Seorang mantan anggota kelompok ekstrem, sebut saja Abu Hafsoh, mengatakan bahwa penjara bukanlah sebenar-benarnya pemberi efek jera. Di dalam penjara, doktrin dan ideologi ekstrem justru berpeluang subur untuk menjadikan para kombatan semakin teguh dengan jalan ninja yang mereka tempuh. Lewat titik rangsang yang ciamik, yaitu narasi umat Islam ditindas, kebrutalan bagi mereka bukan lagi sebuah ironi, tetapi perjuangan membela Tuhan yang telah digariskan.

Tentu saja, itu bukan secara absolut menjadi kesalahan aparat atau sipir. Sebaliknya, pertemuan sesama kombatan atau anggota kelompok ekstrem di dalam sel merupakan kemungkinan yang paling logis untuk mereka bernostalgia dan menciptakan angan-angan yang tampak adiluhung cum heroik.

Sehubungan dengan angan-angan, dalam sebuah seminar yang ditayangkan channel Youtube Jakartanicus, Ariel Heryanto (2018) mensinyalir betapa sebuah angan-angan bisa mendorong orang untuk meliyankan subjek lain yang dianggap sebagai kurang asli atau kurang murni.

Demikian halnya dengan angan-angan tentang Islam. Ada angan-angan tentang yang murni Islam, dan sebaliknya, mereka yang (dianggap) tidak murni Islam. Pada derajat tertentu, ini memungkinkan adanya upaya penegasian atau, lebih jauh, upaya sewenang-wenang terhadap kelompok subordinat oleh mereka yang berkuasa atau menjadi kelompok dominan.

Memang, terhadap pertanyaan “sebetulnya apa sih agama seorang teroris”, kita bisa beda pendapat. Yang jelas, seorang teroris pastilah punya angan-angan tentang yang asli dan yang murni. Biasanya, angan-angan itu bermuara pada sebuah konsep yang dinamakan “Negara Islam”.

Lebih dari itu, tentang klaim “berdasarkan syariat”, amar ma’ruf nahi munkar, “jihad”, dan segudang interpretasi banal lainnya, semuanya hanyalah infrastruktur penunjang angan-angan tentang yang asli dan yang murni itu tadi. Itulah kenapa, bahasan para pendakwah karbitan atau sejumlah ustaz mualaf lain yang gemar bikin kegaduhan biasanya tidak jauh-jauh dari angan-angan identitas Islam yang murni atau yang asli.

Tentu saja, mereka tidak bisa dengan serta-merta disebut sebagai kelompok ekstrem. Menyamakan para teroris dengan agen-agen kebencian yang sembunyi di balik popularitas dan pasal-pasal demokrasi adalah kelewat dangkal.

Hanya saja, perlu dipahami bahwa keduanya terkadang beraliansi di atas altar gagasan pemurnian Islam. Bedanya, kalau para teroris mendapat matrikulasi tentang bagaimana merakit senjata api (tentu saja secara ilegal), sedangkan tidak demikian untuk para agen kebencian yang sembunyi di balik jubah Islam.

Dalam pengakuan Abu Hafsoh, ada beberapa doktrin krusial yang membiak di dalam sel sewaktu dirinya berada di penjara bersama salah satu dedengkot ISIS lokal, Aman Abdurrahman.

Yang paling mayshur adalah tentang paham takfiri. Ya, dengan mengkafirkan orang lain, mereka menjadi punya alasan yang (seolah) legal untuk menumpahkan darah, melancarkan serangan bom, menembak polisi, atau mentarget umat non-Muslim.

Malahan, paham takfiri ini juga memungkinkan sebuah aksi pencurian (umumnya dilakukan oleh akhwat) yang dianggap sebagai perjuangan. Ini berkaitan dengan doktrin bahwa harta setiap musuh mereka adalah selayaknya dijarah.

Lalu, doktrin yang juga bergerilnya di balik sel tahanan adalah ajakan untuk “tidak mau menjawab salam”. Jadi, demikian Abu Hafsoh, kalau ada orang yang menyampaikan salam, maka bawaannya sudah curiga, jangan-jangan aqidahnya melenceng, dan lain sebagainya.

Bahkan, para kombatan itu diharamkan untuk melaksanakan shalat di masjid penjara. Kenapa? Bagi mereka, masjid di penjara harusnya layak dibakar. Sebabnya, di dalam masjid itulah diajarkan Pancasila. Sementara itu, Pancasila telah dianggap sebagai pemecah belah umat.

Lebih dari itu, mereka sangatlah tertutup dan meyakini bahwa merekalah yang paling benar. Pokoknya, semua aktivitas yang berkaitan dengan penjejalan doktrin—umumnya lewat pengajian—itu bersifat tertutup dan eksklusif. Kemudian dari situ terhujam kesadaran bahwa orang-orang di luar mereka adalah salah. Karena salah, berarti halal darahnya untuk ditumpahkan.

Di atas itu semua, narasi yang berkembang di antara para kombatan adalah laku kezaliman non-Muslim, dan oleh karena itu umat Islam sedang mengalami penindasan di negeri yang mayoritas Islam. Terdengar familiar bukan?

Ya. Perlu diingat, mereka itu sangatlah solid. Di saat yang sama, keterikatan mereka terbangun untuk sebuah misi yang sangat abstrak: angan-angan tentang Islam yang murni. Itulah kenapa sewaktu melancarkan aksi yang mereka sebut sebagai “jihad”, tidak perlu berpikir dua kali kendati untuk sebuah misi meledakkan diri. Mengapa?

Sederhana saja, mereka sedang marah. Dan, kemarahan itu semakin meledak-ledak lewat narasi umat Islam dizalimi, umat Islam ditindas, dan umat Islam di-bla-bla-bla itu tadi.

Di aras kesadaran inilah, mereka sebetulnya melakukan keonaran bukan untuk jihad suci, tetapi sebatas upaya menyalurkan hasrat kemarahan, atau dendam, atau kesumat, atau geram, atau sakit hati, atau gregetan, atau jengkel karena merasa bahwa umat Islam telah ditindas dan dizalimi.

Ah, saya kok jadi teringat petuah Cersei Lannister dalam serial Game of Throne sewaktu, ekhm, melakukan tindakan tajam-terukur kepada salah satu anggota the faith militant yang berlagak membela agama.

Kira-kira begini: apa yang mereka sangka sebagai upaya membela Tuhan dengan merampok, mempermalukan orang lain, dan menghukum secara sepihak orang-orang yang mereka kira sebagai pendosa, semuanya bukanlah bentuk pengabdian kepada Tuhan. Sebaliknya, itu semua dilakukan karena mereka memang senang melakukannya. It’s about pleasure and desire. You are not truly serve your God!!

 

* Sepotong fragmen dari pengakuan Abu Hafsoh itu saya dapat sewaktu mengikuti short course bersama Aliansi Indonesia Damai (AIDA), 15-17 Desember 2020.