3 April 2014, Mahkamah Agung menerbitkan putusan kasasi atas putusan Pengadilan Negeri Jakarta Timur. Isinya adalah vonis terhadap Walid atas tindakan permufakatan jahat, percobaan, atau pembantuan untuk melakukan tindak pidana terorisme. Mengantongi vonis berkekuatan hukum, Walid menjalani hukuman di Lapas Ciamis.

“Saya dipenjara karena kasus kepemilikan senjata api dan terkait dengan kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT),” ujar Walid.

Di lapas Ciamis, Walid berjumpa dengan terpidana berbagai kasus, termasuk beberapa teman dengan kasus serupa, terorisme. Ia sadar meski sesama mujahid, belum tentu mereka memiliki pandangan keagamaan yang sama.

“Tidak semua memiliki fikrah yang lurus, ada yang mengkafirkan sesama mujahid.”

Walid mengaku pernah mendengar seorang rekannya di lapas merencanakan sesuatu terhadap dirinya. Dengan bahasa daerah yang sebagian katanya ia pahami, intinya bahwa orang itu bisa menghabisi Walid.

“Kalau dia berani, saya lawan,” ujar Walid yang di lapas tak punya teman kelompok, sementara orang itu ada teman kelompoknya.

Selama di lapas, Walid mengikuti kegiatan mengaji Yasin saban Jumat dan upacara bendera. Tapi, kelompok yang mengkafirkan sesama mujahid itu menolak NKRI, di antara mereka ada yang bilang bahwa ikut upacara bendera itu murtad.

Walid berpikir, “Murtadnya dari mana?! Ya, terserah kalian. Saya ingin bebas. Saya tidak terikat dengan kalian. Kalau kalian berpikir seperti itu, akan sulit hidup di Indonesia.”

Di lapas, pikirannya semakin kuat untuk lebih mementingkan keluarga. Ia berpikir, sebagai kepala keluarga, jika bermasalah, nasib keluarganya menjadi tak menentu. Untuk itu, ia acapkali terlibat diskusi dengan teman di lapas yang satu fikrah.

“Saya mencari teman yang membawa manfaat untuk pribadi, keluarga, dan negeri ini.” Kesadaran itu muncul dari pikiran dia sendiri setelah merenung. Merasa mantap dengan fikrahnya, ia pun tak sungkan memberi nasihat kepada temannya yang lebih muda dari dirinya.

Menolak ISIS, Fokus Keluarga

9 April 2015, Walid bebas. Meski begitu, dia nyatanya tetap dibayang-bayangi jaringan ekstremis. Walid mengaku pernah diajak oleh teman-temannya yang sudah berbaiat ke pimpinan Islamic State in Iraq and Syria (ISIS).

Secara sadar, Walid menolak ajakan itu. “Saya baru keluar, saya tidak ingin bergabung dengan kelompok mana pun. Kita bergaul saja. Saya tidak pro sana atau pro sini. Saya mau mengurus keluarga,” ujar Walid.

Ia kembali teringat nasihat seorang syaikh dari Mesir saat hendak ke Kashmir untuk tidak berbaiat kepada kelompok tertentu. Selain itu, keluarga Walid yang beragama Islam di Ambon juga tidak melihat dirinya sebagai representasi teroris, tapi sebagai pejuang.

“Bahkan, kelompok Republik Maluku Selatan (RMS) yang ingin merdeka saja kita lawan,” tegas Walid.

Selain menolak masuk ISIS, pandangan Walid terhadap orang yang berbeda agama mengalami perubahan. Jika saat konflik Maluku Walid memandang kristen sebagai musuh, kini semuanya sudah berubah.

“Om saya beragama Kristen. Dulu kalau melihat seorang Kristen, saya merasa dia akan menyerang kita, karena (kami) musuh. Sekarang, setelah aman dan sudah bergaul, perubahan pemahaman saya sesuai kondisi.”

Untuk diketahui, keluarga Walid memang cukup beragam, selain sebagian besar beragama Islam, ada juga yang Kristen. Di Ambon kenyataan seperti ini adalah biasa. Ada adat yang namanya Peela Gandong, sebuah kearifan lokal yang juga menjadi media untuk rekonsiliasi dan keguyuban antar warga.

Sepanjang 2015, Walid beraktivitas di Ambon dan Jakarta. Pada 2016, ia dan keluarga mengontrak sebuah rumah di Jonggol, Bogor Jawa Barat, daerah penyangga ibu kota. “Saya tidak ingin seperti dulu, sumbu pendek. Padahal itu konspirasi. Untuk itu, saya hijrah ke sini,” ujar Walid.

Tekad Walid untuk fokus mengurus keluarga ia buktikan dengan berdagang. “Macam-macam yang saya jual, apa saja, asal jangan orang yang dijual, ha ha ha. Di pasar dan online juga,” ujar Walid dengan kelakar.

Istrinya pernah membuka PAUD/TK, tapi kini sudah tidak beroperasi. “Kalau ada orang yang tahu status saya sebagai mantan terpidana teroris, saya biasa saja. Justru itu pengalaman dan pelajaran hidup saya.”

Belajar dari pengalaman dirinya, Walid memberi nasihat kepada anak-anaknya untuk mengambil pelajaran dari dirinya. Ia meminta untuk berhati-hati dari apa yang diterima dari orang lain. Dalam hal agama harus difilter dan diteliti. “Begitu mendengar ayat atau hadis, terlebih dahulu kita pelajari. Bisa jadi, mereka membawa tafsiran yang salah. Sekali kita melakukan kesalahan, bisa jadi fatal untuk dunia dan akhirat kita,” ujar Walid.

Walid memberi contoh laiknya bom bunuh diri. Menurut dia, itu adalah kesalahan yang sangat fatal, tidak benar menurut Al-Quran dan sunnah. “Kita mati bisa masuk neraka. Siapa yang menjadi korban? Diri kita dan keluarga kita.”

Menapak Jihad Baru

Sebelum menjadi jihadis bersenjata, Walid mengaku haus bacaan. Dulu, dia menyukai membaca buku-buku seperti karya Abdullah Azzam, Ikhwanul Muslimin Mesir, buku tentang sejarah dan juga beberapa buku ilmiah lainnya. Sewaktu di Ambon, akses untuk mendapatkan buku memang sulit. Buku-buku itu dia peroleh, misalnya, dari keluarganya dan temannya yang baru pulang dari Makassar atau kota besar lainnya.

Telak, sejurus setelah mendapat informasi tentang berdirinya Rumah Daulat Buku (Rudalku), dengan antusias Walid bersedia bergabung. Apalagi di peguyuban literasi ini ditegaskan siap menjadi  jihadis literasi. “Dengan Rudalku menjadi perantara saya, dari jihad bil-qital, dengan berperang, menuju jihad literasi.”

Ia berpandangan, jihad tidak hanya dengan pedang, tapi bisa dengan pendidikan, buku, dan ilmu. “Rudalku sebagai sarana saya untuk bisa mengasah lagi ilmu saya dan keluarga,” ujar Walid.

Ia percaya bahwa buku bisa menentukan perilaku seseorang. Walid berpandangan, seseorang bisa menjadi baik atau menjadi buruk dari apa yang dia baca. Jika membaca buku-buku radikal, paham-paham yang sesat, maka akan mengubah seseorang yang semula baik menjadi buruk.

“Ketika membaca buku-buku yang baik, itu menjadi nutrisi untuk fikrah dia. Dari yang radikal menjadi moderat,” ujar Walid. Bagi Walid, kehidupan seseorang itu tergantung fikrahnya.

Dahulu, ia membaca Tarbiyah Jihadiyah karya Abdullah Azzam. Buku itu sangat menginspirasi dirinya untuk berjuang melawan kezaliman. “Ada janji Allah bahwa perjuangan kita tidak sia-sia. Kemudian saya berubah karena kesadaran dan lingkungan,” ujar Walid.

Menurut dia, peran bacaan itu sangat penting. Ketika berbicara kepada seseorang, belum tentu orang tersebut akan menerima nasihat atau pandangan kita.

“Tapi, ketika kita kasih buku, tanpa kita yang bicara, buku itu nasihat yang tidak bergerak,” ujar Walid. Hal itu terbukti ketika ada keluarga maupun rekannya yang fikrahnya berubah setelah diberikan buku.

Berdamai Demi Negeri

Apa yang kini bersemayam dalam benak Walid? Walid bertekad ingin mencurahkan tenaga dan pikirannya dalam memperbaiki citra Islam. Tindakan teror, demikian kata Walid, justru akan membuat citra Islam menjadi buruk di mata publik, baik di kalangan Islam sendiri atau selain Islam.

Karenanya, Walid mengajak kepada para ikhwan untuk menyadari bahwa darah saudara-saudara kita sangatlah berharga, baik saudara sesama ikhwan dan kaum muslimin, serta saudara sebangsa dan setanah air.

“Teman-teman, mari kita berpikir untuk tidak merugikan diri sendiri dan orang banyak, apalagi sampai menimbulkan korban. Kita dulu bisa jadi bersalah. Tapi tidak ada batasan bagi manusia untuk berubah.”

“Lagipula, para pendahulu kita telah berjuang mengorbankan darah dan nyawa serta hartanya itu untuk kemerdekaan Indonesia. Marilah kita berjuang untuk bisa mengisi kemerdekaan.”

Kepada pemerintah, kelompok mujahid, dan seluruh umat Islam, Walid   berpesan agar penanganan terorisme tidak saja dilakukan dengan kekuatan atau kekerasan, tapi juga dengan cara persuasif. Ia menyarankan agar pemerintah melihat latar belakang para teroris.

Baca Juga, Gagal Lanjut Sekolah, Dikepung Kerusuhan, Berkenalan dengan Ekstremis, Begini Kisah Walid Jadi Seorang Kombatan Ideologi Jihadis

“Tidak semua orang yang mengikuti sebuah kelompok itu pasti karena fikrah. Sebaliknya, bisa jadi karena faktor ekonomi. Orang yang tidak punya pekerjaan gampang disulut.”

Ibaratnya, orang yang terbiasa dengan pendapatan kurang dari 1.8 juta per-bulan dan merasa hidupnya amsyong, ketika mendapat penetrasi janji-janji surgawi ala idelogi jihadi, mereka pun seperti menemukan makna baru. Rasanya seperti terlahir kembali, laksana orang-orang yang baru hijrah dan ingin mengenal Islam lebih jauh yang celakanya kemudian berkenalan dengan salah satu perekrut mereka.

*) Artikel ini adalah kerjasama islami.co dengan Search for Common Ground