Kelaziman baru (New Normal) sudah mulai digembar-gemborkan. Entah ini hasil pengujian saintifik atau sebatas ikut-ikutan tren beberapa negara di Eropa yang sudah mulai menerapkan kelaziman baru. Di sana, kelaziman baru ditandai dengan dibukanya pertokoan, fasilitas umum dan digelarnya laga-laga sepak bola. Namun yang menjadi kening kembali mengkerut saat melihat gagasan kelaziman baru untuk Indonesia adalah fakta beberapa hari terakhir (9 dan 10 Juni), yang mana jumlah peningkatan pasien corona harian di Indonesia memecahkan rekor baru, yakni lebih dari 1000 kasus positif per hari.

Senyum getir seraya mekar “Apa ini yang dimaksud normal baru, biasanya pertumbuhan normal pasien covid-19 itu ratusan, sekarang jadi ribuan?”

Epidemiolog UI, Pandu Riono, menyatakan bahwa kasus hari ini adalah hasil dari momentum dua minggu yang lalu. Kita tentu masih ingat dua minggu lalu adalah masa Idul Fitri. Pada saat Idul Fitri ada beberapa orang yang nekat mudik dan melakukan arus balik, sehingga itu yang menjadikan Jakarta dan Jawa Timur mengalami lonjakan yang signifikan, pungkas Pandu Riono.

Padahal saat Idul Fitri kemarin, kondisi Jakarta dan Jawa Timur masih dalam status PSBB. Lalu apa yang akan terjadi dua minggu lagi ketika Jakarta mulai melakukan pelonggaran dan pemerintah daerah Surabaya, Gresik dan Sidoarjo sepakat menghentikan PSBB?

Kita semua capek. Para pemangku kebijakan tentu mumet melihat apa yang terjadi di negeri ini. Urusan kesehatan belum tuntas tapi desakan dari berbagai sektor sudah berdatangan. Masyarakat pun sama, mumet karena kalau keluar beresiko, tidak keluar juga beresiko tidak ada penghasilan. Belum lagi rasa jenuh yang sudah di ubun-ubun. Kita semua tak ingin berlama-lama terkurung dalam kondisi ini. Namun realitanya kontras, angka statistik belum memberikan sinyal positif.

Apalagi corona di negeri ini makin seru dengan bumbu drama yang dihadirkan. Mulai dari gegabahnya DPR membahas UU Minerba, Pejabat Publik yang bicaranya sering blunder, pasar yang ramai tanpa mematuhi protokol sampai penolakan rapid test karena enggan isolasi jika hasilnya reaktif. Tentu bumbu ini membuat kepala makin puyeng. Padahal dalam menghadapi pandemi seperti ini, jalan pertama yang perlu dihadirkan adalah sinergi. Tidak bisa masing-masing elemen bangsa ini berjalan sendiri-sendiri.

Kita perlu memulai mengingatkan diri sendiri untuk berperilaku tertib. Karena kalau kita tidak segera bersinergi, saya khawatir sampai hari raya Idul Adha nanti, kita masih akan berkutat dengan kemumetan ini.

Perkembangan 3 bulan ini sungguh telah menunjukan kepada kita bahwa sebenarnya kita belum banyak berubah karena kita tidak pernah sinergi. Kerja-kerja yang dilakukan masih parsial dan membuat hasilnya tidak efektif dan efisien. Kita belum melakukan hal baru, kok sudah diajak menerapkan kelaziman baru? Bahkan ada beberapa masyarakat yang salah tangkap maksud kelaziman baru, dianggapnya masa kelaziman baru adalah masa yang sudah lazim/sudah normal seperti sebelum pandemi.

Saya ingin sedikit mengandaikan kelaziman baru yang digembar-gemborkan pemerintah dengan contoh yang saya kira lebih sederhana agar lebih mudah di pahami.

Sebenarnya kelaziman baru bukanlah “hal baru” untuk kita. Kita sering berjumpa dan juga mengalami, ini hanya persoalan istilah yang baru digunakan saja. Kelaziman baru adalah suatu kondisi “baru” yang harus kita normalisasi untuk menggeser cara hidup lama yang ternyata membawa keburukan. Contoh paling mudah adalah saat kita sakit, taruhlah sakit tenggorokan. Sebelum kita sakit, kita makan apa saja. Mulai dari nasi padang sampai es teh. Kita juga enak-enak saja makan gorengan dicampur taburan cabe bubuk. Eh ndilalah tenggorokan kita sakit, bahkan untuk menelan ludah saja sakit. Akhirnya kita datang ke dokter THT untuk memeriksa kondisi tenggorokan.

Selepas dari dokter, ternyata kita divonis radang tenggorokan akut. Dokter memberikan obat radang dan antibakteri yang harus diminum rutin. Selain itu untuk sementara waktu kita perlu menghindari makanan yang digoreng, pedas dan dingin. Mulailah kita minum obat radang satu per satu dan hanya makan makanan yang dikukus atau dibakar. Beberapa hari kemudian kondisi tenggorokan kita mulai membaik. Pesan dokter saat berobat, selepas obat habis lebih baik jangan makan yang digoreng, pedas dan dingin terlebih dahulu selama 1 minggu. Tenggorokan perlu stabil dulu sampai kondisi benar-benar terkendali.

Dari secuplik kisah sakit tenggorokan ini, mana kira-kira fase kelaziman baru? Ya, letaknya saat kita sudah sembuh dan telah rampung minum obat tetapi tetap menghindari makan makanan yang berisiko selama 1 minggu.

Jadi, kelaziman baru syaratnya adalah kondisi tenggorokan kita sudah terkendali dan kita sudah melewati masa treatment. Ini setali tiga uang dengan apa yang disyaratkan WHO dalam kelaziman baru untuk pandemi corona. Kalau sakit tenggorokan, kelaziman baru dimulai dengan kondisi tenggorokan yang sudah membaik dan obat juga sudah habis, sementara untuk pandemi corona setidaknya ada 3 hal yang harus dicapai sebelum memulai kelaziman baru; pertama, penularan bisa dikendalikan. Nilai penularan yang diizinkan adalah satu orang menularkan hanya ke satu orang, lebih rendah lebih baik. Kedua, jumlah perlengkapan medis sanggup menerima kalau sewaktu-waktu ada lonjakan pasien positif lagi. Ketiga, pengujian masal dan masif.

Nah, pertanyaan Indonesia saat ini; Apakah selama ini kita sudah minum obat dan tidak makan makanan yang digoreng, pedas dan dingin untuk menurunkan gejala radang? Alias apakah selama ini kita sudah berusaha menurunkan angka penularan menjadi satu orang hanya boleh menularkan ke satu orang lain? Apakah bangsa ini sudah menyiapkan pelayanan kesehatan darurat yang bisa menampung peningkatan pasien secara mendadak? Dan apakah kita sudah melakukan tes massal?

Kalau kita bebal tetap makan gorengan meskipun obat telah habis. Ya sejatinya kita belum bisa dibilang benar-benar masuk dalam fase kelaziman baru. Karena syarat-syarat pengobatan itu harus dilakukan dengan tuntas kesemuannya terlebih dulu. Apalagi selama ini kita tidak pernah minum obat dan malah nantang minum es campur bubuk cabe. Ya itu namanya cari masalah. Sampai lebaran haji juga kita akan tetap “radang.”

Sehingga, kita tidak usah lah buru-buru bergembira dan selebrasi dengan kondisi kelaziman baru yang dipromosikan itu. Pada prinsipnya kita tetap harus menjaga. Kita harus tetap jaga jarak, memakai masker dan sering cuci tangan. Kalau tidak ada sesuatu yang mendesak ya lebih baik tidak keluar rumah. Sebagai umat muslim kita kuatkan saja ukhuwah basyariyah kita. Ketika kita melihat ada tetangga yang melarat, ya kita bantu meskipun masa zakat fitrah telah lewat. Tidak perlu menunggu sampai ada orang yang meminta. Mari menjadi jeli, jeli menjaga kesehatan dan jeli menjaga kesejahteraan lingkungan kita.

Wallahu A’lam bisshawab.