Kisah Nabi Musa ‘alaihis salam cukup banyak ditemukan dalam Al-Qur’an, seperti kisah beliau menghadapi para penyihir Fir’aun, ketika beliau menyeberangi lautan untuk menghindari kejaran pasukan Fir’aun, hingga kisah pertemuannya dengan Khidir. Semua kisah tersebut mengandung pelajaran berharga bagi kita umat Islam.

Imam Al-Ghazali (w. 505 H) dalam Ihya` ‘Ulumiddin menuliskan sebuah kisah tentang percakapan Nabi Musa dengan iblis. Satu hal yang menarik dari percakapan tersebut adalah saat itu iblis menceramahi Musa tentang hal-hal yang harus diwaspadai oleh manusia jika mereka tidak ingin dikuasai oleh iblis. Mari kita simak kisahnya.

Alkisah, suatu ketika Nabi Musa sedang duduk di persinggahannya, datanglah iblis yang mengenakan burnus (pakaian semacam jubah yang terdapat tutup kepala) yang berwarna-warni. Namun, sebelum iblis mendekat kepada Musa, ia melepas pakaian tersebut dan meletakkannya. Kemudian barulah ia menghampiri Musa.

Assalamu’alaika, wahai Musa.” Sapa Iblis.

“Siapa kamu?” tanya Musa.

“Aku iblis.” Jawab iblis.

“Semoga Allah tidak memberimu keselamatan (jawaban atas salam iblis kepada Nabi Musa), mengapa engkau datang ke sini?”

“Aku datang ke sini untuk mengucapkan salam atasmu karena kedudukan dan posisimu (yang mulia) di hadapan Allah.”

Nabi Musa yang merasa penasaran dengan pakaian yang baru saja dilepas iblis bertanya.

“Pakaian apa yang aku lihat padamu (yang kamu pakai) itu?”

“Itu adalah burnus, yang aku gunakan untuk menculik hati anak cucu Adam.” menculik hati manusia adalah ungkapan yang menunjukkan bahwa iblis menguasai hati manusia.

Jawaban tersebut membuat Nabi Musa semakin penasaran, kemudian beliau melanjutkan bertanya kepada iblis.

“Perbuatan apakah yang jika dikerjakan oleh manusia membuatmu dapat menguasai mereka?”

Iblis tanpa ragu menjawab, “ketika dia bangga dengan dirinya (‘ujub), menganggap amal baiknya telah banyak dan lupa akan dosa-dosanya.”

Setelah memberikan jawaban tersebut, iblis menceramahi Nabi Musa.

“Dan aku memperingatkanmu tentang tiga hal. Pertama, jangan menyendiri dengan seorang perempuan, karena tidak menyendiri lelaki dan perempuan kecuali aku menjadi teman mereka sehingga aku akan menggoda keduanya (untuk bermaksiat). Kedua, janganlah engkau berjanji kepada Allah kecuali engkau memenuhi janji tersebut. Dan ketiga, janganlah engkau berniat untuk bersedekah kecuali engkau merealisasikan niat itu (dengan bersedekah), karena ketika seseorang berniat untuk bersedekah tetapi ia tidak merealisasikannya, maka aku menjadi temannya dan akan menghalanginya untuk bersedekah (hanya berhenti di niat).”

Setelah memberi peringatan kepada Nabi Musa tentang tiga hal tersebut, iblis pergi meninggalkannya. Lalu ia berbicara sendiri, “Sekarang Musa sudah mengetahui hal-hal yang akan ia peringatkan kepada manusia.”

Semoga kita semua dapat mengambil pelajaran dari kisah percakapan singkat Nabi Musa dengan iblis tersebut. Wallahu a’lam.