Alkisah, pada suatu ketika salah satu istri Nabi Sulaiman alaihissalam akan melahirkan anak Nabi Sulaiman As. Para setan yang mendengar kabar tersebut akhirnya berkumpul dan membincangkan tentang akan lahirnya bayi Nabi Sulaiman tersebut. Salah satu di antara para setan tersebut ada yang berkata, “jika anak Sulaiman ini hidup, maka celakalah kita. Dia menguasai kita, mari bunuh saja dia.

Akan tetapi, Nabi Sulaiman mengetahui apa yang direncanakan oleh para setan yang ingin membunuh anak Nabi Sulaiman tersebut. Akhirnya, Nabi Sulaiman langsung memerintahkan angin supaya membawa anaknya ke awan dan akan di asuh di sana. Nabi Sulaiman sangat ketakutan dengan apa yang direncanakan oleh setan-setan tersebut yaitu membunuh anaknya, sehingga dia membawanya ke atas awan dan mengasuhnya di sana.

Namun ketakutan berlebihan yang ditunjukkan oleh Nabi Sulaiman justru tidak disukai oleh Allah Swt, apalagi takut dengan para setan. Akibat dari ketakutan Nabi Sulaiman terhadap bahaya setan tersebut, Allah Swt pun menghukumnya dengan mematikan anaknya di atas kursi.

Kisah di atas sebagaimana dikemukakan oleh al-Qurthubi dalam kitabnya al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an ketika menafsirkan surah Shad ayat 34;

وَلَقَدۡ فَتَنَّا سُلَيۡمَٰنَ وَأَلۡقَيۡنَا عَلَىٰ كُرۡسِيِّهِۦ جَسَدٗا ثُمَّ أَنَابَ

Artinya; Dan sesungguhnya Kami telah menguji Sulaiman dan Kami jadikan (dia) tergeletak di atas kursinya sebagai tubuh (yang lemah karena sakit), kemudian ia bertaubat.

Quraish Shihab dalam bukunya yang berjudul Setan dalam al-Qur’an mengatakan bahwa setan adalah semua yang menentang perintah Allah Swt dan mengajak yang lainnya untuk menentangnya-Nya. Sementara mereka yang hanya membangkang kepada Allah -tanpa mengajak yang lainnya melakukan hal yang sama- tidak disebut setan.

Menurut Quraish Shihab, setan terbagi menjadi dua jenis. Pertama, setan jenis jin dan setan jenis manusia. Di mana kedua-duanya sama berbahayanya bagi manusia. keduanya menggoda manusia untuk berbuat maksiat kepada Allah Swt. Karena tidak terlihat, setan jenis jin bisa leluasa menggoda manusia. di sisi lain, setan dari jenis manusia juga tidak kalah berbahaya. Seseorang kadang tidak sadar digoda dan diperdaya setan manusia karena sehari-hari bergaul dengan setan dari jenis manusia tersebut.

Karena ketika manusia ketakutan berlebihan akibat ulah yang dibuat setan, tentu manusia bisa saja akan meminta perlindungan kepada para setan tersebut bukan kepada Allah Swt. Dan hal tersebut bisa membuat para setan tersebut merasa lebih mulia dibandingkan manusia, karena manusia saja takut kepadanya. Selain membuat para setan menjadi merasa mulia, mereka juga menjadi semakin sombong.

Dan ketika manusia sudah mulai meminta perlindungan kepada setan, tentunya manusia akan jauh dari Tuhannya. Oleh karena itulah, Allah swt menegur Nabi Sulaiman As ketika mempunyai perasaan takut yang berlebihan karena ulah para setan. Karena tidak ada yang pantas untuk ditakuti sebagai seorang hamba yang beriman kecuali Dzat yang Maha Kuasa.

Dan karena manusia lebih mulia daripada setan, maka tidak selayaknya manusia takut kepadanya. Namun cukup mengimani bahwa keberadaannya ada, supaya manusia semakin mempertebal imannya kepada sang maha pencipta. Dan membuat manusia selalu mengingat Tuhannya dan meminta perlindungan tidak selain kepada-Nya.

Seharusnya bukan manusia yang takut kepada setan, tetapi setanlah yang takut kepada manusia karena kemuliaan yang dimilikinya. Namun karena manusia terkadang lemah imannya dan merasa takut, membuat setan menjadi berani menggoda manusia. sehingga dengan membacakan doa dan dzikir, akan membuat para setan ataupun jin tidak akan mengganggu manusia. dengan seizin Allah Swt, seseorang yang mempunyai iman kuat dan mempunyai ilmu akan membuat setan menjauh dari dirinya.