sang anak seperti itu, sang ibupun beranjak pergi dan tidur. Dan pada pagi harinya, sang ibu mendatangi Abdullah bin Mas’ud yang merupakan salah satu sahabat Nabi Muhammad Saw.

Kepada Abdulllah bin Mas’ud, ibu pemuda tersebut berkata, “Wahai sahabat Rasulullah, aku memiliki seorang anak yang kurus padahal dia tidak sakit, bungkuk padahal dia belum tua, keningnya luka karena sujud, dan air matanya di pipinya telah menjadi parit.”

Sang ibu melanjutkan keluh kesahnya, “Wahai sahabat Rasulullah, ketika orang-orang tidur dia tidak pernah menenangkan diri dan tidur. Saat orang-orang makan, sementara anakku berpuasa, dia tidak makan dan tidak minum. Orang-orang bergembira dan tertawa, sementara anakku tidak bersedih dan tidak bergembira dan tidak tertawa. Sedangkan engkau adalah salah satu sahabat Nabi, engkau telah alami segala sesuatu yang tidak kami alami. Engkau melihat apa yang tidak kami lihat. Apakah engkau berkenan pergi bersama untuk melihat pengaruh hal tersebut kepada anakku?

Abdullah bin Mas’ud kemudian berjalan bersama ibu pemuda tersebut. Saat Abdullah bin Mas’ud masuk ke tempat anaknya, dia melihat cahaya ibadah bersinar di kedua matanya. Lalu Abdullah bin Mas’ud berkata kepadanya, “Demi ayah dan ibuku sebagai tebusanmu, wahai peminang bidadari. Demi ayah dan ibuku sebagai tebusanmu, wahai pencari negeri kedamaian. Demi ayah dan ibuku sebagai tebusanmu, wahai orang yang merindukan Abu al-Qasim dan para sahabatnya.

Mendengar ucapan tersebut, sang pemuda lalu berkata, “Ceritakanlah sebuah hadis padaku.

Abdullah bin Mas’ud lalu berkata, “Wahai anak terssayang, aku merasa bahwa orang yang masuk ke dalam neraka dengan keadaan luka, maka lukanya tidak akan terobati selamanya. Wahai kekasihku, aku merasa bahwa orang yang masuk ke dalam neraka dalam keadaan bersedih, maka kesedihannya tidak akan bisa dihibur selamanya. Wahai kekasihku, penghuni neraka, darinya mereka makan dan darinya mereka minum, dan di dalam tingkatan-tingkatannya mereka berguling-guling, dengan pukulan dari besi yang dipukulkan kepada mereka dan dikembalikan ke dalam dasar neraka.

Mendengar ucapan Abdullah bin Mas’ud, pemuda tersebut pun pingsan. Kemudian, datanglah sang ibu dan meletakkan tangannya di atas kepala anaknya tersebut, dan berkata, “Wahai sahabat Rasulullah. Aku membawamu kepada anakku agar kamu menasehatinya, bukan untuk membunuhnya.

Mendengar perkataan sang ibu pemuda tersebut, Abdullah bin Mas’ud langsung memercikkan air ke wajahnya, hingga pemuda tersebut siuman. Kemudian Abdullah bin Mas’ud berkata kepada pemuda tersebut, “Wahai pemuda, sesungguhnya jiwamu memliki hak yang harus kamu tunaikan, dan badanmu memiliki hak yang harus kamu tunaikan. Maka berikanlah setiap yang memilik hak apa yang menjadi haknya.

Mendengar perkataan Abdullah bin Mas’ud, pemuda tersebut lantas berkata, “Wahai sahabat Rasulullah, apakah kamu pernah melihat kuda di lapangan?” “Tentu aku melihatnya.” jawab Abdullah bin Mas’ud. Kemudian si pemuda kembali bertanya, “Menurutmu, mana diantara mereka yang paling cepat?” Abdullah bin Mas’ud pun menjawab ngeyel, “Yang kurus yang ketakutan.

Mendengar jawaban Abdullah bin Mas’ud, pemuda tersebut lalu berkata, “Maka aku ingin menguruskan diriku, agar Allah menyampaikanku pada tujuan orang-orang yang bertakwa.

Mendengar bantahan pemuda tersebut, Abdullah bin Mas’ud merasa pemuda ini sulit dinasihati. Beliau mencukupkan nasihatnya lalu berkata, “Semoga Allah memberikanmu taufik dan petunjuk.

Kisah di atas adalah gambaran bahwa dalam menjaga agama jangan sampai mengabaikan penjagaan terhadap jiwa. Jiwa manusia juga membutuhkan hak-haknya, karena tubuh manusia juga butuh istirahat, butuh makan, sehingga dalam kondisi sehat. Jika tubuh tetap sehat, diniatkan supaya bisa selalu beribadah kepada Allah Swt. Beribadah terus menerus sampai melupakan hak-hak terhadap jiwa dan tubuh sendiri adalah perbuatan yang tidak sesuai dengan tujuan-tujuan syari’at Islam, karena ibadah sebagai bagian dari menjaga agama tidak boleh bertentangan dengan tujuan agama Islam yang lainnya yaitu menjaga jiwa dengan memberikan hak-hak kepada tubuh kita.