Walaupun ibu adalah yang utama untuk kita muliakan, bukan berarti kita boleh durhaka kepada ayah. Ketahuilah bahwa keduanya sama-sama wajib dihormati, dan apabila durhaka kepada ayah, sama saja akan berujung pada balasan yang kejam.

Sebuah kutipan kata mutiara Arab mengatakan;

حين تتكلم عن عمق الحب، انظر لمكانة الأب في قلب ابنته
Ketika engkau hendak membicarakan tentang kedalaman cinta, lihat saja posisi ayah di hati putrinya.

Sebagaimana sebuah kisah yang dituliskan oleh Abdullah bin Muslim bin Qutaibah yang terdapat dalam  kitab ‘Uyun al-Hikayat min Qashash ash-Shalihin wa Nawadir az-Zahidin karya Ibnu al-Jauzi sebagai berikut, tentang betapa kejam siksaan yang diterima anak ketika durhaka kepada ayah.

Dalam sejarah bangsa Ajam, tersebutlah seorang Kaisar bernama Ardasyir berhasil membangun Kekaisaran Sasanian dan para penguasa daerah mengikrarkan ketundukan kepadanya. Dalam membangun dan memperkuat kekaisarannya tersebut, Kaisar Ardasyir selalu melancarkan serangan dan blokade terhadap Raja Suryani (Assyria) yang waktu itu berlindung dan bertahan di sebuah kota.

Pada awalnya, Kaisar Ardasyir tidak mampu menaklukan dan menguasai kota tersebut. Hingga pada suatu hari, putri Raja Suryani naik ke atas benteng dan melihat Kaisar Ardasyir. Ternyata sang putri jatuh hati kepada sang kaisar yang parasnya memikat hati.

Namanya kasmaran, sang putri nekat turun dan menuliskan sebuah surat untuk kaisar. Surat tersebut ia kirim menggunakan panah, yang ditembakkan ke arah Kaisar Ardasyir berada. Dalam surat tersebut sang putri menuliskan,

Jika engkau berjanji mau menikahiku. Maka aku akan menunjukkan kepadamu sebuah lokasi yang bisa engkau jadikan jalan untuk menaklukan kota dengan cara yang paling mudah dan ongkos yang paling ringan.

Setelah membaca isi surat tersebut, Kaisar Ardasyir pun mengirim surat balasan yang isinya menyetujui persyaratan tersebut. Sang kaisar pun mengirimkan surat tersebut kepada sang putri dengan cara yang sama, menembakkan anak panah.

Surat menyuratpun terus berlanjut, hingga sang putri memberitahu di mana letak lokasi paling mudah untuk menaklukan kota yang Kaisar Ardasyir inginkan. Setelah mendapat info tersebut, Kaisar Ardasyir langsung melakukan penyerbuan ke dalam kota. Sementara penduduk yang ada di dalam daerah tersebut sedang lengah, dan tidak menyadari adanya serangan tersebut. Kota yang diinginkan oleh Kaisar Ardasyir pun dengan mudah dikuasainya, lewat bantuan dari putri raja setempat. Setelah berhasil menaklukan kota tersebut, Kaisar Ardasyir menepati janjinya untuk menikahi sang putri.

Hingga pada suatu malam setelah melangsungkan pernikahan. Mereka berdua sedang bercumbu di atas ranjang, namun sang putri merasa tidak nyaman sama sekali berada di atas ranjang tersebut. Sehingga hampir sepanjang malam ia tidak bisa tidur.

Kaisar Ardasyir yang melihat hal tersebut kemudian bertanya kepadanya,”Ada apa? Sepertinya kau tidak nyaman ada di sisiku.

Aku merasa tidak nyaman saja tidur di ranjang ini.” Jawab sang putri kepada kaisar.

Mendengar jawaban tersebut, kaisar memerintahkan pengawalnya untuk memeriksa ranjangnya. Ternyata, bahan ranjang tersebut terlalu kasar bagi seorang putri yang begitu lembut tubuh dan kulitnya.

Sang kaisar pun heran dengan kulit sang putri yang sangat lembut dan tipis. Ia lalu bertanya, “Memangnya selama ini ayahmu memberimu makan apa?

Kami lebih sering diberi makan madu, otak, keju dan mentega.” Jawab sang putri kepada kaisar.

Mendengar jawaban tersebut, sang kaisar termangu sejenak lalu berkata,

Tidak ada satu orang pun yang begitu menyayangi, memuliakan dan memanjakan anaknya seperti yang dilakukan ayahmu kepadamu. Besarnya kasih sayang, perhatian dan kebaikan ayahmu kepadamu, serta besarnya hak seorang ayah atas anaknya, rupanya begitu mudah engkau balas dengan pengkhianatan. Air susu yang selama ini diberikan oleh ayahmu kepadamu, dengan mudahnya engkau balas dengan air tuba. Jika terhadap ayahmu yang begitu baik saja engkau tega melakukan hal itu, Aku yakin engkau juga akan begitu mudah melakukan hal yang sama kepadaku.

Tak lama kemudian, Kaisar Ardasyir memerintahkan supaya sang putri dieksekusi dengan cara yang amat kejam. Tubuhnya diikatkan pada kuda yang kencang larinya, hingga tubuhnya terkoyak-koyak rusak.

Dari kisah ini dapat kita ambil sebuah pelajaran. Walaupun dekap dan kasih sayang seorang ayah tidak sehangat kasih sayang seorang ibu, ayah tetaplah seorang ayah. Dia akan merasa hancur ketika buah hatinya disakiti. Seorang ayah akan selalu melindungi, menyayangi dan memuliakan anak-anaknya. Sekalipun ibu adalah yang utama untuk kita muliakan, tidak patut seorang anak membalas segala kebaikan ayah dengan keburukan dan kejelekan. Apapun itu.

Wallahu a’lam bisshawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here