Menghormati tamu adalah anjuran agama. Bahkan menghormati tamu dijadikan standar kesempurnaan keimanan seseorang, sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW, “Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaknya ia menghormati tamu” (HR. al-Bukhari)

Oleh karenanya, sangking begitu pentingnya hal itu, sebagai orang beriman, maka kita harus menghormati siapa saja yang datang bertamu ke rumah kita. Tentu hal itu dilakukan secara proporsional.

Dari kisah berikut ini kita bisa belajar betapa orang-orang terdahulu sangat memperhatikan masalah ini, bahkan ketika mereka mendapatkan musibah sekalipun.

Begini kisahnya.

Satu hari, al-Ashma’i dan seorang temannya bepergian ke sebuah pedalaman. Entah karena apa, mereka berdua tersesat. Jelas, hal ini membuat mereka bingung. Kebetulan di depan mereka ada sebuah tenda.

“Assalamu’alaikum,” ucap al-Ashma’i menggucapkan salam.

“Wa’alaikum salam,” jawab seorang perempuan (sebut saja Fulanah) dari dalam tenda.

FYI, Fulanah adalah seorang janda beranak satu. Anaknya Uqail, yang saat itu tidak ada di rumah. Ia sedang pergi ke suatu daerah dengan menaiki seekor unta.

Fulanah lantas bertanya tentang siapa gerangan yang ada di depan tendanya itu. Al-Ashma’i pun mengatakan apa yang ia alami.

“Agar saya bisa menghormati kalian sebagai tamu, aku mohon palingkan wajah kalian dariku!” ucap Fulanah meminta agar al-Ashma’i dan temannya tidak melihatnya.

Mereka berpaling dan tak lagi memandang Fulanah. Sejurus kemudian, Fulanah mengambilkan alas lantai untuk duduk. Karena tak ada seorang lelaki pun yang ada di rumah, Fulanah hanya berani memperlakukan al-Ashma’i dan temannya itu untuk duduk di depan tenda saja.

Fulanah pun kembali masuk ke dalam tenda.

Tak lama waktu berlalu, dari dalam tenda, Fulanah melihat unta milik anaknya datang. Namun dinaiki orang lain. Ia pun berdoa kepada Allah agar orang asing (sebut saja Fulan) yang datang itu membawa keberkahan.

“Wahai Ummu Uqail, semoga Allah memberimu pahala yang besar berkaitan dengan putramu, Uqail!,” kata orang mendoakan.

Fulanah bertanya, “Apakah putraku, Uqail, meninggal dunia?”.

“Iya,” jawab orang asing itu.

Fulanah menanyakan apa penyebab kematian anaknya. Fulan pun menjelaskan bahwa ada beberapa unta sedang ribut. Uqail terpental dari untanya dan masuk ke dalam sumur.

Mendengar penjelasan itu, Fulanah ternyata tak merayakan kesedihannya saat itu juga. Ia justru kembali kepada aktivitasnya yang pertama: menjamu tamu. Ia pun lantas meminta tolong Fulan untuk membantunya memotong kambing dan mengolahnya menjadi makanan siap santap.

Al-Ashma’i yang melihat keteguhan dan kesabaran hati Fulanah itu berdecak kagum. Betapa tidak, dalam keadaan sedih yang begitu mendalam karena kematian sang anak, ia masih bisa dan semangat menghormati tamu.

Setelah al-Ashma’i dan temannya memakan daging kambing itu, Fulanah meminta dibacakan ayat Al-Qur’an yang bisa menghibur dirinya yang saat itu sedang sedih. Al-Ashma’i kemudian membacakan ayat berikut ini:

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ (155) الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ (156) أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ (157)

“Dan Kami pasti akan mengujimu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar. (Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata, “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un” (Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali). Mereka itulah yang memperoleh ampunan dan rahmat dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. al-Baqarah [2]:155-157).

Mendengar ayat itu, Fulanah masih tidak percaya. Ia memastikan dan bertanya kepada Al-Ashma’i, apakah  memang seperti firman Allah dalam Al-Qur’an.

“Iya, seperti itu keterangan yang ada di dalam Al-Qur’an,” jawab Al-Ashma’i mengiyakan.

Fulanah pun lantas masuk ke dalam tendanya dan mengerjakan shalat sunnah beberapa raka’at. Selepas itu, ia  membaca kalimat tarji’ (inna lillahi wa inna ilaihi raji’un) tiga kali dan berdoa, “Ya Allah, saya telah melaksanakan perintahmu. Maka, kini, tunaikan janjimu kepadaku!”

Wallahu a’lam.

 

Sumber Bacaan:

Al-Bukhari, Muhammad bin Ismail. al-Jami’ al-Shahih. Kairo: Dar al-Sya’b, 1987.

Ibn al-Jauzi, Jamaluddin Abi al-Farj bin. ’Uyun al-Hikayat. Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyah, 2019.