Alkisah, Abu Ali bin Syaukah sedang berkumpul bersama para ulama fikih. Mereka kemudian menemui Qadhi Abu Ali al-Hasyimi. Di depan Abu Ali al-Hasyimi, mereka bercerita tentang kemiskinan dan betapa sulitnya kehidupan yang sedang mereka hadapi.

Sebagaimana dijelaskan oleh Qadhi Abu Ya’la dalam kitabnya Thabaqah al-Hanabilah yang dikutip oleh Abdul Fattah Abu Guddah dalam Shafaat min Shabril Ulama, Ali al-Hasyimi yang mendengar cerita Abu Syaukah dan kawan-kawannya langsung berkata, “bersabarlah, karena sesungguhnya Allah akan memberikan karunia dan kelapangan kepada kalian. Aku akan menceritakan kepada kalian kondisi yang sama yang pernah aku alami, agar hati kalian menjadi bahagia.

Untk diketahui, beberapa tahun sebelum Ali al-Hasyimi resmi menjadi seorang Qadhi, kehidupan ekonominya begitu sangat sempit dan berat. Bahkan Ali al-Hasyimi pernah terpaksa harus menjual peralatan rumahnya.

Ceritanya, Ali al-Hasyimi mencongkel bagian tengah rumahnya yang berupa kayu. Kayu tersebut kemudian dijual dan hasilnya digunakan untuk membeli makanan. Selama masa-masa susah tersebut, beliau tidak pernah keluar rumah dan selama setahun aktivitasnya hanya duduk di rumah. Hingga akhirnya datanglah seseorang ke rumahnya.

Ali al-Hasyimi, yang saat itu sedang bersama sang istri, meminta sang istri untuk membukakan pintu rumahnya dan melihat siapa yang datang ke rumahnya. Setelah di buka, ternyata ada seorang laki-laki yang datang dan mengucapkan salam. Namun ketika melihat keadaan Ali al-Hasyimi, laki-laki tersebut tidak duduk namun malah melantunkan syair;

ليس من شدة تصيبك إلا #سوف تمضي وسوف تكشف كشفا

Tidak ada kesulitan yang menimpamu kecuali ia pasti akan berlalu dan pasti akan terangkat tidak berbekas.

لا يضق ذرعك الرحيب فان النار # يعلو لهيبها ثم تطفا

Jangan merasa sempit dengan jiwamu yang lapang karena asa api lebih tinggi dari api, kemudian ia akan padam.

قد رأينا من كان أشفى على الهلك # فوافت نجاته حين أشفى

Kami telah melihat orang yang hampir binasa, lalu keselamatannya datang pada saat ia hampir binasa.

Setelah melantunkan syair, orang tersebut keluar dari hadapan Ali al-Hasyimi tanpa sempat duduk terlebih dahulu. Ali al-Hasyimi yang baru saja mendengar syair tersebut merasa optimis kembali, bahwa cobaan yang sedang dihadapinya akan segera selesai.

Belum sehari kejadian itu berlalu, datang utusan Khalifah Abu Manshur Muhammad Al-Qahir Billah menemui Ali al-Hasyimi. Utusan tersebut datang dengan membawa kain, sejumlah uang dalam bentuk dinar dan bighal (peranakan kuda dan keledai) yang dikendarai. Kepada Ali al-Hasyimi, utusan Khalifah berkata, ”penuhilah panggilan Amirul Mukminin“, sambil menyerahkan sejumlah dinar, kain dan bighal.

Ali al-Hasyimi yang mendapat hadiah tersebut pun langsung mandi dan mengubah tampilannya. Beliau kemudian datang menemui Khalifah al-Qahir Billah. Setelah sampai ke istana dan bertemu dengan Khalifah Al-Qahir Billah, ternyata Ali al-Hasyimi diserahi jabatan untuk menjadi Qadhi di peradilan Kufah dan mengurus berbagai urusan yang ada di dalamnya. Dan setelah diangkat menjadi Qadhi, keadaan Ali al-Hasyimi pun berangsur membaik.

Tidak sedikit ulama-ulama besar Islam yang mendapat cobaan kemiskinan ketika sedang mencari ilmu dan menjaga ilmu. Namun dengan kesabaran besar yang dimiliki para ulama, akhirnya cobaan tersebut berangsur-angsur menjadi sebuah berkah.

Cobaan kehabisan bekal, kehabisan uang dan cobaan kemiskinan lainnya adalah hal wajar yang terjadi dalam diri para pencari ilmu. Karena banyaknya harta bisa membuat seseorang justru tidak fokus dengan ilmu yang digelutinya. Di sisi lain, tanpa adanya harta juga menghambat perjalanan dalam mencari ilmu. Oleh sebab itulah, ketika sedang dicoba dengan kemiskinan jangan lantas berputus asa dan minta-minta. Karena para ulama terdahulu sudah memberikan contoh, salah satunya sebagaimana yang dilakukan oleh Qadhi Ali al-Hasyimi, yang rela menjual perabotan rumahnya agar tidak minta-minta dan tetap bisa bertahan hidup.