Suatu hari, seorang hakim di kekhalifahan Abbasiyah, Yahya bin Aktsam, mengadakan diskusi di rumahnya. Ia mengundang banyak cendekiawan dan para pakar di wilayahnya. Termasuk yang ia undang adalah para penyair al-Athawi, beserta seorang penyanyi Ishak al-Mushili, yang dikenal sombong dan sok tahu.

Ishak al-Mushili akhirnya mendapat giliran bicara. Saat ia berbicara, ia mulai unjuk kehebatannya dalam berbagai macam disiplin ilmu dengan gaya bicara yang berapi-api. Mulai dari kedokteran, fikih, hingga ilmu agama. Kalimat yang ia tuturkan fasih, dengan retorika dan analogi-analogi yang memukau. Namun, itu semua menjadi watak yang tidak disukai banyak orang; ia jadi sombong dan ingin menunjukkan diri sebagai orang pintar.

“Bagaimana para hakim dan ulama, pendapat saya menarik, bukan? Ada koreksi atau sanggahan atas apa yang saya sampaikan tadi?” Tanya Ishak dengan percaya diri.

“Tidak,” jawab sang tuan rumah, hakim Yahya bin Aktsam.

“Aku tahu banyak pakar yang menguasai berbagai bidang ilmu. Tapi maaf, keahlianku hanyalah di bidang seni dan menyanyi.” Lanjut Yahya bin Aktsam, dengan nada menyindir.

Para pakar dan ulama lain seperti paham maksud sindiran sang hakim yang jadi tuan rumah. Hingga kemudian hadirin yang lain ikut menimpali.

“Maaf, apakah dalam bidang ilmu Nahwu engkau sehebat Al-Farra’ atau al-Akhfash?” Tanya al-Athawi sang penyair masyhur, yang juga jengkel sejak tadi terus memperhatikan kesombongan Ishak al-Mushili.

“Anu.. tidak.” Jawab al-Mushili gugup.

“Apakah dalam bidang ilmu linguistik engkau mampu seunggul al-Ashmu’ atau Abu Ubaidah?”

“Tidak.”

Lama-lama, para hadirin lain ikut menimpali dan memberondong pertanyaan kepada Ishak al-Mushili.

“Bagaimana dengan ilmu Kalam (Tauhid), apakah engkau mampu menyamai Hudzail al-Allaf dan al-Nazham?”

“Oh, barangkali dalam bidang ilmu Fiqih engkau juga sehebat pemilik rumah ini, Yahya bin Aktsam.”

“Coba di bidang Sastra, apakah mungkin engkau sehebat Abu Nawas?”

Semua pertanyaan tersebut dijawab tidak oleh Ishak al-Mushili. Muka al-Mushili yang semula tampak bersemangat, kini berubah pucat pasi. Dari yang tadinya ia merasa tahu segala bidang ilmu, dalam sekejap para hadirin membuatnya tampak seperti orang yang baru belajar di sekolah dasar.

Al-Athawi lantas meminta para hadirin menyudahi kejadian itu. Sambil berkata, dan memberi wejangan:

“Terbukti bahwa engkau di sini hanya memiliki niat untuk pamer kepintaran di depan orang-orang. Ketahuilah, tidak ada orang yang menjadi ahli di segala bidang. Dalam bidang seni dan menyanyi, engkau mungkin tidak ada bandingannya dibanding kami semua yang ada di sini. Tapi ketahuilah dalam bidang ilmu yang lain, ternyata engkau bukan apa-apa!”

Dari kisah ini kita bisa memetik pelajaran, bahwa keilmuan dan kapasitas seseorang pasti memiliki batasan. Sehingga kita patut berhati-hati dalam berbicara atau memberi statemen kepada orang banyak, terutama dalam bidang yang sebenarnya tidak kita kuasai. Karena sesungguhnya tidak ada orang yang menguasai seluruh bidang ilmu pengetahuan di dunia.

Seperti al-Mushili, ia hanya seorang penyanyi tapi sok tahu mengomentari semua bidang keilmuan. Pada akhirnya, kesombongan dan sikap sok tahu hanya akan membuat diri kita jadi lelucon di depan para ahli yang sebenarnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here