Alkisah, di waktu senggangnya, Ibrahim al-Khawwash sering pergi ke tepi sebuah sungai besar yang di sisinya terdapat banyak daun kurma. Dia pergi ke tepi sungai tersebut hampir setiap hari. Dan di tepi sungai tersebut, dia sering memanfaatkan waktunya untuk memotong daun kurma menjadi pendek-pendek, lalu dilemparkan ke sungai sebagai hiburan baginya. Sebagaimana dijelaskan oleh Ibnul Jauzi dalam kitabnya Shifat ash-Shafwah, apa yang dilakukan oleh Ibrahim tersebut sebagai sebuah hiburan baginya. Dan hiburan tersebut merupakan sesuatu yang sangat dia butuhkan. Sehingga hal tersebut terjadi selama berhari-hari.

Setelah berhari-hari menghibur diri dengan memotong daun kurma dan membuangnya ke sungai. Suatu hari Ibrahim al-Khawwash mempunyai fikiran untuk menelusuri ke mana arah daun yang selama ini dia lemparkan. Karena penasaran, dia pun akhirnya menelusurinya untuk melihat ke mana daun-daun tersebut pergi dan berhenti.

Karena sedang menelusuri ke mana daun-daun itu pergi, Ibrahim al-Khawwash pun tidak melakukan apa yang sebelumnya dia lakukan, yaitu memotong daun kurma dan dilempar ke sungai untuk hiburan. Setelah berjam-jam mengikutinya, ternyata di sisi sungai itu ada seorang nenek tua yang sedang menangis.

Ibrahim al-Khawwash yang melihat nenek itu pun bertanya, “Mengapa engkau menangis?

Si Nenek itu pun menjawab, “Aku memiliki lima anak yatim, ayah mereka telah meninggal dunia, sedangkan aku ditimpa kefakiran dan kesulitan. Suatu hari aku datang ke tempat ini, dan datanglah sobekan daun kurma ke sungai ini, lalu aku ambil, dan aku jual. Hasilnya aku gunakan untuk membiayai hidup mereka. Pada hari kedua dan ketiga, aku masih mengambil dan menjualnya, tetapi hari ini daun itu tidak datang.

Mendengar ucapan nenek tersebut, Ibrahim pun mengangkat tangannya seraya berdo’a, “Ya Allah, seandainya aku mengetahui bahwa ia memiliki lima anggota keluarga, niscaya akan aku lakukan lebih banyak lagi.
Kepada nenek tua tersebut, Ibrahim lalu berkata, “Jangan resah, karena akulah yang melakukannya.”

Setelah kejadian itu, Ibrahim al-Khawwash kemudian pergi bersama nenek tersebut dan menanggung semua kebutuhannya, termasuk kebutuhan keluarganya selama bertahun-tahun.

Begitulah kehidupan di dunia ini, terdapat banyak keajaiban dan hal yang tidak masuk akal. Tujuannya bukan untuk ditiru, tetapi untuk diambil pelajaran. Salah satunya adalah kisah di atas, yaitu daun kurma yang dibuang dan dijadikan hiburan oleh lbrahim al-Khawwash yang ternyata menjadi mata pencaharian seorang nenek penjual daun tersebut. Bahkan, hasil penjualan tersebut digunakan untuk menghidupi anak-anak yatim.

Kisah di atas juga memberikan pelajaran penting bagi kehidupan sosial bermasyarakat, bahwa apa yang terkadang kita anggap tidak bermanfaat dan tidak penting, ternyata bagi orang lain itu sangat penting. Bahkan, bisa menolong kelangsungan kehidupan mereka.

Hal ini sekaligus menegaskan bahwa, segala sesuatu yang diciptakan oleh Allah swt di dunia ini pasti mempunyai manfaat. Entah itu bagi manusia ataupun bagi makhluk Tuhan yang lainnya. Oleh sebab itulah, jika membuang barang yang menurut kita kurang bermanfaat, sekali-kali perlu ditelusuri ke mana barang tersebut. Barangkali dengan menelusuri barang tersebut, kita dipertemukan dengan seseorang yang membutuhkan bantuan kita atau dipertemukan dengan sebuah kejadian yang memberikan pelajaran penting bagi kehidupan kita.