Seorang perempuan, sebut saja Fulanah, mendapat masalah besar. Ia hampir dibunuh oleh keluarganya sendiri. Ceritanya, satu hari, perhiasan yang dipakainya putus dan kemudian dimakan (ditelan) ayam.

Pihak keluarga mengira bahwa hilangnya perhiasan itu adalah tanda bahwa ia telah dinodai/diperkosa. Daripada menanggung malu ada anggota keluarga yang kehormatannya telah direnggut secara paksa, malam itu, para anggota keluarga Fulanah pun berniat akan membunuhnya. Inna lillah…

Sesaat sebelum eksekusi pembunuhan dilaksanakan, Syekh Ali bin al-Hiti lewat dengan menaiki seekor hewan tunggangan. Ia berhenti di depan seorang lelaki yang tak lain adalah saudara dari Fulanah. Kebetulan di depan lelaki ini ada seekor ayam “tersangka” pemakan emas Fulanah.

Syekh Ali berkata kepada lelaki itu, “Sembelihlah ayam ini!”

Lelaki ini pun mengerjakan apa yang diperintahkan Syekh Ali. Tak disangka setelah disembelih, ada butiran emas keluar dari perut ayam tadi.

Saudara laki-laki Fulanah itu pun menyadari bahwa emas yang dilihatnya itu adalah emas milik Fulanah. Walhasil, Walhasil, rencana membunuh Fulanah pun urung dilakukan.

Sejurus kemudian, Syekh Ali berkata, “Allah SWT telah memberiku pengetahuan atas masalah yang dihadapi Fulanah. Selain itu, Dia juga menampakkan kepadaku apa yang ada dalam hati kalian (rencana membunuh Fulanah) dan juga apa yang ada di dalam perut seekor ayam tadi”.

Syekh Ali melanjutkan ucapannya.

Ia menuturkan, “Aku memohon izin kepada Allah dan Dia mengizinkan. Yakni permintaanku agar diizinkan untuk menyampaikan apa yang aku ketahui ini kepada kalian. Tujuannya agar kalian tidak jadi berbuat kerusakan dengan membunuh Fulanah”.

***

Selain menyelesaikan perselisihan di atas, Syekh Ali bin al-Hiti juga pernah menyelesaikan konflik yang melibatkan dua penduduk desa.

Saat itu, Syekh Ali tiba di suatu lokasi dimana ada dua kelompok besar yang sudah siap untuk berperang. Di antara mereka ada seorang yang meninggal dunia (sebut saja Abdullah). Dua kubu besar itu saling menuduh satu sama lain sebagai seorang yang telah membunuh Abdullah.

Syekh Ali langsung berdiri di samping kepala Abdullah. Ia pegang ubun-ubunnya dan menanyainya, “Hai, Abdullah, siapa yang sebenarnya telah membunuhmu?”.

Aneh bin ajaib, Abdullah langsung duduk dan membuka kedua matanya. Ia lantas menghadap ke arah Syekh Ali dan mengatakan, “Yang telah membunuhku adalah Fulan bin Fulan”. Setelah itu, Abdullah pun kembali tergeletak seperti sediakala.

Kisah ini termaktub dalam kitab Khulasah al-Mafakhir karya Abdullah bin As’ad al-Yafi’i al-Syafi’i. Lewat kisah ini kita bisa belajar banyak hal. Salah satunya adalah bagaimana hendaknya sikap seorang tokoh agama atau ulama. Ia hendaknya selalu menolong dan menebarkan kedamaian di tengah umat. Bukan sebaliknya.

Mereka (ulama) jangan sampai menjadi pihak yang malah menyebarkan kebencian dan mempertajam perbedaan. Hal demikian akan berdampak tidak baik bagi keharmonisan hidup bersama di masyarakat.

Dalam kaitannya dengan pandemi Covid-19, seorang ulama hendaknya membantu pemerintah untuk senantiasa mengkampanyekan protokol kesehatan kepada semua kalangan masyarakat. Ulama harus menjadi salah satu pihak yang berada di garda terdepan dalam menghindarkan dari Covid-19. Mereka harus menolong umat, bukan malah menjerumuskannya.

Walhasil, membantu sesama adalah kewajiban kita semua, apalagi mereka yang disebut atau menyebut dirinya “ulama”. Umat memiliki kepercayaan besar kepada para ulama. Apapun yang dilakukan/dikatakan ulama akan banyak dicontoh umat. Wallahu a’lam.

 

Sumber Kisah:

al-Syafi’i, Abdullah bin As’ad al-Yafi’i. Khulasah al-Mafakhir. Beruwala: Dar al-Atsar al-Islamiyyah, 2006.