Satu hari, Malik bin Dinar berangkat ke tanah suci untuk melaksanakan ibadah haji. Dalam perjalanannya tersebut, ia melewati sebuah hutan. Di sana, ia melihat sesuatu yang dianggapnya janggal. Ya, ia melihat ada seekor burung gagak, berikut potongan roti di paruh burung itu. Melihat hal itu, ia mengira-ngira dan menerka-nerka.

“Pasti ada sesuatu yang terjadi dengan burung itu,” begitu kurang lebih kata Malik dalam hati.

Burung itu kemudian terbang. Malik mengikutinya. Akhirnya, sampailah burung itu pada sebuah gua. Malik pun masuk ke dalam gua. Dilihatnya, di sana ada seorang laki-laki tergeletak. Tangan dan kakinya terikat tali.

Malik melihat burung itu menyuapi si lelaki dengan roti yang ada di paruhnya. Sedikit demi sedikit.  Hingga roti pun habis. Gagak pun terbang dan pergi entah kemana. Meninggalkan lelaki itu.

Kini, di goa hanya ada Malik dan si lelaki terikat tersebut. Malik bertanya, “Siapa dan dari mana kamu?”

“Aku adalah seorang yang akan menunaikan ibadah haji. Di tengah jalan, hartaku dirampok oleh orang-orang tak dikenal. Aku diikat dan dilemparkan ke sini. Di sini, selama lima hari, aku tidak makan dan minum barang sedikit pun. Namun aku sabar menghadapinya”, jawab lelaki itu menjelaskan.

Lelaki itu menambahkan, setelah lima hari itu, ia kemudian berdoa dengan mengatakan, “Wahai Zat yang berfirman dalam kitab suciNya, “Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepadaNya…” (QS. Al-Naml [27]: 62). Kali ini, aku sedang berada dalam kesusahan. Maka, aku memohon kepadaMu, kasihilah aku!”

Allah mengabulkan doa lelaki itu. Beberapa waktu kemudian, Allah mengirim burung gagak. Gagak tersebutlah yang saban hari memberinya makan dan minum.

Malik pun merasa iba dengan lelaki itu. Ia melepaskan tali yang mengikatnya. Mereka berdua kemudian meninggalkan gua. Mereka pun melanjutkan perjalanan bersama. Hingga pada suatu ketika, di tengah perjalanan, mereka membutuhkan air minum. Kehausan. Sayangnya, keduanya tidak menemukan sesuatu sama sekali yang bisa diminum.

Mereka melihat ke arah padang pasir. Ada sebuah kolam (kubangan air) yang dikelilingi beberapa kijang. Mereka sangat bersyukur sekali. Tanpa pikir panjang, mereka pun bergegas mendekati bilik.

Kijang-kijang pun lari meninggalkan bilik ketika Malik dan lelaki tersebut tiba. Sayangnya, air yang sedianya ada, tiba-tiba meresap ke bumi. Hanya beberapa air sisa saja yang bisa diminum. Namun itu sudah cukup bagi mereka.

Air yang meresap secara tiba-tiba itu dirasa aneh dan janggal. Mereka berdoa kepada Allah, “Ya Allah, Engkau berkenan memberi minum kijang-kijang itu. Padahal mereka tidak pernah melakukan ruku’ dan sujud kepadamu. Sedangkan kami, saat itu sedang membutuhkannya. Namun air itu tiba-tiba meresap ke bumi. Padahal kami sedang dalam perjalanan yang sangat jauh. Menempuh jarak seratus dzira’”.

Selepas mereka berdoa seperti itu, mereka mendengar sebuah suara, “Wahai Malik, kijang-kijang itu kami beri minum karena mereka bertawakkal kepada Kami. Sedangkan kamu bertawakkal kepada barang bawaan dan embermu”

(Maksudnya, Malik bin Dinar dinilai lebih bertawakkal dan tergantung kepada apa yang ia bawa dan yang ia usahakan daripada kepada Allah SWT, pen.)

Dari kisah yang termaktub dalam kitab al-Nawadir di atas kita menjadi paham, bahwa sehebat apapun usaha dikerjakan dan sebanyak apapun harta yang dimiliki, hendaknya kita tidak tergantung kepada hal-hal tersebut. Bertawakkal dan bersandar hendaknya selalu kepada Allah SWT.

Allah SWT berfirman:

وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا

“…Dan barang siapa bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusanNya. Sungguh, Allah telah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu.” (QS. Al-Thalaq [65]: 3)

Ayat ini menegaskan bahwa siapa saja yang percaya kepadaNya terkait apa saja yang ia alami, serta tawakkal (pasrah) kepadaNya setelah berusaha maksimal, maka Allah SWT lah yang akan menjamin dalam penyelesaian masalah-masalahnya, termasuk juga dalam hal rezeki. Begitu kurang lebih penjelasan Wahbah al-Zuhaili dalam tafsirnya.

Walhasil, manusia hanya bisa berusaha dan berdoa sekuat tenaga dalam segala urusan dan menyelesaikan masalah. Namun, harus diyakini seyakin-yakinnya, bahwa yang paling berhak untuk memutuskan segalanya adalah hanya Allah SWT. Semua berjalan atas dasar keadilanNya. Wallahu a’lam.

 

Sumber:

al-Qalyubi, Ahmad Shihabuddin bin Salamah. al-Nawadir. Jeddah: al-Haramain, n.d.

Al-Zuhaili, Wahbah bin Musthafa. Tafsir al-Munir. Damaskus: Dar al-Fikr al-Ma’ashir, 1418.