Abu Jahal terkenal sebagai pembenci Rasulullah SAW nomor wahid. Berbagai teror dan ancaman dilakukan sang paman agar nabi tidak melanjutkan dakwahnya. Namun ternyata ada saat-saat ketika Abu Jahal ketakutan dengan Nabi dan memilih untuk menuruti kata-kata nabi.

Saat itu baginda Nabi berada di masjid bersama para sahabatnya, tiba-tiba seorang dari klan Zabid mengelilingi orang-orang yang berada di masjid tersebut, ia berkata, “Hei orang – orang Quraisy! Para pedagang mendatangi kalian lalu kalian berbuat zalim kepada mereka di tanah mulia kalian ini, bagaimana bisa..?” Suara lelaki itu lantang dan terus menerus menyuarakan isi hatinya hingga didengar oleh Nabi dan para sahabatnya.

“Siapa yang menzalimimu..?”. Tanya baginda Nabi.

Lelaki itu menceritakan bahwa ia datang dengan membawa tiga unta yang bagus dan mahal untuk dijual, kemudian Abu Jahal menawar dengan sepertiga harganya, sebab penawaran tersebut tidak ada lagi yang menawar untanya.

“Dia merugikan daganganku,” ucap lelaki itu.

“Di mana untamu?” tanya baginda Nabi.

“Itu, di Hazurah,” jawab lelaki itu memberi tahu tiga untanya. Baginda Nabi bergegas untuk melihat untanya.

Baginda memberi penawaran hingga terjadi kesepakatan pembelian ketiga untanya. Dua unta dijual kembali, satu unta dijual dan hasilnya Nabi berikan kepada para janda klan Abdul Muthalib.

Di samping pasar Abu jahal duduk, ia hanya melihat, tidak ada suara darinya karena takut kepada baginda Nabi.

“Hei Amru, awas saja kau ulangi seperti apa yang kau perbuat kepada lelaki ini maka kau akan melihat dariku apa yang kau tidak suka!” Ancam Nabi kepada pembesar Quraisy itu.

“Aku tidak akan mengulanginya, wahai Muhammad. Aku tidak akan mengulangi,” kata Abu Jahal ketakutan.

Ketika baginda Nabi pergi dan yang tersisa hanya Abu Jahal dan ketakutannya, Umayyah bin Khalaf bersama kawan-kawannya mendatanginya.

“Kau menghinakan diri di depan Muhammad? Kalau demikian,  mungkin kau ingin menjadi pengikutnya atau ketakutan yang merasuki dirimu,” tanya Umayyah pada Abu Jahal.

“Apa yang kau lihat tentangku memanglah nyata, aku melihat dua orang laki-laki berdiri di samping kanan-kiri Muhammad dengan menggenggam tombak, keduanya sudah siap menusuk dengan tombaknya jika aku tidak mengiyakannya.”

Kisah kedua tidak jauh berbeda. Ketika itu Abu Jahal berhutang unta kepada seorang yang bernama Irasyi. Lalu ia menunda-nunda untuk melunasi hutangnya.

“Hei orang-orang Quraisy, siapa yang bisa menolongku untuk menagih hutang kepada Abu Jahal. Aku orang asing, aku adalah musafir. Ia telah merampas Hakku,” teriak Irasyi pada orang – orang yang berada di sekitarnya.

Orang-orang kafir Quraisy memberi pentujuk agar ia meminta tolong kepada baginda Nabi Muhammad, tujuan mereka seperti itu tidak lain hanya mengejek karena mereka menganggap baginda Nabi tidak berani menghadapi Abu Jahal.

Lelaki itu langsung bergegas menemui baginda Nabi. “Hei Hamba Allah, Abu Jahal telah merampas hakku, aku seorang musafir. Aku bertanya kepada mereka, siapa yang bisa membantu diriku untuk mengambil kembali hakku, mereka memberi petunjuk agar aku mendatangimu. Maka bantulah diriku untuk mengambil hakku, semoga Allah merahmatimu,” Irasyi mengadu kepada baginda Nabi.

Akhirnya Baginda Nabi bersama Irasyi mendatangi rumah Abu Jahal. Baginda Nabi mengetuk pintu rumahnya.

“Siapa?” teriak Abu Jahal dari dalam rumah.

“Muhammad,” jawab tegas baginda Nabi.

Abu Jahal keluar menemui dengan wajah yang pucat.

“Berikan hak pemuda ini,” perintah baginda Nabi.

“Baik, tetaplah di tempatmu hingga aku memberikan haknya,” ucap paman nabi itu dan terburu-buru masuk ke dalam rumahnya. Lalu ia menyerahkan apa yang menjadi hak Irasyi.

Irasyi pun beranjak pergi hingga kembali bertemu dengan orang-orang yang memberinya petunjuk untuk menemui baginda Nabi.

“Semoga Allah membalas kebaikan Muhammad. Ia telah mengembalikan hakku dari Abu Jahal,” tutur Irasyi kepada mereka.

Mereka saat itu menunggu seorang yang mereka utus untuk menjadi mata-mata untuk mengamati apa yang terjadi saat baginda Nabi bersama Irasyi ke rumah Abu Jahal. Saat utusan mereka datang, mereka serempak bertanya, “Apa yang kau lihat?”

Utusan mereka pun menceritakan bahwa Abu Jahal ketakutan saat mengetahui yang mengetuk pintu adalah Nabi Muhammad. Mereka pun menemui Abu Jahal, menanyakan prihal ketakutannya saat bertemu dengan baginda Nabi.

“Celaka kalian! Muhammad tidak mengetuk pintu dan aku tidak mendengar suaranya kecuali aku dipenuhi dengan ketakutan. Saat aku keluar, ada seekor unta jantan di atas kepalaku. Kalau aku enggan menyerahkan haknya niscaya unta itu sudah siap menyantap kepalaku!” ujar Abu Jahal dengan ketakutan.

Hal yang serupa juga pernah dialaminya ketika ia diwasiatkan untuk merawat Anak yatim. Lalu ia memakan hartanya. Tak hanya itu ,anak yatim tersebut diusir olehnya. Anak yatim itu mendengar ejekan orang Quraisy, “Yang bisa menyelamatkanmu dari Abu Jahal hanyalah Muhammad.”

Baginda Nabi bersama anak itu menemui Abu Jahal. Paman nabi itu menjumpai hal yang sama, tombak di samping kanan dan di samping kiri Nabi yang digenggam oleh dua orang lelaki. Hanya Abu Jahal yang bisa melihat, layaknya unta yang hendak menyantapnya. (AN)

Wallahu a’lam.

 

Sumber: Sirah Annabawiyah, karya Syech sayyid Zaini Dahlan, h. 225.