Hari itu, Abu Sinan silaturrahim ke rumah salah seorang temannya (anggap saja Zaid). Kebetulan saat itu, tetangga Zaid (sebut saja namanya Fulan) sedang ada musibah, yakni saudaranya meninggal dunia. Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. 

Sesampainya di rumah Zaid, Abu Sinan langsung diajak takziyah ke rumah Fulan. Tiba di sana, Abu Sinan melihat Fulan sedang dirundung rasa sedih dan cemas. Bahkan, saking begitu sedih dan cemas, Fulan sampai menolak kalimat belasungkawa yang dialamatkan kepadanya.

Melihat Fulan yang sedang bersedih, Zaid dan Abu Sinan mencoba menenangkan dan memberinaya nasihat sebagaimana yang lazim diucapkan orang kebanyakan, “Bertakwalah kepada Allah. Ingatlah, setiap yang bernyawa pasti akan meninggal dunia.”

“Benar sekali apa yang kalian katakan. Sejak dahulu, aku sudah mengetahui dan meyakini apa yang kalian ucapkan barusan. Bukan kepergian suadaraku yang aku tangisi, namun keadaann yang dialaminya,” kata Fulan memberi penjelasan.

Penjelasan itu membuat Zaid dan Abu Sinan merasa heran. Mereka menduga Zaid memang sanggup mengetahui hal-hal gaib. “Subhanallah. Apakah itu artinya Allah memberi keutamaan kepadamu sehingga engkau bisa mengetahui hal-hal yang bersifat gaib?”

Fulan tidak menjawab pertanyaan itu: tidak menolak, tidak juga mengiyakan. Sejurus kemudian, ia menceritakan hal yang ia ketahui ihwal nasib saudaranya itu.

Fulan pun mulai bercerita, bahwa setelah menguburkan jenazah saudaranya itu, dia mendengar suara orang sedang merintih karena kesakitan. Ia lantas berkata “Saudaraku, oh, saudaraku”. Tak kuat menahan sedih karena rintihan itu, Fulan lantas menggali kuburannya.

Baru beberapa galian, salah seorang di sebelahnya melarang tindakan itu, “jangan engkau lakukan itu, wahai Fulan!”

Tanah kuburan yang berserakan karena telah digali itu dirapikan lagi oleh Fulan. Namun, sesuatu yang aneh terjadi lagi ketika ia berdiri dan akan meninggalkan kuburan. Suara rintihan itu terdengar lagi.

“Saudaraku, oh, saudaraku,” ucap Fulan seperti sebelumnya.

Ia kembali melakukan tindakan seperti yang pertama: membongkar kuburan saudaranya. Namun, lagi-lagi orang disebelahnya melarang. Fulan membatalkan tindakannya itu dan merapikan kembali tanah kuburan.

Namun, saat ia hendak undur diri, suara rintihan kembali terdengar.

Kali ini, Fulan tak kuasa menahan keinginan untuk membongkar kuburan saudaranya itu. Singkat cerita, kuburan pun berhasil ia gali. Betapa kagetnya ia, ada hal yang benar-benar menyedihkan terjadi pada saudaranya: sebuah tali dari api melilit tubuh jenazah saudaranya tersebut.

Tak tega melihatnya, Fulan lantas memukul lilitan itu dengan dengan tangan. Dari tindakannya itu, Fulan kehilangan beberapa jari tangannya.

***

Selesai bercerita, Fulan memperlihatkan kondisi tangannya kepada Zaid dan Abu Sinan.  Benar saja, ada empat jari tangan Fulan yang hilang.

Sepulang dari takziyah, Abu Sinan bersilaturrahim kepada al-Auza’i, salah seorang ulama kenamaan di zamannya. Dalam kesempatan itu, ia bertanya, “Wahai Syaikh, mengapa kejadian yang menimpa saudara Zaid itu tidak juga menimpa orang-orang kafir?”

“Itu karena orang-orang kafir sudah pasti di neraka. Allah sengaja menampakkan kejadian menyedihkan itu menimpa seorang muslim dengan tujuan agar kalian bisa memetik pelajaran,” jawab al-Auza’i singkat.

***

Dalam kisah yang termaktub dalam kitab ‘Uyun al-Hikayat karya Ibnu Jauzi di atas, kita bisa belajar banyak hal. Salah satunya adalah selalu mengambil pelajaran dari setiap apa yang terjadi.

Sebagaimana dijelaskan oleh mayoritas ulama, ketiadaan obyek pada kata perintah “Iqra’!” (“Bacalah!”, [QS. Al-‘Alaq [96]: 1]) menunjukkan bahwa objeknya bisa apa saja (umum). Bisa buku atau selainnya, termasuk setiap apa yang terjadi. Baik kejadian itu kita yang mengalami, dialami orang lain, atau kejadian alam.

Banyaknya ayat Al-Qur’an tentang kisah-kisah umat terdahulu juga bisa diajadikan penyemangat agar kita senantiasa belajar dari setiap kejadian. Pasalnya, kisah-kisah yang disebutkan Al-Qur’an itu bukan hanya sekadar kisah-kisah belaka (Al-Qur’an bukan buku sejarah), namun ia mengandung makna yang begitu mendalam bagi siapa saja yang mau dan mampu memahaminya.

Tidak semua memiliki kesempatan untuk membaca buku. Tidak semua orang memiliki waktu untuk mengikuti pengajian/majelis taklim. Tidak semua orang memiliki akses untuk belajar di suatu lembaga pendidikan (sekolah/kampus/pesantren). Tapi, penulis yakin, semua orang memiliki otak yang bisa digunakan untuk mengambil hikmah dari setiap apa yang terjadi.

Walhasil, mengambil pelajaran dalam setiap kejadian adalah suatu hal termudah yang bisa kita lakukan dalam rangka mengamalkan perintah Tuhan: “Bacalah!”. Tentu, yang bisa melakukannya hanya mereka yang mau berfikir. Wallahu a’lam.

 

Sumber Kisah:

Al-Jauzî, Jamâluddîn Abi al-Farj bin. ’Uyûn Al-Hikâyat. Beirut: Dâr al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2019.