Seseorang lewat di depan suatu perkumpulan di mana Ibrahim bin Adham ada di dalamnya. Sebut saja namanya Zaid. Orang itu adalah sahabat Ibrahim. Namun, karena sedang memiliki masalah, Zaid sama sekali tidak menyapa dan mengucapkan salam kepada Ibrahim. Hal itu membuat Ibrahim bertanya-tanya, ada apa gerangan.

“Sebentar, bukankah yang lewat itu Zaid,” Ibrahim bertanya kepada orang-orang sekelilingnya.

“Iya, benar. Itu Zaid,” jawab mereka.

Sejurus kemudian, Ibrahim menyuruh salah seorang (anggap saja Umar) untuk menjemput Zaid dan menanyainya mengapa ia tidak menyapa dan mengucapkan salam kepada Ibrahim. Umar berangkat dan melaksanakan amanah Ibrahim.

Mendapat pertanyaan dari Umar, Zaid merasa bersalah dan menyesali tindakannya itu. Ia lantas menyatakan, dirinya sama sekali tak bermaksud enggan mengucapkan salam. Hal itu semata-mata adalah efek dari adanya hal yang mengganggu pikirannya. Maklum, manusiawi.

“Istriku semalam melahirkan. Namun, hingga saat ini, aku sama sekali tak memiliki uang sepeserpun,” jawab Zaid.

Umar pun balik menemui Ibrahim dan melaporkan apa yang sedang dialami Zaid. Mengetahui nasib Zaid yang fakir, Ibrahim pun merasa bersalah karena membiarkan ada salah seorang sahabatnya yang hidup kekurangan.

“Bagaimana mungkin kita bisa lupa ada seorang kawan yang kesulitan seperti dia. Kita harus membantunya mengatasi masa sulit ini,” kata Ibrahim kepada orang-orang di sekitarnya.

Ibrahim lantas menyuruh salah seorang dari mereka yang hadir untuk melakukan sesuatu. Sebut saja Fulan. Oleh Ibrahim, Fulan disuruh mendatangi seorang pemilik kebun dan meminjam (hutang) uang kepadanya. Tentu, hutang atas nama Ibrahim.

(Tidak diketahui secara pasti mengapa Ibrahim berutang. Bisa jadi karena ia tidak membawa atau memang tidak memiliki uang, pen.)

“Pinjamlah dua dinar dan semua berikan kepada Fulan!. Satu dinar dalam bentuk uang cash dan satu dinar sisanya tolong berikan dalam bentuk bahan makanan,” kata Ibrahim.

Setelah mendatangi pemilik kebun dan mendapat utangan, Fulan pergi ke pasar untuk membeli bahan makanan. Setelah itu, ia menuju rumah Zaid. Singkat cerita, karena Zaid tidak ada di rumah, maka bahan makanan dan uang itu diterima oleh istri Zaid.

“Siapa yang berinisiatif memberikan ini semua?” tanya istri Zaid sesaat sebelum Fulan undur diri.

“Ini inisiatif dari Ibrahim bin Adham. Tolong sampaikan hal ini kepada suamimu!,” jawab Zaid.

Sebagai balasan, istri Zaid pun mendoakan agar Allah tidak melupakan dan selalu membalas kebaikan yang dilakukan Ibrahim bin Adham.

Fulan pulang melapor kepada Ibrahim tentang apa saja yang ia alami di rumah Zaid. Mendengar penjelasan Fulan, Ibrahim bahagia bukan main. Bahkan, tak pernah ia terlihat sebahagia itu sebelumnya. Kebahagiaan karena bisa membantu dan mendapat doa dari yang dibantu.

Fulan pulang ke rumah dengan tetap tidak membawa barang apapun. Sedih. Namun ia mendadak kaget ketika mengetahui ada banyak bahan makanan di rumahnya. Kekagetan itu semakin lengkap manakala sang istri memberikan uang satu dinar.

“Dari siapa ini?” tanya Fulan.

Sang istri pun menceritakan semuanya. Sama seperti yang dilakukan sang istri sebelumnya, Fulan mendoakan agar Allah tidak melupakan dan selalu membalas kebaikan yang dilakukan Ibrahim bin Adham.

Kisah ini penulis baca dari kitab ‘Uyun al-Hikayat. Lewat kisah ini kita termotivasi untuk selalu membantu orang lain yang sedang membutuhkan. Tentu, bantuan ini disesuaikan dengan kapasitas kita.

Jika memang tetap tidak bisa membantu, maka satu-satu caran adalah dengan tidak membuat orang lain celaka dan sedih. Para bijak bestari berkata, “Jika tak mampu memberi, maka jangan meminta. Jika tak mampu membahagiakan, maka jangan sampai menciptakan kesedihan”. Wallahu a’lam.

 

Sumber Kisah:

Ibn al-Jauzî, Jamâluddîn Abi al-Farj bin. ’Uyûn al-Hikâyat. Beirut: Dâr al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2019.