Ustadz penyebar hoaks bukan hanya ada saat ini saja, ulama zaman dahulu juga pernah mengalaminya.

Abu Muhammad Sulaiman bin Mahran al-A’masy (w. 148 H) atau yang lebih sering dikenal sebagai al-A’masy merupakan salah satu Tabi’in yang menjadi pakar hadis. Kepakarannya dalam bidang hadis tersebut bahkan mendapat pengakuan dari al-Hafidz Syamsudiin ad-Dzahabi yang menjulukinya sebagai Syaikhul Muhadditsin (Guru besar pakar Hadis). Ia hidup di Kota Kufah.

Suatu ketika al-A’masy kebetulan sedang berkunjung di Kota Bashrah. Sebagaimana lazimnya ketika ia berkunjung ke Basrah, ia pun menyempatkan diri mengunjungi masjid di Kota tersebut. Sekedar untuk mengetahui kondisi masyarakat dan kegiatan di masjid tersebut.

Tak disangka sesampainya ia di masjid Basrah. Masjid tersebut sangat ramai. Penuh sesak jamaah yang hadir membuat masjid menjadi sangat guyub dan ramai. Ia pun penasaran ada acara apa sebenarnya dalam masjid tersebut.

Setelah ia lihat ternyata memang ada satu penceramah atau ustadz yang sedang berceramah di mimbar. Ia pun ikut duduk bergabung bersama jamaah lainnya.

Tak disangka, al-A’masy mendengar hal yang janggal dalam orasi yang disampaikan sang ustadz tersebut. Dengan jelas dan gamblang, sang Ustadz berkali-kali menyampaikan sesuatu yang bersumber dari al-A’masy. Namun dalam batinnya, ia sama sekali tidak pernah meriwayatkan keterangan-keterangan sebagaimana yang disampaikan sang ustadz. Ia pun menahan diri untuk bersuara. Sambil menunggu itikad baik sang ustadz dengan tidak menyebut riwayat palsu tersebut. Jujur, dalam hati A’masy sangat begitu jengkel dengan apa yang dilakukan sang ustadz.

Karena, pertama jelas sang ustadz telah menyebar hoaks terkait ucapan yang dinisbatkan kepada dirinya. Kedua, tentu karena sang ustadz menyampaikan hoaks tersebut di dalam tempat yang agung, masjid Basrah, pusat simbol perkembangan Islam di Kota bashrah saat itu. Apalagi, ia juga menyampaikan hal tersebut sama sekali tidak merasa bersalah.

Akhirnya setelah lama tidak bereaksi. Al-A’masy pun memutuskan untuk memberi pelajaran sang ustadz. Ia pun kemudian menyerobot shaf-shaf jamaah yang masih duduk dengan rapi. Ia berjalan begitu saja melewati beberapa orang. Semua pandangan mata pun kini tertuju kepada A’masy. Jamaah yang semula begitu memperhatikan cerita dan keterangan yang disampaikan sang Ustadz pun merasa terganggu. Namun  al-A’masy cuek saja. Ia punya misi besar untuk menyadarkan sang Ustadz.

Setelah sampai di tengah-tengah kerumunan. Dan tepat di hadapan sang ustadz. al-A’masy pun menyingsingkan gamisnya. Sejurus, tak diduga ia mencabut bulu ketiaknya di hadapan puluhan pasang mata yang hadir di lokasi itu. Semua orang terperangah.

Merasa terganggu sang ustadz pun menegurnya.

“Wahai al-A’masy, apa kamu tidak malu melakukan itu di sini?” tegur sang ustadz kepada Al al-A’masy

“Mengapa aku harus malu, ketika aku sedang melakukan sebuah kesunahan (mencabut bulu ketiak) sedangkan kamu saat ini sedang menghembuskan kebohongan besar!” sanggah Al A’masy sembari terus mencabut bulu ketiaknya.

Para jamaah pun bingung apa yang sebenarnya yang terjadi. Orang tua ini tiba-tiba datang. Dan mencabut bulu ketiak tapi langsung menuduh sang ustadz sedang menebar kebohongan. Rupanya mereka tidak tahu bahwa orang tua itu adalah al-A’masy. Sosok yang sering dikutip sang ustadz dalam ceramahnya.

“Aku adalah al-A’masy dan aku tak pernah bercerita ataupun mengajarimu apapun. Lantas apa maksudmu berbohong atas namaku?”

Sang ustadz penyebar hoaks itu pun hanya menahan urat malu di wajahnya. Sedangkan para jamaah pun semakin terkaget melihat kenyataan tersebut. Bahwa penceramah yang selama ini mereka dengarkan dan mereka puja, hanya membual belaka. Keterangan-keterangan yang dikutipnya dari al-A’masy ternyata hanya untuk memvalidasi kebohongannya.

Cara yang dilakukan al-A’masy dalam menegur sang penceramah juga terbilang unik. Alih-alih menasihati dan menegur secara pribadi. Ia justru melakukan itu secara terang-terangan. Bahkan carannya pun ekstrim, mencabut ketiak di depan umum, sebuah hal yang tabu bagi seseorang.

Namun, mungkin dikarenakan ustadz penyebar hoaks ini sudah terlalu melampaui batas, sehingga kebohongannya harus segera dihentikan. Masyarakat Basrah pun harus tahu, bahwa sang penceramah adalah seorang pendusta. Sehingga, cara ekstrim di atas merupakan sebuah keniscayaan yang mesti dilakukan agar masyarakat Basrah lebih memperhatikan dari mana seharusnya mengambil ilmu.

Melalui kisah ini kita disadarkan setidaknya tentang dua hal. Pertama, dalam menyampaikan suatu informasi kita harus secara jujur menyebutkan sumber yang kita rujuk. Kedua, bagi kita yang sering mengikuti kajian-kajian ustadz secara daring Untuk melihat terlebih dahulu latar belakang ustadz tersebut. Dengan tujuan agar kita bisa mengetahui rantai keilmuan yang dapat dipertanggung jawabkan. Atau bagi kita yang sering membaca berbagai informasi di internet. Baik yang berkaitan dengan agama maupun informasi secara umum, agar lebih memastikan kembali sumber berita yang kita baca. Agar informasi yang kita terima tidak terkandung unsur hoaks yang saat ini ramai terjadi. (AN)

Wallahu a’lam.

 

 

Referensi: Ihya’ Ulum al-Din, vol. 1 hal. 51 (Beirut: Darul FIkr)