Satu waktu, Ibrahim bin Adham bertemu dengan seorang lelaki yang merasa puas dengan apa yang ia miliki. Padahal ia hanya bisa makan roti dan minum sekedarnya. Apa yang dilakukan lelaki itu ternyata membuat Ibrahim sadar bahwa selama ini telah terlalu menikmati dunia dan menuruti hawa nafsunya.

Ia pun akhirnya memutuskan untuk berkelana menuju Allah (baca: menjauhi segala kemehawan dunia). Di tengah perjalanan, ia bertemu dengan seorang yang sangat tampan, pakaiannya bagus, dan memiliki aroma yang wangi.

“Wahai seorang lelaki, akan kemana kamu?” tanya lelaki itu.

“Aku akan pergi dari dunia menuju akhirat,” jawab Ibrahim.

Lelaki itu lantas bertanya kepada Ibrahim, “apakah kamu sedang lapar?

“Iya,” kata Ibrahim.

Sejurus kemudian, lelaki itu langsung melaksanakan shalat dua rakaat. Dan, tak butuh waktu lama, secara tiba-tiba, muncullah makanan di sebelah kanannya dan minuman di sebelah kirinya. Ia pun lantas mempersilakan Ibrahim untuk menyantapnya. Ibrahim makan dan minum sekadarnya, yang penting lapar dan dahaganya hilang.

Lelaki itu berkata, “Dengarkan, pikirkan, dan jangan terburu-buru, karena buru-buru itu dari setan. Jangan bersedih! Jangan pula kamu durhaka kepada Allah!”

Lelaki itu kemudian menjelaskan balasan dari Allah kepada orang yang durhaka kepadaNya, yakni Dia akan (1) melimpahkan kegelapan dan kesesatan dalam hatinya; (2) menghalangi rizkinya; dan (3) menghancurkannya di manapun ia berada.

“Jika Dia menghendaki kebaikan terhadap seseorang, maka Dia akan memberi cahaya dalam hatinya, sehingga ia bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Aku mengajarimu ilmu-ilmu agama dan nama Allah yang agung (ism al-a’dzam),” lelaki itu melanjutkan nasihatnya.

Ia menambahkan, jika Ibrahim lapar atau haus, maka ia bisa membaca doa (ism al-a’dzam)  itu. Niscaya ia akan kenyang dan hilang dahaganya. Lelaki itu juga menasihati Ibrahim, yakni makanala ia berada di antara orang-orang baik, maka hendaknya ia menjadi “tanah”, dan biarlah mereka menginjak-injaknya. Hal ini karena ridla dan murka Allah terletak pada ridla dan murka mereka. (maksudnya, Ibrahim hendaknya rendah hati dan selalu mendengarkan nasihat dan arahan orang-orang baik itu, pen.).

“Wahai lelaki, sekarang ambilah ini dan aku akan mengambil ini,” kata lelaki itu memperilahkan Ibrahim mengambil barang-barang pemberian darinya.

Ibrahim pun khusyu’ mendengarkan nasihat lelaki itu. Lelaki itu lantas berdoa, “Ya Allah, tutuplah aku darinya dan tutuplah ia dariku”. Lelaki itu pun lantas pergi entah kemana.

Setelah itu, Ibrahim bertemu lagi dengan lelaki yang berbeda, namun memiliki ciri-ciri yang sama dengan lelaki yang pertama: wajah tampan, baju bagus, dan aroma wangi. Lelaki itu bertanya kepada Ibrahim, “Apakah kamu tadi bertemu dengan lelaki yang ciri-cirinya seperti ini dan itu?”.

Ibrahim bin Adham mengiyakan. Sontak, tanpa ia duga lelaki yang berada di hadapannya itu tiba-tiba menangis. Ibrahim pun kemudian bertanya kepada lelaki kedua itu tentang identitas lelaki pertama yang ia temui tadi. Lelaki itu menjawab, “Dia saudaraku, Ilyas. Allah mengutusnya kepadamu untuk mengajarkan nama yang agung (ism al-a’dzam)”. (Mungkin yang dimaksud Nabi Ilyas as.)

“Lantas, siapa Anda?” tanya Ibrahim.

Lelaki itu menjawab, “Aku adalah Khidir.(Nabi Khidir as., maksudnya)

Begitulah kisah pertamuan Ibrahim bin Adham dengan Ilyas dan nabi Khidir yang penulis baca dan ringkas dari kitab Mir’ah al-Zaman fii Tawarikh al-A’yan karya Syamsuddin Abi al-Mudzaffar Yusuf bin Amir Hisanuddin Qizurghliy.

Dari kisah di atas kita bisa belajar banyak hal. Salah satunya adalah tentang adab/tatakrama ketika bertemu dengan orang-orang baik (ulama, cendekiawan, ilmuan, dan lain sebagainya). Yakni, salah satu adabnya adalah selalu merasa bodoh dan tidak angkuh (dalam kisah di atas, disebutkan, hendaknya kita selalu menjadi “tanah” dan biarkan mereka “menginjak-injak” kita).

Hadlratus Syaikh Hasyim Asy’ari dalam kitab Adab al-‘Alim wa al-Muta’alim menyebutkan beberapa adab seorang murid kepada guurnya. Salah satunya adalah hendaknya seorang murid selalu mengagungkan dan menghormati gurunya, serta selalu meyakini bahwa gurunya adalah orang sangat sempurna. Hal demikian akan membuat membuat si murid mudah mencapai keberhasilan.

Orang yang mengagungkan dan meyakini kesempurnaan orang lain (dalam hal ini guru) berarti sama halnya dengan merendahkan dirinya sendiri di hadapan orang tersebut. Nah, dalam konteks belajar mengajar, merendahkan diri seperti itu (salah satunya dengan cara selalu merasa bodoh) akan membuat pelakunya selalu bersemangat dalam belajar dan menambah ilmu pengetahuan.

Walhasil, hanya dengan merasa bodohlah, seseorang akan terus bisa memasukkan ilmu pengetahuan ke dalam otak dan hatinya. Bukankah gelas yang akan bisa diisi air adalah gelas yang kosong?. Wallahu a’lam.

 

Sumber:

Asy’ari, Muhammad Hasyim. Adab al-‘Alim wa al-Muta’alim. Jombang: Maktabah al-Turats al-Islami, n.d.

Qizurghliy, Syamsuddin Abi al-Mudzaffar Yusuf bin Amir Hisanuddin. Mir’ah al-Zaman fii Tawarikh al-A’yan. Beirut: Dar al-Risalah al-‘Alamiyyah, 2013.