Imam Abdurrahman Al-Auza’i (w. 157 H ) atau yang lebih dikenal al-Auza’i merupakan salah satu ulama yang getol menyuarakan keadilan. Sebagaimana disebutkan dalam artikel sebelumnya, Imam al-Auza’i tidak mempertimbangkan ras atau agama dalam menyuarakan keadilan. Ketika kaum Nasrani dizalimi, al-Auza’i tak segan membelanya. Tak heran jika kemudian beliau sangat dihormati oleh kaum Nasrani.

Kemampuan Al-Auza’i dalam berkorespondensi juga menjadi salah satu penunjangnya. Al-Auza’i dikenal sebagai penulis yang handal. Kemampuan itu terlihat dari surat-surat yang telah ia tulis. Baik yang ditujukan kepada khalifah ataupun yang lain. Selain bahasa yang digunakan sangat indah, sistematika penulisan yang disajikan juga runtut. Nilai pesan yang hendak disampaikan pun tidak tenggelam dalam bahasa yang dibawanya. Sebagaimana penulis pada umumnya yang menghendaki bahasa indah, namun lupa pada tujuannya. Sementara Al-Auza’i tidak.

Bahkan Khalifah Ja’far al-Manshur pernah mengumpulkan surat-surat al-Auza’i yang pernah  ia terima dan tidak sanggup ia balas seraya mengakui kemampuan al-Auza’i. Memang seringkali ketika ia mendapat surat dari al-Auza’i dan memerintahkan penulis di kerajaan untuk membalasnya, kebanyakan mereka tak menyanggupinya.

Bahkan Sulaiman bin Mujalid salah satu penulis terbaik yang dimiliki oleh khalifah Manshur pun mengakui bahwa kemampuan menulis surat al-Auza’i sungguh mengagumkan:

 مَا أحسن ذاك، وإن لَهُ نظْمًا فِي الكتب لا أظن أحدًا من جميع الناس يقدر عَلَى إجابته عَنْهُ

“Sungguh tulisan-tulisan al-Auza’i dalam suratnya sangatlah bagus. Karena ia punya struktur dan sistematika penulisan yang sangat baik. Berdasarkan perkiraanku, tak satupun orang di dunia ini yang mampu membalas surat tersebut”

Dengan kemampuan tersebut, masyarakat sekitar yang punya keperluan kepada khalifah tak perlu repot-repot menulis ataupun menghadap langsung kepadanya. Cukup meminta bantuan al-Auza’I, maka mereka sudah bisa menyampaikan pesannya. Selain lebih mudah, tentu surat dari al-Auza’i akan lebih didengar oleh pihak istana dari pada orang lain.

Suatu ketika al-Auza’i didatangi oleh salah seorang Nasrani yang hendak mengajukan keringanan jizyah kepada khalifah. Ia tahu, salah satu orang yang dekat dan didengar oleh khalifah adalah al-Auza’i. Al-Auza’i pun dikenal sebagai sosok pengayom bagi umat Nasrani di daerah Lebanon.

Akhirnya ia pun memutuskan untuk mengunjungi al-Auza’i guna melancarkan ambisinya tersebut. Ia pun membawa satu tempayan madu murni sebagai ‘pelicin’ rencananya tersebut.

Sebagaimana tamu pada umumnya, ia bersikap santun  dan tak banyak tingkah. Ia salami Al-Auza’i dengan begitu hangat, sekaligus berbasa basi untuk mengawali pembahasan.

“Oh iya ada keperluan apa ya pak?” tanya Al-Auza’i setelah bersalaman dengan orang tersebut.

“Jadi begini, mohon maaf sebelumnya kalau merepotkan. Saya punya keperluan untuk menuliskan surat kepada khalifah perihal pajak/jizyah yang harus saya bayar. Sedangkan Anda tahu sendiri, saya tidak punya akses untuk ke sana.”

“Oh iya, apa yang bisa saya bantu?” sela Al-Auza’i menyambut baik permintaan sang Nasrani tersebut

“Nah, saya minta tolong kepada bapak untuk menulis dan mengirimkannya kepada khalifah” pinta sang Nasrani.

“Lantas, madu ini untuk apa?” ujar Al-Auza’i sambil menunjuk madu yang dibawa sang Nasrani.

“Oh ini madu untuk Anda pak, sengaja saya membawa ini dari rumah pak”

إن شئت رددت الجرة وكتبت لك, وإلا قبلت الجرة ولم أكتب لك

“Tidak perlu repot-repot, kalau Anda ingin memberi hadiah kepada saya maka akan daya terima madu itu, tapi saya tidak akan membantu Anda. Jika Anda membawa kembali madu itu ke rumah, maka saya akan membantu mengirimkan surat yang Anda minta.”

Seorang nasrani tersebut hanya tertegun melihat sikap al-Auza’i yang begitu tegas menolak pemberian yang ia berikan.

“Oh begitu ya sudah pak terima kasih.”

al-Auza’i pun menulis surat sesuai permintaan Nasrani tersebut. Bahkan ia juga memberi Nasrani tersebut dengan 40 dinar.

Begitulah teladan para ulama dalam membantu orang lain. Sekalipun dalam cerita tersebut sang Nasrani terlihat tulus memberikan hadiah. Akan tetapi karena kehati-hatian Al-Auza’i akan suap/gratifikasi, ia  pun menolaknya. Karena bagaimanapun hadiah tersebut ia terima sebagai imbalan atas pekerjaan yang ia lakukan. (AN)