Alkisah, pada masa dahulu ada seorang yang telah mengumpulkan banyak harta dan juga mempunyai keturunan yang banyak. Hal tersebut kemudian membuatnya merasa sangat kaya. Sebagaimana dikisahkan oleh Ibnul Jauzi dalam ‘Uyun al-Hikayat, orang itu kemudian berkata kepada keluarganya, “kalian akan merasakan kehidupan yang sejahtera dalam waktu lama.

Tiba-tiba ada malaikat pencabut nyawa yang datang kepadanya. Malaikat tersebut menyamar menjadi seorang pengemis, kemudian mengetuk pintu rumah orang tersebut. Mendengar suara orang mengetuk pintu, para penghuni rumah pun datang membukakan pintu dan menemui orang tersebut. Dan setelah pintu dibuka, ada sosok orang miskin yang kemudian berkata, “tolong panggilkan tuan pemilik rumah ini.

Para penghuni rumah yang menemuinya kemudian berkata, “apakah layak tuan kami keluar rumah hanya unuk menemui orang sepertimu?

Malaikat pencabut nyawa yang menyamar menjadi orang miskin tersebut kemudian diam sejenak. Ketika pintu ditutup, dia kembali mengetuk pintu, dan kembali berkata seperti sebelumnya. Namun kali ini dia menambahkan kalimat, “beritahukan dia, bahwa saya malaikat pencabut nyawa.

Mendengar ucapan seperti itu, tuan rumah pun langsung terduduk gelisah. Dia kemudian berkata kepada orang-orang yang mau menemuinya, “berkatalah dengan lembut kepadanya.

Namun, malaikat yang mendengar perkataan tuan rumah langsung menyaut “Tidak!

Malaikat pun langsung masuk ke dalam rumah dan menemui orang yang memiliki rumah itu. Kepadanya, malaikat berkata, “segeralah beri wasiat yang engkau ingin beri wasiat, karena saya akan mencabut nyawamu sebelum saya keluar rumahmu.

Mendengar perkataan malaikat agar sang tuan rumah memberi wasiat, keluarganya pun berteriak histeris dan menangis. Sementara itu tuan rumah segera berkata kepada orang-orang, “bukalah kotak-kotak dan brankas itu, dan buka juga tas penyimpan harta, juga tempat penyimpanan emas dan perak.” Orang-orang kemudian membuka seluruhnya.

Setelah berbagai kotak tersebut dibuka, tuan rumah yang mengumpulkan banyak harta itu menghadap ke hartanya dan melaknatnya serta mencaci makinya. Dia berkata kepada harta-hartanya yang melimpah itu dengan perkataan caci maki, “terlaknatlah engkau, harta. Engkaulah yang membuat diriku melupakan Tuhanku, dan membuatku lalai untuk beramal bagi akhiratku, sehingga ajalku tiba.

Harta yang dilaknat oleh tuannya tersebut, ternyata tiba-tiba berbicara. Mereka kemudian berkata, “jangan mencaci makiku. Bukankah engkau orang yang hina di mata manusia, kemudian saya mengangkat derajatmu? Bukankah engkau melihat bagaimana pengaruhku padamu sehingga engkau bisa masuk dalam lingkaran pergaulan para raja? Sedangkan orang-orang shaleh tidak bisa masuk? Bukankah denganku engkau bisa meminang anak-anak raja dan bangsawan, dan engkau pun diterima mereka? Sementara orang-orang saleh meminang perempuan yang sama tapi mereka tolak? Bukankah engkau yang menggunakanku untuk membiayai berhala dan orang-orang kejam, dan saya pun tidak menolak perintahmu? Dan jika engkau gunakan saya untuk membiayai perjuangan fi sabilillah saya pun tidak akan menolakmu? Namun, engkau pada hari ini lebih tercela dari saya! Karena saya dan engkau  diciptakan dari tanah, maka siapa yang memilih berbuat baik, dia pun mendapatkan kebaikan. Sedangkan yang berbut jahat, maka dia mendapat celaka.

Begitulah harta jika dia bisa berbicara. Akan membuka semua perilaku manusia dalam memanfaatkan hartanya. Apakah itu untuk kebaikan atau untuk kemanfaatan. Apakah digunakan untuk mencari kebahagiaan dunia saja, atau untuk mencari kebahagiaan dunia akhirat.

Sangat mencintai harta memang sudah menjadi sifat kebanyakan manusia. Mereka yang sangat mencintai harta, mengira bahwa hanya hartalah yang akan dapat menyelamatkan dirinya. Sebab, dengan harta yang melimpah, seseorang akan merasa dipandang berhasil hidupnya, semua keinginannya dapat dipenuhi, dan didekati oleh banyak orang serta mendapat status sosial di tengah masyarakat. Dan hal itu semua tentu membuat manusia menjadi sombong dan meremehkan orang lain yang ada di bawahnya.

Harta secara hakiki tidak akan menyelamatkan diri seseorang, dan bahkan membahayakan terhadap pemiliknya jika tidak dipergunakan secara benar, sebagaimana kisah yang terjadi di atas. Oleh sebab itulah, yang harus dilakukan bukanlah bagaimana harta yang sudah banyak terus bertambah, namun bagaimana memanfaatkan harta yang dipunya untuk sesuatu yang benar menurut agama supaya menjadi berkah sekaligus terus bertambah. Karena kebaikan dan kebermanfaatan hidup itu bukan ada pada banyaknya harta yang melimpah, tetapi pada adanya kepedulian dan rasa hormat kepada sesama manusia dan makhluk Tuhan lainnya.