Ini kisah budak dari langit yang akhirnya wafat dengan khusnul khatimah.  Diceritakan seorang saudagar kaya akan membeli budak (hamba sahaya).

Ketika saudagar itu akan membelinya, budak tersebut mengajukan tiga syarat. Wahai tuanku! Aku ajukan tiga syarat sebelum aku mengabdikan diri menjadi budakmu. “Apa syaratnya?” kata saudagar.

Syaratnya adalah:

1.Jangan melarangku beribadah setiap kali masuk waktu shalat.

2.Menyuruhku bekerja hanya pada pagi dan siang hari.

3.Menyiapkan satu rumah untuk aku tempati dan siapapun tidak boleh memasukinya.

Saudagar berkata: “Baik, saya terima tiga persyaratan tadi, mari ikut aku, silahkan pilih rumah mana yang ingin engkau tempati”.

Budak tersebut lalu melihat-lihat beberapa rumah dan berhenti di depan rumah yang rusak, kemudian ia memilihnya.

“Kenapa engkau memilih rumah yang jelek dan rusak, padahal masih banyak rumah-rumah yang bagus?” tanya saudagar.

“Wahai majikanku! Tahukah engkau bahwa rumah rusak ini akan menjadi tempat yang bagus bagiku, akan menjadi taman indah manakala penghuninya selalu bersama Allah SWT,” jawab si budak.

Setiap malam budak tersebut menempati dan bermalam di rumah itu. Suatu hari, saudagar kaya menggelar pesta mewah dan besar-besaran bersama teman-teman karibnya. Saking meriah dan padatnya jadwal  acara, sampai pertengahan malam baru selesai. Teman-temanya membubarkan diri ke tempat masing-masing.

Selesai acara pesta, saudagar mengelilingi komplek perumahannya lantaran tidak bisa tidur. Sesampainya di depan rumah rusak yang di tempati budaknya. Betapa kagetnya saudagar melihat lampu gantung indah yang memancarkan cahaya gemerlapan, sinarnya tembus ke atas sampai ke langit. Saudagar melihat kejadian tersebut begitu lama sampai terbit fajar. Seiring dengan naiknya lampu gantung ke langit, saudagar itu pulang ke rumahnya.

Paginya, saudagar menceritakan apa yang dilihatnya tadi malam kepada istrinya. Istrinya penasaran hingga mereka berdua berencana mengintip kejadian tersebut nanti malam.

Malam harinya, ketika jam menunjukan pukul 02.00 dini hari, saudagar dan istrinya berjalan mengendap-endap menuju rumah rusak yang ditempati budaknya tersebut.

Heran dan takjub saudagar dan istrinya ketika sampai di depan rumah budaknya, lampu gantung kelap-kelip yang indah turun dari langit, disusul pancaran cahaya tembus ke langit. Saudagar dan istrinya terkesan dan menunggu sampai terbit fajar.

Sebelum mereka berdua balik pulang, pintu rumah terbuka, budak tersebut keluar rumah karena ingin melihat indahnya bintang di langit. Budak tersebut kaget lantaran melihat kedua majikan berada di depan rumahnya.

Saudagar bertanya: “Amalan apa yang engkau lakukan sehingga kejadian yang luar biasa ini terjadi setiap malam?”

Budak menjawab: “Hamba melayani tuhan hamba setiap malam hari tanpa seorangpun mengetahui”.

Budak tersebut lantas mengangkat tangan seraya berdo’a: “Ya Allah, mengapa engkau tunjukan ibadahku kepada orang lain, dengan rahmat dan ridlo Mu aku mohon agar engkau mencabut nyawaku sehingga aku segera bisa berjumpa denganmu.”

Seketika budak tersebut meninggal dunia dalam keadaan husnul khatimah.

Kisah ini terdapat dalam buku 101 Cerita Penegak Iman Peluhur Budi karya KH. Moch. Djamaluddin Ahmad (Pengasuh pondok pesantren Tambakberas) Jombang, Jawa timur terbitan Pustaka Al-Muhibbin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here